Selama karir saya jadi buruh pengajar, saya seringkali mendapat pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Bukan, bukan soal kenapa saya manis. Bukan juga soal duluan mana, telor apa ayam. Banyak hal. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tak bisa saya jawab. Bukan, bukan sejenis pertanyaan apakah Tuhan punya email atau sejenisnya. Kadang pertanyaanya lugu dan polos, tapi saya menduga itu pertanyaan retoris, sehingga tak perlu saya jawab. Misalkan kalau berkaitan soal kuliah, tugas dan ujian. Tentu tiga hal itu sering memancing mahasiswa bertanya. Saya rangkum beberapa pertanyaan yang definisi absurd-pun tak cocok dilekatkan pada pertanyaan itu.

Sebelum kuliah, biasanya ada hal-hal yang perlu dilakukan. Ini pernah saya tulis di sini..https://satryawibawa.com/2015/08/12/masa-mengisi-krs-tiba-masa-dosen-pusing-kepala/

Namun, tetap saja muncul pertanyaan. Misalnya, “Mas, mata kuliah teori Komunikasi saya dapet E, perlu saya ulang ndak mas?”. Ini mau saya jawab apa ya? Lebih ekstrim lagi, :Mas, mata kuliah dasjur, ndak ditawarkan semester ini, padahal saya mau ambil mas, gimana dong?”. Sudah tahu ndak ditawarkan, terus gimana? Koprol aja. Yang paling bikin saya nelongso itu adalah kalau mahasiswa datang dengan isian kuliah masih kosong dengan mata berbinar bertanya, “Mas, saya ambil mata kuliah apa ya semester ini?”. Lah, yang kuliah situ apa saya? *lempar poni, balik badan.

Saat kuliah, saya biasanya membagi panduan kuliah selama satu semester, lengkap dengan aturan, jadwal ujiannya kapan, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, persentase penilaian, malah deadline tugas, dan daftar buku yang diperlukan. Harapan saya, panduan itu akan mengurangi pertanyaan dari mahasiswa. Tapi ternyata Tuhan memberikan cobaan yang lebih berat. Tetap saja ada yang bertanya, “Mas, ini deadline tugas kan 24 maret, apa saya boleh ngumpulin 25 maret?”. Saya cuman bisa senyum pahit sambil membayangkan ada bola bekel segede gaban jatuh dari langit. Tapi ada juga yang lebih rumit pertanyaanya, soal buku referensi.

“Mas ini semua buku wajib, Saya harus ada buku itu ya mas?”

“namanya wajib ya, anda semua wajib membaca buku itu?”

“Harus beli ya mas?”

Saya mulai gregetan. Saya jawab, “Ya, saya ndak bilang harus beli. Buku itu akan dipakai sebagai pegangan utama dalam kuliah”

Dia terdiam sejenak. Berpikir. Saya berharap persoalan selesai. Tapi tidak, dia bertanya lagi, “Saya boleh pinjam bukunya Mas Igak?”

 

Saya terdiam. Dalam hati, “Lha, mbok pikir aku nyikat WC tha semester ini? Aku yo butuh buku iku rek”. Herannya, saya hanya bisa menjawab, “kalau tidak ketemu di perpustakaan atau e-book-nya, saya akan pinjamkan”. Baik toh saya? Kebacut tenan. Lhandalah, si mahasiswa malah ngelunjak, “Asyiikk…besok ya mas bawakan bukunya. Saya di kampus jam 10”. Sik..sik…ada yang salah ini. Lalu, setelah proses absurd itu, alkisah, sang mahasiswa itu membawa buku saya berbulan-bulan tanpa dikembalikan. Nah, siapa bilang cobaan dosen kejam? Sekejam-kejamnya dosen, lebih kejam mahasiswa ngelunjak!

Lalu ada lagi, “Mas ini daftar bacaan wajib mata kuliah ini harus diapakan?” (jawaban: a.diucek, b.dipotong kecil-kecil lalu dicampur keju, c. a dan b salah)

Atau, “Mas, kalau maksimum absen30 % itu 4 kali ndak masuk, lalu kalau saya ndak masuk 5 kali gimana mas?” (Alternatif jawaban: A. Dirajam, B. Digunduli. C. Disuruh pipis sambil kayang)

Atau, saat ada instruksi tugas desain warna dikumpulkan dalam bentuk softcopy dan print-copy, muncul pertanyaan, “Mas, tugasnya dikumpulkan dalam bentuk print out? Boleh hitam putih?” Lah? Terus aku mbok suruh nebak yang mana warna kuning atau merah gitu? Atau dikasi keterangan, bagian A warnanya merah, B warna magenta.

Kalau sudah mau ujian, biasanya pertanyaan-pertanyaannya lebih radikal.

“Mas, ujian-nya boleh bawa buku?”

“Lho, kan open book?”

“Tapi boleh bawa buku kan mas?”

Terus aku jawab apa? Tapi ya…tetep tak jawab…

“Ya sudah boleh bawa buku” (sambil menghela nafas panjang dan dalam)

“lalu saya bawa buku apa, Mas?”

 

Saya terdiam. Siapa dulu yang bikin meme bahwa cobaan Tuhan tak seberat cobaan dosen ke mahasiswanya? Arep tak sawat buku!

 

Perth, 18 Mei 2016