Rutinitas

  Saya orang yang seringkali tanpa sadar membuat rutinitas dalam keseharian. Padahal kalau menurut Deeks dalam satu dialog-nya dengan Kensi, dalam salah satu episode NCIS:LA, rutinitas bisa membuat kehidupan kita terbaca orang. “They will easily kidnap you. Or worse, shot you at the place you usually stop for a while after your morning walking”.  Tentu, ini bukan soal orang lain ingin menculik saya. Apa untungnya nyulik saya. Ganteng yo gak, sugih yo gak. Saya cuman dosen bersahaja dan manis-manis saja. Eits..intinya, rutinitas itu kadang memang membuat orang mudah “memetakan” kita. Jadi, kata Deek, “Change your daily routine..”. Ini yang agak … Lanjutkan membaca Rutinitas

Nama Saya….

Nama Asia dan Non Asia memang tergantung lidah. Dan rasa. Jadi, kadang nama Asia akan sangat sulit disebut oleh orang non Asia. Pun sebaliknya. Kecuali tentu saja nama-nama yang sudah pasaran. Atau sudah umum. (bukan Oom Oom loh). Saya sendiri sudah teramat sangat sering sekali mengalami pengalaman-pengalaman unik berkaitan dengan nama saya. Misalkan di sini: https://satryawibawa.com/2015/08/16/274/ Nah, di tempat kerja saya yang baru ini juga sama. Setiap hari bertemu orang yang sama, menyapa dengan hal yang sama, bukan hal yang mudah. Misalkan saja, salah satu staf sekolah yang bernama, sebut saja, Mrs.Mawar. Mrs. Mawar ini memang emak-emak. Tentu bukan emak-emak … Lanjutkan membaca Nama Saya….

Kalau di indo itu yang bahaya itu ibu-ibu pake matik yang pasang sein kiri tapi menggok kanan. Di sinj, yang bahaya itu, mamah-mamah muda datang telat anter anaknya, muka mecucu ngadep depan, ngebut di jalanan yang harusnya max 40 km/jam, lalu belok kanan mendadak parkir di area parkir sementara, keluar mobil dengan mesin masih hidup, lalu gandeng anaknya ke areal sekolah. Tambah bahaya saat si tukang parkir yang manis sejagad raya itu mendekati sang ibu, berbaik hati mengingatkan untuk mematikan mesin mobilnya dibalas dengan muka datar dan tangan memencet tombol di kunci. Lalu mesin mati. Cuk mobil canggih…ngene iki lak … Lanjutkan membaca

Man In Uniform. Tiap pagi dan sore jaga parkir di sekolah khusus cewek dan beragama. Gajinya dua kali lipat gaji dari saat menjadi ketua sebuah lembaga di universitas dulu. Modalnya hanya senyuman manis dan sapaan basa-basi. “Hanya 10 pegawai pria diantara 300 staf di sini, Satrya. So, in two days, i got more questions about you rather than any other issues here” kata supervisor saya. ….dan benarlah, suatu sore, seorang mamah-mamah muda menyapa saya. Dia tahu saya kuliah S3, dari Bali. Dan saya tidak tahu siapa namanya. #uhuk #storyoftrafficwarden View on Path Lanjutkan membaca

Bahagia saat wisuda adalah sebuah kemewahan. Sama halnya bersuka hati saat selesai ujian skripsi. Karena kebahagiaan itu adalah sementara. Karena tak lama lagi, muncul lagi sebuah penyesalan. “Tahu gini, enakan jadi mahasiswa”. Nah, jika saat itu datang, ingatlah kengerian akan tugas menumpuk, ujian take home yang justru membuat kamu ndak pernah di rumah, atau pertanyaan polos dari dosen kamu soal pacar yang ndak pernah kamu punya, atau soal lulus saat kamu tahu nilai ujianmu semua di bawah 50. Niscaya, kamu tak akan menyesali lulus dan wisuda. Tapi, tetaplah jangan terlalu bahagia, karena wisuda hanyalah awal dari sebuah pertanyaan baru yang … Lanjutkan membaca

Saya memahami pernyataan “sudah jatuh tertimpa tangga” itu setelah mendapat tugas memotong bawang. Iya, bawang. Kemarin, saya mendapat tugas memotong bawang. Satu box. Memotong bawang adalah salah satu tugas mengharukan di pekerjaan ini. Memakai kacamata memperparah tingkat kesedihan. Maka mulailah saya memotong bawang dengan bercucuran air mata. Tak perlu membayangkan ahmad dhani jadi presiden untuk bisa menangis seperti itu. Satu saat, air mata membuat mata saya terasa perih. Sebuah mekanisme ketololan saya lakukan drngan mengusap mata saya drngan tangan yang bergelimang cairan bawang. Saya pun menggelinjang. Perihnya bukan kepalang. Sungguh nasib saya yang malang. *nangis sesengukan di pojokan sambil ngemil … Lanjutkan membaca

Saya curiga dan setengah percaya jika semut-semut yang berkoloni di halaman rumah baru saya adalah semut asli australia. Setidaknya sangat lekat dengan budaya dan tentu saja kuliner Australia. Remah ayam cepat saji dan roti burger terkenal dalam sekejap sudah dirubung semut. Dalam sekejap. Ribuan. Saya tak punya waktu menghitung jumlahnya. Apalagi coba menyapa satu persatu. Sementara, kecap berceceran dan sambal goreng minyak ala Bali dengan bau sedap tumpah sedikit, tak sedikitpun dilirik. Saya lihat ada satu semut mengendus-endus tapi lalu pergi. Mungkin dengan dahi mengernyit. Saya belum coba apakah mereka menyuka babi guling. Jika tidak, mungkin saatnya tiap hari makan … Lanjutkan membaca