Tag

, , , ,

 

Saya orang yang seringkali tanpa sadar membuat rutinitas dalam keseharian. Padahal kalau menurut Deeks dalam satu dialog-nya dengan Kensi, dalam salah satu episode NCIS:LA, rutinitas bisa membuat kehidupan kita terbaca orang. “They will easily kidnap you. Or worse, shot you at the place you usually stop for a while after your morning walking”.  Tentu, ini bukan soal orang lain ingin menculik saya. Apa untungnya nyulik saya. Ganteng yo gak, sugih yo gak. Saya cuman dosen bersahaja dan manis-manis saja. Eits..intinya, rutinitas itu kadang memang membuat orang mudah “memetakan” kita. Jadi, kata Deek, “Change your daily routine..”. Ini yang agak repot buat saya.

Misalkan saja, setelah bangun pagi, harus selalu minum kopi. Setelah itu, be-ol. Okelah, mungkin sesekali saya harus mengubahnya. Sedikit. Misal, bangun pagi, lalu be-ol, baru minum kopi. Sebab, tak mungkin rasanya saya Be-ol dulu baru bangun. Persoalannya, saya merasa ada sebuah koneksitas tak jelas antara bangun, kopi dan be-ol. Saat bangun, saya perlu menumbuhkan kesadaran biar tak ngantuk lagi. Itulah gunanya kopi. Kopi, bagi saya, selain berfungsi sebagai penambah adrenalin, juga sebagai pelancar be-ol. Lalu gimana dong?

Okay, cukup sudah membahas kopi. Dan Be-Ol.

Rutinitas lain yang saya buat setelah saya menjalani hidup sebagai mahasiswa di sini adalah, begitu sampai di kampus, saya selalu menyiapkan secangkir coklat panas. Setelah itu baru mulai apa yang disebut sebagai kehidupan akademis. Mengetik thesis. Yang seringkali lebih banyak browsing, facebookan dan tentu saja blogging. Lalu makan siang. Selesai makan siang, saya biasanya ke perpustakaan.

Perpustakaan?

Iya. Tak percaya? Saya juga. Seumur-umur, bahkan waktu kuliah S1-pun saya jarang ke perpustakaan. Dulu, waktu kuliah S1, saya punya alasan klasik. Perpus-nya jelek. Ndak nyaman. Apapun itu (padahal ora tahu rono). Beberapa tahun belakangan, saya dengar perpus kampus saya dulu sudah makin nyaman. Seperti perpus di luar negeri katanya.

Nah, kenyamanan di perpus Curtin inilah yang membuat saya terpikat. Setidaknya, menjadi penguat saya datang ke perpustakaan. Maklumlah, otak saya tak sehebat kawan-kawan saya atau kolega-kolega saya yang lain.  Saya ini pas-pasan. Otak ngepas. Wajah ya pas, manisnya.

Perpustakaan di kampus saya ini dilengkapi banyak hal demi kenyamanan. Akses wifi, café, bahkan alat penyaman diri yang sering diplesetkan sebagai brain recharger. Rutinitas saya, berkelana dari lantai 4 – 6. Tempat dimana buku-buku yang saya perlukan: media, Indonesia, cultural, film.

Rutinitas ini juga membuat saya mengetahui beberapa spot-spot menarik dan nyaman. Apalagi kalau pas perpus penuh mahasiswa pada masa kuliah aktif. Nyari tempat kosong sama susahnya dengan nyari parkir mobil kosong. Kadang saya duduk di depan rak bukunya langsung. Baca beberapa halaman, bikin catatan, pindah. Begitu seterusnya. ATau pindah ke spot favorit saya yang agak tersembunyi. Saya pernah menguji spot tersebut dengan cara meninggalkan botol minuman. Besoknya masih di tempat yang sama. Artinya, besar kemungkinan tempat itu tak terjamah mahasiswa lain atau staf perpustakaan atau staf cleaner.  Aman! Akhirnya, sering saya pakai buat tidur siang.

Jadi, paham kan kenapa saya rajin ke perpustakaan?

Nah, hari itu saya datang lagi. Seperti biasa, salah satu helper perpustakaan tersenyum. Dia selalu senyum setiap kali saya datang. Mungkin dia sudah mulai memetakan rutinitas saya. Hari itu kepala masih mumet dengan drafting artikel jurnal yang tak beranjak dari dua paragraph, padahal sudah saya mulai kerjakan seminggu. Saya putuskan untuk langsung ke spot favorit saya. Saya sudah bawa dua buku tebal dalam ransel. Dibaca? Enak saja, jangan fitnah dong. Siap-siap tidur tentu saja. Sambil berkemas-kemas, tiba-tiba mbak-mbak tadi datang menyusul dari lantai dasar. Dia tersenyum. Saya tersenyum. Kami berdua tersenyum. (kalau sinetron, sudah ada close up gitu).

Lalu dia berkata, dalam Bahasa inggris tentunya.

  • “Kamu biasa di sini ya? Aku selalu lihat kamu ke sini”
  • “Iya, kebetulan saja aku menemukan spot yang nyaman”
  • “Boleh-boleh saja kamu di sini, tapi ingat ini areal sunyi (silent area). Ndak boleh bikin keributan”
  • “Lho, saya ndak pernah bikin ribut kok di sini.”

Dia tersenyum. Manis. Saya juga tersenyum. Pasti manis. Kami berdua tersenyum. (Iki opoooooooo)

Dia sambil berbisik lalu berkata,

“Iya, tapi dua hari belakangan ini kamu kalau tidur selalu ngorok. Cukup keras tampaknya sampai membuat ada yang complain ke kami”

Dia masih tersenyum. Kali ini bagi saya, tak manis lagi.

 

Perth, 31/03/2016