Ndeso dan norak itu adalah saat kamu berdiri pagi-pagi dalam suhu 6 derajad, lalu kamu menghembus-hembuskan nafasmu melalui mulut dan kegirangan saat asap putih berkepul muncul dari mulutmu. Mirip seperti pelatih atau pemain bola luar negeri saat kamu nonton tipi dulu banget, saat nonton dunia dalam berita. Lebih ndeso lagi saat kamu asyik berhembus-hembus begitu, ada suara di belakangmu, “its freezing, i know. And i believe you have brushed your teeth”. Seorang mamah-mamah muda tersenyum manis sementara anaknya yang mau ikutan junior assembly memandangmu dengan pandangan aneh. Lhuk, onok seng meratekno tibake. Ndeso tenan.. *notetoself *eh, aku wes sikatan durung … Lanjutkan membaca

Awal bekerja di sini, saya merasakan betul apa yang namanya “ndak dianggep”. Padahal, sudah berdiri di tengah jalan, pake baju dan jaket glow in the dark, dan manis pula. Kurang apa lagi? Badan saya juga cukup besar (cukup lo yah. Jadi, tolong yah, yang bilang saya gemuk. Saya tuh ndak gemuk. Saya tuh curvie. Atau shapping..). Tapi ya gitu, para mamah-mamah muda ayu melaju dengan lambe mecucu, papah-papah muda ganteng nyetirnya spanneng. Boro-boro say hello ke saya, ngelirik pun nggak. Pernah saya buktikan saat ada orangtua mokong yang tetap ngebut walau sudah saya stop, karena itu hanya untuk staf. Plat … Lanjutkan membaca

Pipis Profiler Tantangan terbesar dari pekerjaan tukang parkir ini adalah, selain bangun pagi, menahan pipis. Ini sekolah perempuan, toilet lebih banyak untuk cewek. Utk staf tetap adanya di dalam. Ribet. Jauh juga dari tempat saya berdiri tiap pagi. Jadi ritual saya biasanya sebelum berangkat adalah pipis. Pagi ini saya melewatkan ritual itu. 10 menit pertama, rasa ingin pipis itu muncul. Suhu 8 derajad, gerimis dan berkabut tebal. Bikin saya jadi wong samar. Untung pake jaket glow in the dark. Saya jadi glowing. Hasrat ingin pipis itu kian menjadi. Meninggi. Saya gelisah tak karuan. Jalan di tempat. Sampai ibu itu datang. … Lanjutkan membaca

Saya pemula kalau soal jurnal-jurnalan. Maklumlah, otak ya pas-pasan, bahasa inggris ya pas-pasan, muka ya pas. Pas manis. Jadi ya membaca catatan dari tiga reviewer ini, seperti membaca surat cinta. Membaca catatan reviewer ini seperti naik roller coaster. Awalnya dipuji setinggi langit, sak paragraf tok. Setelah itu 10 paragraf-nya isinya menghantam, menghajar, nguyel-nguyel, umek-umek, injek-injek sampe dedel duel. Sampek matek. Paragraf terakhir baru di-pukpuk. “Tapi setelah kamu revisi, bakal bagus dan jadi tanbahan pengetahuan buat pembaca jurnal ini” Mirip kayak orang bilang ke saya,”kamu itu ganteng sak endonesa raya” Lalu disambung, “tapi kudu operasi plastik ping 10, face off ping … Lanjutkan membaca

Pagi-pagi, habis dari kamar mandi, dapet email dari reviewer yang dinanti. Cukup menyenangkan hati. Diterima tapi pake revisi. Banyak sekali. Salah satunya, kurang penekanan pada aspek psikologi. Iki koyok wes mari ngising, terus mules maneh, dikongkon ngising maneh tapi gayane ganti, sikil diangkat siji. Ya disyukuri. Wong diterima. *macak serius maneh *coba ngising sambil angkat sikil siji *first year, first journal *one year, one journal View on Path Lanjutkan membaca

Makan dan Membaca Ini persoalan genetika. Dua putri saya ini tampaknya mewarisi hobi yang sama. Membaca sambil makan. Saya dan kakak-kakak saya melakukan itu sejak kecil. Jadi, meja makan di rumah di Bali selalu dipenuhi koran, majalah, atau novel atau komik. Ibu saya selalu ngomel-ngomel jika melihat meja makannya dipenuhi majalah. Menutupi masakannya yang selalu lezat itu. (Yang tentu sudah tandas). Kini, juga sama. Bahkan Diva juga sudah memulai, walau tak benar membaca. Maka, saya pun tak bisa mengomel kalau meja makan dipenuhi komik dan novel punya Echa. Karena kalau ngomel, istri saya langsung nyemprot, “hayoo..itu niru siapaaa..” Waktu di … Lanjutkan membaca

Makan Siang dan Olahraga Ini tas makan siang saya. Dan tempat minum berisi teh hijau. Kabarnya saya mencanangkan hidup sehat. Sudahlah, percaya sama saya. Tadi sore, saya berjalan ke arah parkir mobil. Cukup jauh. Sekitar 2 km kayaknya. Saya ndak pernah ngukur jalan. Kurang gawean tha? Apalagi saya sengaja cari parkir yang gratis. Jadi di ujung bener. Di tengah jalan, saya mendadak ingat tadi meninggalkan tas makan siang ini di kantor. Dan masih ada buah yang ingin saya makan di dalam tas itu. Baliklah saya kembali. Ketemu yang lain lagi, “satrya, you are coming back? Whats wrong?” “My lunch bag….” … Lanjutkan membaca

Gila Tanya Ala Mahasiswa (2): Cinta, Cita-Cita dan beasiswa

Saya lupa kalau ada sambungannya. Berminggu-minggu nongkrong di folder draft. Seperti nasib thesis saya. Judulnya draft melulu. Nah, kalau sebelumnya pertanyaan-pertanyaan tak terduga muncul dari mahasiswa saya soal kuliah dan sekitarnya, kini soal yang lebih luas. Soal cita-cita, cinta dan beasiswa. Iya, dosen juga sering ditanya soal itu. Jadi tempat curhat juga. Menyenangkan sih, punya banyak cerita dan referensi. Ndka hanya little John melulu. Mungkin suatu saat nanti, dosen juga akan ditanya nomer togel. Siapa tahu ada dosen nyambi bandar togel. Kalau bandar proyek mah banyak. Suatu waktu, saat kisruh pengumpulan skripsi, seorang mahasiswa sempat bertanya hal yang tak saya … Lanjutkan membaca Gila Tanya Ala Mahasiswa (2): Cinta, Cita-Cita dan beasiswa