Tag

Saya selalu deg deg plas dengan orang berseragam. Terutama pria berseragam. Hiyaaaaaaaa. Istri saya malah kalau liat pria berseragam, langsung minta foto. Untung di sini ndak banyak ornag berseragam khusus. Sebut saja pemadam kebakaran, polisi, tentara, ranger, transperth. Tentunya juga milih-milih. Belum pernah rasanya istri saya berfoto dengan petugas transperth. Dulu, waktu hamil putri pertama, istri saya ngidam foto dengan polisi berseragam ala Inggris. Yang saya gampangannya menyebut Bobby. Itu loh yang pake topi tinggi. Berbulu rumbai-rumbai. Kadang yang pake rok. Bukan rok belahan tinggi. Lah mosok ndelok sikil berbulu.

Untung juga, berfotonya di sini. Coba kalau di Indonesia. Semua pakai seragam. Polisi, tentara, satpam, hansip, sampe pegawai negeri, dan ormas juga pake seragam. APalagi kalau pas hari kartini, anak-anak TK pada pake seragam semua.

Saya beberapa kali punya pengalaman tak enak dengan pria berseragam. Iya, apesnya emang selalu pria. Belum pernah dengan yang perempuan. Apalagi dulu, pria berseragam kebanyakan ya pria. (lah, maksudku opo seh). Kalau sekarang kan yang beredar foto polwan cantic-cantik. Belum pernah ada polwan ganteng-ganteng sih.

Salah satu pengalaman buruk saya saat SMA adalah menabrak mobil dinas kapolres Badung dari belakang. Bukan pengalaman menyenangkan, tapi kalau diingat-ingat, saya sering bertanya-tanya, kok bisa ya? Dan buset, mobil pejabat pula. Lebih buset lagi, mobil boss-nya polisi pula. Saya cuman ingat malam itu saya pulang jam 11-an selesai me-lay out majalah sekolah di sebuah kantor percetakan ternama di Bali. Naik motor sambil sedikit mengantuk, melaju standar. Waktu itu jalanan Denpasar – Kuta masih tak seramai sekarang. Saya cuman ingat sebuah mobil berhenti mendadak, dan saya mengerem mendadak. Motor berhenti dan menabrak, sebentar…menyentuh – iya cuman menyentuh karena tak ada kerusakan berarti. Plus, itu bemper. Yang saya ingat, saya berhenti, tiba-tiba saja di sebelah saya sudah ada dua petugas polisi bermotor. Mereka baik. Saya disuruh pinggir. Saya masih kliyengan padahal ndak jatuh. Tak banyak tanya, saya naik mobil patrol yang berhenti kemudian dan motor saya diangkut mobil yang sama. Di jalan, saya diberitahu pak polisi kalau saya barusan nabrak mobil kapolres. Buset. Sekalinya nabrak..nabrak pejabat.

Saya ndak tahu kalau itu mobil polisi. Soalnya memang ndak pake mobil dinas yang lampu sirine-nya bisa kelihatan dari jarak dua kilo itu.

Singkat cerita, saya bermalam di kantor polisi Kuta. SIM saya dibawa pak kapolres ke rumahnya. Saya pulang ke rumah saat subuh. Djemput bapak saya, bonus diomeli. Singkat cerita lagi, saya akhirnya tahu jika anaknya pak kapolres adalah adik kelas saya di SMA. Akhirnya, SIM saya balik. Piuh. Pak polisinya baik-baik. Tapi namanya bermalam di kantor polisi karena nabrak mobil boss-nya polisi jelas bukan pengalaman menyenangkan.

Kemudian, saat sekolah S2 di perth delapan tahun lalu, beberapa hari sebelum pulang, saat naik mobil, saya juga sempat dihentikan polisi karena ada lampu belakang yang mati. Udah kebayang kena denda berapa, tapi untung saat itu Echa yang masih berusia enam bulang sedang rewel dan menangis kencang. Pak polisi-nya langsung memaafkan dan menyuruh saya mengganti lampu sesegera mungkin. Amaaannn..

Lalu, saat kembali ke sini, pekerjaan sampingan jadi pizza driver memaksa saya harus seringkali berinteraksi dengan pak polisi. Misalkan saja pada kejadian ini:

https://satryawibawa.com/2016/02/08/blow-job/

Itu waktu pengantar pizza di daerah kota. Tetap saja bikin degdegplas.

Waktu malam minggu kemarin, untuk pertama kalinya saya berinteraksi lagi dengan polisi. Saat itu saya mengantar pizza ke sebuah arena layar tancap. Saat saya parkir, saya melihat ada mobil polisi parkir. Dua petugasnya kebetulan di luar dan melihat saya. Saya langsung degdegplas. Miripmirip jatuh cinta kali ya. Bulu roma kadang berdiri. (Iki ndelok polisi atau setan?) – saya sampai sekarang tak paham kenapa namanya bulu roma. Kenapa ndak bulu lokal  saja. Bulu Wonosobo misalnya. Atau Bulu Sidoarjo.

Pizza nya cukup banyak, saya sampai harus dua kali balik ke mobil. Saat kembali ke mobil, saya melihat si dua polisi saling berbisik, yang satu menunjuk saya. Saya jadi merasa ndak enak. Kali ini bukan hanya bulu roma, mungkin semua bulu yang ada jadi merinding. Saya masuk ke mobil dan dari kaca spion saya melihat satu petugas berjalan ke arah saya. Keringat dingin tampaknya mulai muncul. Saya sontak mengingat-ingat apa yang sudah saya lakukan. Lampu rem beres. Tadi mau parkir juga pake tanda. Knalpot juga tidak berasap hitam. Apa salah sayaaaa?

Si Polisi semakin mendekat. Saya semakin berdebar.

Waktu rasanya lama berlalu, saya sudah memasukkan kunci dan siap-siap menyalakan mesin. Pilihan saya, segera kabur tancap gas, ataauuu..

Tiba-tiba terdengar suara, “gday, mate. How are you going?”

Nadanya ramah tapi tegas. Saya menjawab lemah, “Gday officer. I am good. How are you?” Sambil bersiap-siap dengan pernytaan berikutnya.

Si polisi berkata lagi, “I saw you delivering pizza. It seems delicious. Where is your store? I probably will need to get Pizza for my dinner”

Wufff…saya langsung lega. Degdegannya langsung hilang. Untung juga polisinya ndak ganteng. Coba kalau ganteng…mungkin tetap degdegplas. *eh….

 

Perth, 8 Februari 2016