Hari kartini begini, timeline saya penuh dengan debat basi berulang kali setiap tahun berganti, menjelang atau pada hari Kartini. Rupa-rupanya sedang masa ujian. Pantas timeline twitter saya tak ramai lagi. Biasanya penuh celoteh mahasiswa. Eh, sebentar, kapan saya menengok twitter saya ya? Oh, sebulan lalu. Kalau masa ujian begini, biasanya banyak gelagat bisa ditangkap. Beredar banyak mitos. Musiman. Miriplah kalau hari kartini begini, ributnya minta ampun. Kalah berisik sama kucing tetangga. Begitu juga mitos-mitos ujian. Kalau di komunikasi Unair, banyak yang bisa diceritakan soal mitos ujian. Misalnya..

Minggu Tenang.

Minggu tenang itu mitos. Jangan tertipu kata-kata lucu minggu tenang. Minggu tenangmu bakal tak pernah tenang. Macam apa pula minggu tenang sebelum ujian. Analaginya begini, kamu mau nembak pacar orang. Pacarnya itu galak, suka gaplok sembarang. Tak jarang, yang knalpot motor melayang. Terus, teman kamu bilang, :udah tembak aja pacarnya. Gak bakal apa-apa. Tenangg..”. Tenang ndasmu…

Ujian Take Home.

Para mahasiswa kom amatir pasti girang banget kalau dosennya bilang waktu kuliah, “tenang, ujiannya take home kok. Para amatir itu seperti merasa dapet pacar cakep dalam semalam, kaya raya, orangtuanya ndak galak, terus ngajakin kawin tamasya. Rejeki nomplok. Ujian kok take home. Para mahasiswa kom yang sudah professional (baca: udah semester tua, jomblo, khatam ujian teori komunikasi, malah hattrick tiga tahun berturut-turut, dan semester akhir masih ndak tahu kenapa dulu masuk komunikasi) akan berkata dalam hati, “Ya Tuhaaaaaan, kenapa take home lagi”. Para amatir itu ndak paham, ujian kok take home. Ujian kok diBAWA ke RUMAH! Berat tahu. Take home itu cuman mitos. Yang ada, kamu tuh ndak pernah di rumah. Boro-boro dibawa ke rumah, kamu malah ndloprok di emperan kampus. Apalagi kalau pake kelompok. Dari sekian anggota, yang satu sibuk ngomel betapa sulitnya ujian ini, satunya sibuk henponan, satunya rokokan, satunya sibuk ngemil, satunya sibuk merenungkan nasib dan membayangkan betapa indahnya masa ujian SD SMP yang dipenuhi soal benar-salah atau memilih, dan satunya lagi sibuk datang saat kerja kelompok hampir selesai dengan muka polosmminta dikaplok “Eh udah selesai ya? Maaf nih macet di jalan”. Yakin masih mau ujian take home? Lalu, apa dong yang benar? ujian Sit In?

Ujian Sit In

Lalu, kalau ujian Take home cuman mitos yang menipu, apakah milih ujian Sit In? Ini juga mitos. Kalau merasa ujian take home sulit, belum tentu juga Sit In mudah. Ujian Sit in ini bakal membuat kalian seperti duduk di kursi listri, diiket tangan dan kaki, terus di tengkuk di kasih bekicot, di perut dikasih belut, hidung dikilik-kilik bulu ayam sama kaki dan pinggak dikitik-kitik. Belum lagi kecurigaan bahwa dosen kalian memberikan obat sembelit pada sarapan kalian, sehingga pas ujian kok kepengin boker melulu. Lalu apa yang kalian tulis atas jawaban empat soal sementara kalian ndak tahu buku apa saja yang diwajibkan dibaca? Paling pol, menuliskan doa pembuka dan doa penutup. Yang agak punya nyali, menulis harapan dan doa kepada sang dosen di tengah-tengah.

Open Book

Lalu, kalian membantah, Sit In ndak susah kok, kan open book. Masak sih? Kalian ndak pernah memperhatikan senyuman licik dosen kalian saat dia berkata, “Tenang, Ujian kalian open book”. Perhatikan senyuman liciknya saat mengucapkan kalimat itu. Atau perhatikan mulutnya yang menahan tawa sinis. Jika sempat, dia mungkin akan berbalik badan sebentar sambil tertawan terbahak-bahak. Pake echo pulak. Logikanya saja, kalau kalian diperkenankan membawa buku, maka apakah dengan mudahnya jawaban itu ditemukan di buku? Mirip dengan menempelkan pengumuman di depan rumah. “Rumah ini terkunci Rapat. Untuk membukanya, carilah kunci di bawah pot bunga di teras”. Atau seperti kalian mau nembak cem-ceman kalian yang berkata, “Hatiku sudah tertutup rapat buat orang lain. Kecuali dia membawa tawaran liburan yang lebih menarik”. So, ujian open book, jelas mitos menyesatkan!

Soal Gampang

Ini mirip dengan kasus Open Book. Jangan terbuai dengan kata-kata “Jangan khawatir, soalnya mudah dan gampang kok”. Selain melihat nada sinis, senyuman licik serta tawa di akhir kata, cobalah memahami pengertian kalimatnya. Jelas saja sang dosen menyebut soalnya mudah dan gampang. Kan dia yang membuat soal ujian. Tugas mahasiswa kan menulis Jawaban. Bukan menulis soal? Paham kan? Kalau belum paham, coba cari tiang listrik terdekat, terus pegang kabelnya biar paham.

Kata-kata Kunci

Jangan juga tertipu mitos yang dibuat dosenmu yang berkata, “yang penting kata-kata kunci-nya saya temukan di jawaban kalian, beres sudah”. Macam mana kata-kata kunci membereskan persoalan kalau kalian sendiri tak tahu kata-kata kuncinya apa? Terus, mau diselesaiakn dengan menulis panjang lebar dan berharap semoga salah satu dari kata-kata itu adalah kata-kata kunci yang dimaksud sang dosen. Sungguh anda akan membuat dosen anda tambah sakit kepala. Semoga saja tidak gila. Saya saja kalau berhadapan dengan mahasiswa yang menulis panjang lebar dengan tulisan tangan yang jeleknya minta ampun akan kesal. Ini seakan menyindir saya. Saya paham tulisan tangan saya jelek. Ndak jelek sih, jelek banget. Kata mahasiswa bimbingan skripsi saya, coretan tulisan tangan di draft skripsi mereka hanya bisa dibaca sedikit orang. Sedikit orang itu tidak termasuk mahasiswa bimbingan skripsi saya dan saya sendiri.

 

Jadi, masih mau percaya mitos-mitos ujian?

 

Perth 21 April 2016