Hidup di negara yang semuanya serba elektronik ini memang memudahkan. Bahkan terkadang menjadi sebuah kemanjaan. Semua serba dilayani. Dilakukan mesin. Tanpa perlu bersusah-susah. Semua tinggal pencet tombol, atau malah tinggal menggerakkan badan.

Saya kerja membersihkan sebuah kantor yang begitu masuk pintu, lampu otomatis menyala satu persatu mengikuti kemana saya melangkah. Di sebuah taman, kamar mandinya otomatis semua. Mulai masuk, bahkan habis pipis atau beol, juga otomatis. Coba proses be-ol-nya juga otomatis. Ndak perlu pake ngeden segala. Kan enak. (Iku mencret jenenge dul..)

Saya memang rodok ndeso kok. Lha di indonesia kebiasaan masuk masuk toilet umum dihadang tulisan angka 1000 buang air besar, 500 buang air kecil. Lalu kalau cuman cuci tangan piye? lha kalau pas buang air besar apa ndak boleh kencing? Atau semacam paket hemat gitu maksudnya kali ya.Bayar tarif buang air besar, maka buang air kecil-nya gratis. Lalu gimana kalau buang air besarnya banyak..(leh..dibahas..)

Kadang, karena agak terbiasa dengan serba otomatis begitu, saya percaya semuanya akan berjalan sebagaimana biasanya. Baik-baik saja. Dan ternyata saya salah.

Gedung tempat saya bertapa di sini, di lantai satu, tempat bagian administrasi, juga memakai pintu otomatis. Pagi ini, karena janji mau ketemu supervisor, saya berjalan agak cepat. Saya berpikir akan baik-baik saja, sampai akhirnya, selama sedetik saya menyadari pintu yang biasanya terbuka sendiri, masih tertutup padahal saya sudah melangkah dengan cepat…dan..

….brak…

Saya menabrak pintu. Lalu pintu terbuka otomatis. Seseorang dari dalam — yang tentunya melihat seluruh kejadian — melihat dengan prihatin sambil bertanya, “oh are you okay?”.Saya sambil agak kaget karena nabrak pintu, hanya bisa menjawab “yes, i am ok” Sambil berkata dalam hati, “No, I am not ok. I lost my dignity..Isinnnn rek”

Rupanya pintu itu memang agak lambat membukanya.Perlu beberapa centi di depan sensor dan perlu beberapa detik untuk merespon.

Atau teori konspirasi saya, pintu itu sengaja ndak membuka. Nunggu saya nabrak dia. Dan mempermalukan saya. Huh.

Perth, 26 Feb 2016