Bali. Menari.

Sebagai orang Bali, saya mungkin termasuk anomali. Dulu, awal datang di Surabaya, setiap memperkenalkan diri (yang orang selalu meributkan nama saya yang panjang sekali), saya selalu ditanya pertanyaan standar untuk menandai bahwa saya orang Bali.

“Apakah kamu bisa menari?”
“Apakah kamu bisa bikin patung?”
“Apakah kamu bisa berenang?”

Semua pertanyaan itu saya jawab “tidak”. Belum lagi, penanda-penanda lain menurut versi teman saya adalah “ciri” orang Bali, seperti:badan kempol, bertato, rambut gondrong, pintar main gamelan. Wah, celaka tiga belas. Saya tak punya semua ciri itu.

Iya, saya tidak bisa berenang walau tinggal di daerah pantai. Saya tidak bisa bikin patung walau di Bali banyak patung. Saya tidak kempol, saya one pack, saya tak bertato, sekalinya punya tato temporer, gambarnya voltus 5. Tapi, saya suka babi guling, saya suka mendengar gamelan, saya suka nonton drama gong, saya suka lawar. Termasuk saya punya istri yang jago menari.

Saya bukan penari. Saya belum pernah menari. Pengalaman menari saya cuman dua. Pertama, sewaktu acara commnite, kami dipaksa berjingkrakan mengikuti lagunya justin timberlake. Pengalaman yang cukup menyesakkan dada…..orang yang melihatnya. Coba lihat di sini; https://youtu.be/vs4i_EkZTYw

Lalu, pengalaman kedua ini, menari di negeri orang. Menari kecak. Iya, ini pengalaman pertama saya menari Bali. Barangkali tak cukup dahsyat bagi orang yang sudah pintar menari, tapi bagi saya ini pengalaman dahsyat. Ternyata, meneriakkan cak cak itu selama 20 menit cukup melelahkan. Untung tak kepleset meneriakkan cuk cuk..

View on Path