Tag

, ,

 

Iya, saya mau ngomongin kerjaan. Ndak usah protes. (Yang protes loh sopohh?). kalau ngomongin soal kesibukan sebagai mahasiswa, yo wes jelas. Tiap hari juga dikerjakan. Walau lambat. Saya tidak sejenius teman-teman saya, yang mimpi-pun masih merafal teori.

Selama di negeri ini, saya baru sadar belakangan bawah saya sudah menjalani beragam jenis kerjaan. Mulai dari sejak sekolah ambil S2 delapan tahun lalu hingga kini. Saya runtut ulang, cukup beragam, kesamaanya satu. Tapi saya bahas nanti saja.

Nah pekerjaan itu antara lain:

Junk-mail deliverer. Ini kerjaannya nganter brosur-brosur promosi perusahaan ke rumah-rumah. Pekerjaan cocok buat yang malas olahraga kayak saya. Sekalian cuci mata liat rumah-rumah di sekitaran. Bayarannya kecil tapinya. Tapi ya itu, promosi buat menggaet orang mau kerjaan ini adalah: You get paid for doing a walk. Get healthy, get paid. Bener juga sih.  Paling enak pas musim semi atau gugur. Kalau pas musim dingin, jangankan nganter brosur, keluar rumah aja males. Ini pekerjaan yang cocok buat memulai. Lumayan dapet uang tambahan. Musuhnya dua: sesama tukang anter junk-mail. Jadi rebutan ngisi mail-box biar ndak penuh. Kedua, mailk-box yang ada tulisan NO JUNKMAIL.

Lalu, saya sempat berganti karir ke tukang antar koran komunitas. Sama dengan junk-mail cuman lebih sedikit “terhormat”. Koran rek. Ndak promosi thok. Cuman belakangan koran-nya ya nakal. Mereka nawarin junk-mail itu diselipin ke koran mereka. Jadi kalau ada mail-box bertulis NO JUNK-MAIL, masih bisa dimasukin. Tapi, orang-orang juga makin pintar, mail box ditulisin NO JUNKMAIL and COMMUNITY Newspaper: atau yang sahih: AUSTRALIAN POST only!. Ini yang bikin gregetan, udah jauh-jauh jalan, eh balik lagi. Ini yang kadang saya curiga kalau papas an dengan pak tukang pos. Mereka kayaknya tersenyum riang melihat saya balik kucing karena mailbox bertuliskan AUSTRALIAN POST only. Asem.

Nah, belakangan, karena habit menulis surat sudah berkurang, diganti email, kemudian tagihan juga paper-less, AUSTRALIAN POST mulai kekurangan pelanggan. Maka, lahan junk-mail ini diambil juga. Pak post mereka sekarang nganterin junkmail. Jadi kata larangan di mail-box bisa diabaikan semua. Pintar juga.

Lalu, yang agak mirip lagi dengan junk-mail atau koran, adalah real estate mail deliver. Ini bayarannya lebih gede dan yang dibawa lebih dikit. Kalau junk mail atau koran biasanya bawa trolley besar, tapi bayarannya seuprit. Nah yang real estate ini, cukup bawa tas kantong atau tas pinggang, isinya cuman 500 brosur atau fridge magnet. Benar-benar bisa dipake olahraga. Bayarannya bisa tiga kali lipat dari junk mail.

Mungkin karena sempat keki sama tukang post, saya malah akhirnya sempat jadi tukang post. Waktu S2, pas liburan natal, saya diterima jadi tukang post. Yang bikin kaget, saya harus naik sepeda. Di lokasi yang naik turun dengan halam rumah yang lebarnya selapangan volley semua. Bertahan tiga hari dengan akibat dua hari istirahat sakit punggunng dan badan remuk. Boyokku…. Waktu mengundurkan diri, supervisor saya sempat keberatan. Tapi melihat muka kuyu saya, akhirnya dia mengijinkan. Semula, dia meminta saya untuk pindah ke bagian dalam, sortir surat, tapi karena harus malam sampai dini hari, saya menolak. Nanti aku jadi batman..

Akhirnya menemukan beberapa kerjaan casual. Yang cukup menyenangkan sebetulnya. Yang pertama, casual cleaner pas Melbourne Cup. Tugas saya membersihkan sampah-sampah di lokasi orang menonton pacuan kuda. Yang saya tidak paham, orang-orang itu nonton pacuan kuda tapi di saya semua sibuk minum, makan, ngobrol sama berbaju ala abad pertangahan tapi saya ndak lihat mereka ngikutin pacuan kuda-nya. Pekerjaanya ndak sulit sebetulnya. Malah enak. Tapi ya itu, cuman setahun sekali.

Lalu, sesama musiman begitu, saya juga pernah jadi asisten bar di acara music tahunan. Kerjaaanya angkat minuman, nyetok, buka botol, nambahin es batu. Ini baru enak. Selama dua hari, minuman gratis, nonton music gratis walau dari jauh, selesai shift bisa langsung nongkrong nonton bintang tamu. Jam segitu bar-nya sudah tutup. Pulangnya, kawan sekerja justru mabok. Gimana ndak mabok, empat bir dihabisin seharian. Kadang, hang out bareng dengan café sebelah, dapet hotdog gratis, atau pizza. Barter dengan bir yang kita jual. Manajer café-nya juga santai aja. Sayangnya cuman setahun dua kali.

Lalu, setelah itu saya merasa bosan dengan kerjaan outdoor begini. Kulit saya yang item tambah mengkilat item-nya. Logikanya, makin manis sih. Tapi saya ndak suka yang berlebih. Manis. Itu cukup. Kalau manis sekali, atau manis banget, kayaknya udah berlebihan buat saya. Jadi, mulailah saya mencoba kerjaan yang sifatnya indoor. Bukan untuk memutihkan kulit. Tapi ya biar tidak bertambah gelap. Nanti kayak judul drama..bila malam bertambah malam.

 

Perth, 4 April 2016