Tag

, , ,

Saya tak pernah membayangkan punya uang satu trilyun. Tapi mendengar Oom Tommy sudah menghabiskan satu trilyun untuk proyek reklamasi teluk Benoa, saya jadi bertanya-tanya. Seberapa ya uang satu trilyun itu?

Saya  bayangkan satu trilyun itu dapat digunakan untuk babi.

Satu trilyun itu mungkin bisa dibuatkan peternakan dan pusat riset Babi terpadu. Babi adalah makanan khas Bali. Sehingga, menjaga kesinambungan hidup para babi adalah PR penting untuk masa depan. Pusat peternakan ini akan menjadi salah satu sumber penting asupan babi bagi seluruh pedagang babi guling dan olahannya di Bali. Bahkan, di Indonesia. Kalau perlu keluar negeri. Pusat riset terpadu ini juga penting untuk menghasilkan babi sehat. Misalkan babi sehat rendah kolesterol, bebas cacing pita, agar klaim-klaim yang menyerang Babi sebagai makanan tak sehat bisa dikalahkan secara akademis. Termasuk, saya percaya ramuan rempah dalam babi guling menjadi semacam penawar atas penyakit-penyakit itu.

Satu trilyun itu mungkin juga bisa dibuatkan pengembangan varian babi. Bukan, bukan sejenis babi ngepet atau babi terbang. Varian itu dapat berupa misalnya, burger atau pizza rasa babi guling. Atau kalau mau varian multicultural, bisa dipikirkan membuat kimchi babi guling, kebab babi guling, rending babi guling, jika perlu jus babi guling. Kenapa tidak? Orang suka makan. Apalagi kalau makanan baru. Lha, indomie goreng divariasikan cabe-nya saja orang beli sampai antri. Ohya, indomie goreng rasa babi guling juga boleh tuh.

Satu trilyun itu mungkin juga bisa dibuatkan riset untuk babi guling siap saji. Semacam frozen food. Duren saja ada versi frozen-nya. Jadi kalau ada babi guling frozen (tentu sambil nyanyi, let me goooo…let me gooooo) akan sangat menjual. Tinggal di-microwave, para perantauan macam saya ini akan menikmati babi guling dengan mudah dan cepat. Ndka perlu lagi pos ngetel kalo liat foto kawan-kawan sedang makan babi guling.

Satu trilyun itu, sangat mungkin juga dapat digunakan untuk program sejuta warung babi guling. Mosok kalah sama program sejuta rumah ibadah di Bali. Buat system seperti minimarket gitu loh. Jadi, dimana ada rumah ibadah, disitu ada warung babi guling (dengan segala varian yang sudah saya sebut tadi). Masak, pulang dari pura, belinya sate kambing: beli be guling dong…. Atau dimana ada sate kambing, di situ ada babi guling. Bisa meniru filosofi rumah makan padang juga. Jadi, smeua dapat kesempatan menikmati babi guling dengan mudah dan cepat. Prinsip produk kan tidak hanya dilihat dari harga dan rasa, tapi bisa juga karena lokasi dan kemudahan diakses. Katanya begitu sih.

Satu trilyun itu  bisa dibuatkan juga pengembangan bumbu babi guling instant. Jadi, ndak kalah sama rending, soto, sate. Berguna juga buat pengembangan varian. Misalkan, siapa tahu ada yang membuat babi guling dengan bumbu yang pas dengan lidah jawa atau Sumatera misalnya. Atau lidah orang Rusia, atau Australia. Jadi, biar lebih pas. Lah, burger impor saja membuatkan paket nasi biar pas dengan citarasa Indonesia.

Jadi, Oom Tommy,

Satu trilyun yang sudah Oom Tommy habiskan untuk perencanaan proyek reklamasi itu sebenarnya bisa dipakai banyak hal. Dan bukan untuk reklamasi. Memang, barangkali tidak semasif membuat pulau buatan, apalagi, tapi Oom Tommy akan jadi orang pertama yang bisa jadi dekat dengan Bali. Mirip Oom Joger itu loh Oom. Apalagi, Oom Tommy kan sudah banyak punya bisnis di bali, masak mau ditambah dengan menguruk teluk benoa lagi. Bikin bisnis yang lain lah. Dan ndak pake mamerin KTP Bali Oom. Ada loh yang mamerin KTP-nya hanya buat nunjukin dia dekat dengan Bali. Ada loh Oom… Padahal, ndak perlu KTP untuk menunjukkan dekat dengan Bali.

Kalau Oom Joger jadi melekat dengan kaos cinderamata Bali, Oom Tommy bisa jadi melekat dengan pelestarian Babi Guling di Bali. Mantap kan Oom?

Oom Tommy, Bali tak perlu reklamasi. Bali perlu Babi.

 

Perth, 15 Februari 2016