Bali. Menari. Sebagai orang Bali, saya mungkin termasuk anomali. Dulu, awal datang di Surabaya, setiap memperkenalkan diri (yang orang selalu meributkan nama saya yang panjang sekali), saya selalu ditanya pertanyaan standar untuk menandai bahwa saya orang Bali. “Apakah kamu bisa menari?” “Apakah kamu bisa bikin patung?” “Apakah kamu bisa berenang?” Semua pertanyaan itu saya jawab “tidak”. Belum lagi, penanda-penanda lain menurut versi teman saya adalah “ciri” orang Bali, seperti:badan kempol, bertato, rambut gondrong, pintar main gamelan. Wah, celaka tiga belas. Saya tak punya semua ciri itu. Iya, saya tidak bisa berenang walau tinggal di daerah pantai. Saya tidak bisa bikin … Lanjutkan membaca

Basa-basi pagi itu penting untuk aktivitas yang bertemu banyak orang. Orang yang sama. Setiap pagi. Yang paling sederhana, tentu menyapa selamat pagi atau kadang “how are you going?”. Tentu dijawab dengan jawaban standar. Apalagi areal saya yang pagi berdampingan dengan area sepeda dan lapangan tempat orang-orang membawa asu. Lucu. Asunya, bukan orangnya. Tapi karena hampir tiap hari bertemu, apalagi mereka punya rutinitas, maka kadang sapaan bisa lebih akrab. Level ini adalah berkomentar soal cuaca. Nah, soal cuaca ini kadang sulit ketemu sepakatnya. Saya orang tropis, yang biasa dengan minimal 34 derajad. Apalagi darjo. Wah, ndak perlu punya pemanas air, air … Lanjutkan membaca

Sebagai orang yang tak suci dan sempurna (walau manis), bekerja sebagai penegak aturan ….parkir, sebetulnya agak dilematis. Kadang saya mencoba memahami posisi orangtua yang “terpaksa” melanggar aturan. Misalnya mengantar anak mereka pada area bukan untuk murid. Karena itu, kadang saya bersikap agak lunak. Apalagi aturan dasar pekerjaan ini adalah “dont argue with the parents and give a trust”. Susah kan? Apalagi utk orang yang emosional dan reaktif (walau manis) kayak saya. Kadang sudah ada tanda jelas begini, tetap dilanggar. “That sign is unclear..” Kata satu bapak yang pakaiannya rapi, berdasi, mobilnya mercy, saat dia saya stop, sambil menunjuk tanda bertulis … Lanjutkan membaca

Parkir sekolah ini seperti showroom mobil mewah. Hampir semua mobil orangtua dan staf berasal dari pabrikan wah. Hampir. Mungkin hanya satu mobil yang tidak wah. Mobil yang kalau buka kaca harus diputar manual, kalau ngunci harus satu persatu, mambu bahan pel dan pembersih kaca, dan kalau ngidupin AC keluarnya angin cepoi. Ya, mobil saya. Mobil yang baru lunas setelah hutang teman yang baik hati. Mobil perang yang lengkap isinya mulai alat klining, megaphone dan rompi lalu lintas sampai perangkat pengantar pizza. Jauhlah dibanding mobil mamah-mamah muda tanpa alis mata yang selalu mecucu dan selalu bawa asu lucu itu, yang mobilnya … Lanjutkan membaca

Gila Tanya ala Mahasiswa: Kuliah, Tugas, Ujian (1)

  Selama karir saya jadi buruh pengajar, saya seringkali mendapat pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa. Bukan, bukan soal kenapa saya manis. Bukan juga soal duluan mana, telor apa ayam. Banyak hal. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tak bisa saya jawab. Bukan, bukan sejenis pertanyaan apakah Tuhan punya email atau sejenisnya. Kadang pertanyaanya lugu dan polos, tapi saya menduga itu pertanyaan retoris, sehingga tak perlu saya jawab. Misalkan kalau berkaitan soal kuliah, tugas dan ujian. Tentu tiga hal itu sering memancing mahasiswa bertanya. Saya rangkum beberapa pertanyaan yang definisi absurd-pun tak cocok dilekatkan pada pertanyaan itu. Sebelum kuliah, biasanya ada hal-hal yang perlu dilakukan. Ini … Lanjutkan membaca Gila Tanya ala Mahasiswa: Kuliah, Tugas, Ujian (1)

Pagi yang cerah. Hampir semua mamah-mamah muda yang mengantar anaknya tersenyum kepada saya. Cukup mengagetkan. Tak seperti biasanya. Bahkan para papah-papah muda dan embah-embah tua (ya iyalah) yang biasa muka datar juga tersenyum pada saya. Dan…mamah-mamah muda tanpa alis mata itu pagi ini juga tersenyum. Apa kata duniaaa? Lalu tiba-tiba mendung datang. Gelap. Biasa, musim gugur. Apalagi ramalan cuaca bilang memang “possible shower”. Saya lalu memgambil jaket. Saat itu baru sadar…. Cukk…resletingku kebuka… Baru saya sadar kenapa semua tersenyum. Njeketek.. Pagi jadi suram kembali. #baladatrafficwarden View on Path Lanjutkan membaca