Akademisi, dengan tanggung jawab profesi dan sejarahnya, dituntut untuk senantiasa memberikan kontribusi positif dan relevan bagi bangsanya. Tak terkecuali Akademisi Muda Bali, AMUBA sudah seharusnya berkontribusi terhadap tanah leluhurnya yang kini berada dalam ‘simpang jalan’ pembangunan dengan memberikan konstribusi yang berimbang. Kontribusi ini kami kemas dalam ‘Pernyataan Sikap” Akademisi Muda Bali (AMUBA).

Adapun latar belakang pernyataan sikap tersebut adalah:

Pertama, sebagai bentuk pertanggungjawaban serta klarifikasi posisi Akademisi Muda Bali. Selama ini belum ada sikap formal dari akademisi Bali tentang polemik reklamasi Teluk Benoa. Yang ada adalah, keterlibatan sebagian kecil akademisi Bali dalam meloloskan studi kelayakan reklamasi Teluk Benoa oleh PT TWBI tersebut dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai representasi sikap keseluruhan akademisi Bali. Hal tersebut tentu tidak benar dan oleh karenanya pernyataan sikap ini penting untuk menegaskan perbedaan posisi kami.

Kedua, sebagai wahana alternatif bagi munculnya wacana ketiga yang bukan hanya anti atau pro-reklamasi. Pemberitaan media yang massif menggiring terjadinya polarisasi wacana reklamasi yang berujung pada dikotomi pilihan; setuju dan menolak. Tidak ada ruang bagi munculnya pilihan ketiga yang sejatinya menjadi pilihan utama dan pertama masyarakat Tanjung Benoa – lokasi utama reklamasi, yaitu reklamasi Pulau Pudut oleh pemerintah, tanpa pelibatan pihak swasta dalam hal ini PT TWBI yang berujung pada komersialisasi kawasan.

Ketiga, sebagai early warning statement atas potensi terjadinya konflik horizontal. Polarisasi wacana reklamasi ini telah mengarah pada terjadinya divisi (pembagian) masyarakat; pendukung pro-reklamasi secara umum didukung oleh pemerintah dan (sebagian besar) wakil rakyat beserta underbow-nya sedangkan pro-anti-reklamasi didukung oleh lembaga swadaya masyrakat, lembaga adat disekitar area reklamasi serta masyarakat akar rumput. Keberpihakan pemerintah dan lembaga perwakilan formal pada satu posisi dengan sendirinya telah menghambat ‘saluran’ penyampaian pendapat prosedural. Jika hal ini terus berlanjut, kekhawatirkan terjadinya perlawanan sosial yang berujuang pada pada konflik horizontal bukanlah sesuatu yang mustahil.

Oleh karena pentingnya wacana solutif atas permasalahan diatas, kami Akademisi Muda Bali (AMUBA) berkewajiban memberikan pandangan ketiga yang tidak hanya memberi pernyataan hitam-putih pada posisi pro ataupun anti reklamasi, melainkan memberikan pemaparan komprehensif tentang reklamasi Teluk Benoa secara kronologis. Dengan demikian semua stateholders mendapat gambaran yang komprensif tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Demikian pengantar pernyataan sikap ini kami buat, dengan penuh rasa tanggung jawab dan bhakti bagi tanah leluhur kami. Atas nama seluruh inisiator Akademisi Muda Bali yang tersebar diseluruh belahan dunia, kami berharap pernyataan sikap ini didengar, difahami dan dilaksanakan oleh semua pihak.

Catatan: berikut ini detail pernyataan sikap

https://satryawibawa.com/2016/02/25/pernyataan-sikap-akademisi-muda-bali-amuba-atas-kontroversi-rencana-proyek-pt-twbi-di-teluk-benoa/

Catatan:

Jumlah ini akan diupdate terus, karena naskah sedang beredar dan kawan-kawan yang setuju dengan isi naskah ini akan ditampilkan namanya sebagai bentuk tanggung jawab moral.

https://satryawibawa.com/2016/02/25/inisiator-akademisi-muda-bali-amuba-dan-pendukung-pernyataan-sikap/

Perth, 23 Februari 2016

Sekilas tentang AMUBA:

Akademisi Muda Bali (AMUBA) terbentuk dari kesadaran atas :

  • Pertama, minimnya unjuk peran Akademisi Muda Bali terhadap Pembangunan Bali dan Indonesia secara menyeluruh,
  • Kedua, ketiadaan lembaga profesi akademis untuk memperjuangkan dan sekaligus mengayomi para akademisi dalam menjalankan hak dan kewajiban profesinya,
  • Ketiga, pentingnya forum komunikasi diantara para akademisi Bali di seluruh Indonesia dalam rangka peningkatan sumber daya manusia

Siapa yang termasuk Akademisi Bali?

  • Dosen, pengajar, peneliti, pengamat, budayawan dan stakeholders pendidikan yang mempunyai keterikatan terhadap Bali baik secara geneakologis maupun psikologis.
  • Saat ini, group WA AMUBA beranggotakan para akademisi dari berbagai kampus di Indonesia

Kontak AMUBA

  • Sadwika Salain (Kopertis/Warmadewa, sadwika.salain@gmail.com)
  • Agung Wardana (UGM, warancak82@gmail.com)
  • Sukma Arida (UNUD, sukma.arida@gmail.com)
  • Satrya Wibawa (Unair, ketutsatrya@yahoo.com.au)
  • Komang Santhyasa (UNHI)
  • Putu Mahyuni (Kopertis/Undiknas)