Parkir sekolah ini seperti showroom mobil mewah. Hampir semua mobil orangtua dan staf berasal dari pabrikan wah. Hampir. Mungkin hanya satu mobil yang tidak wah. Mobil yang kalau buka kaca harus diputar manual, kalau ngunci harus satu persatu, mambu bahan pel dan pembersih kaca, dan kalau ngidupin AC keluarnya angin cepoi. Ya, mobil saya. Mobil yang baru lunas setelah hutang teman yang baik hati. Mobil perang yang lengkap isinya mulai alat klining, megaphone dan rompi lalu lintas sampai perangkat pengantar pizza. Jauhlah dibanding mobil mamah-mamah muda tanpa alis mata yang selalu mecucu dan selalu bawa asu lucu itu, yang mobilnya bisa mati sendiri dan ngunci sendiri padahal yang nyopir sudah keluar mobil. Cukup cuit..cuit.

Tapi, pagi ini saya bangga dengan mobil saya itu. Setidaknya reting-nya berfungsi (sek, reting iku sakjana bahasa endonesa-ne opo seh). Jadi orang tahu saya belok kanan apa kiri. Pagi ini parkiran sangat kacau. Lebih kacau dari siang hari saat deadline skripsi anak komunikasi. Mobil-mobil mewah itu belok kiri dan kanan untuk parkir tanpa kasih sein sama sekali. Dipikir mobil belakang mereka itu isinya cenayang semua yang tahu kalau mobil depannya akan belok.

Mereka parkir seperti orang kentut saat kumkum di kolam renang. Ndak ada omongan ndak ada pengumuman, moro-moro makbrul terus blukutuk..blukutuk muncul gelembung gas beracun.

Jadi, hikmahnya: jangan kentut di kolam renang kalau ndak kasih sein.

*sek, berarti aku tahu ngentut ndik kolam renang?

View on Path