Tag

,

Saya ini gampang sekali menimpakan kesalahan kepada hal lain. Atau orang lain. Untuk hal-hal yang kadang ndak seharusnya disalahkan. Sekarang misalnya. Saya mencoba mencarii inspirasi untuk mengetik disertasi dengan cara baca buku bertaburan teori di taman siang hari. Lagi asyik ngantuk membaca, tiba-tiba saya merasa pantat saya dikrokoti sesuatu. Jadi geli-geli gimana gitu. Akhirnya buyar. Saya mendadak segar. Tapi untuk ngetik blog ini. Bukan disertasi. Lha, tadi cari inspirasi hasinya ini? Salah siapa ini?

ghost cleaner

Note: foto ndak ada hubungannya dengan cerita. Tapi, siapa yang peduli? Sekarang kan lagi jamannya orang kayak gini. Yang penting komen “amin” dan klik “like” lalu share.

Saya pernah ingat ada orang pintar yang menyebutnya sebagai “blaming”. Jadi, kadang saya jadi malas ngobrol dengan dia, karena, apapun yang saya sampaikan, dia balas dengan “jangan blaming..”. Lha, saya loh sukanya stalking, spaming, eating sama babi guling..

Tapi harus saya akui, menimpakan kesalahan saya pada orang atau hal lain, sering saya lakukan. Misalkan saja, kalau kerja. Saat klining, waktu menemukan kantor yang akan dibersihkan itu kotor, saya mesti ngomel, “Ini orang-orang kok kerjaannya buang sampah aja. Ndka pernah hidup bener apa?” Apalagi di kantor itu tulisan menjaga kebersihan lingkungan terpasang gede-gede. Tapi sampahnya selalu penuh.

Terus, kantor satunya, lebih sering bersihnya. Rapi. Tong sampahnya jadi berdebu karena ndak pernah ada sampah. Bahkan kadang, saya merasa benda-benda di meja tak pernah disentuh berabad-abad. Kantor bersih, sampah taka da. Sempurna bukan? Saya malah ngomel. “Lha, ini apa pegawainya dipecat semua? Kok kantornya bersih. Pada ndak kerja semua. Pemalas. Nanti jangan-jangan saya juga dipecat karena kantor ini ndak perlu dibersihkan”

Salah maneh. Saya lupa kalau saya digaji untuk bersihin sampah. Bukan untuk ngomel.

Tapi saya nge-fans banget sama satu kantor yang tong sampah tiap meja selalui dipenuhi botol bir. Padahal itu bukan kantor minuman. Juga bukan café. Atau kantor ormas yang suka razia minuman keras. Saya mmebayangkan, dengan dua sampai tiga botol bir di tiap tong sampah, tampaknya kerja di kantor itu menyenangkan. Semua suka tertawa dan kalau masuk sambil angkat botol semua.

Saat kerja antar pizza juga sama. Kalau dapet nganter pizza banyak, selalu ngomel. “Wong-wong iki lapoooo seh mangan pizza terus. Ndak bosen tha?”. Lalu pulang kerja, saya bawa pizza sisa dua biji.

Lalu pas sepi, saya juga ngomel. Kok sepi banget. Masak ndak ada yang lapar dan kepengin pizza. Saya kan jadi nganggur. Tetp, pulangnya bawa pizza sisa dua biji.

Saya baca di social media juga gitu. Apa-apa ya paling gampang nyalahin orang lain. Sat set… tapi ndak mikir, jangan-jangan kita lebih banyak nyalahinnya. Apalagi lewat social media. Gampang banget. Tinggal modal pantat, ketik. SEBARKAN. ndka perlu pake otak. Sembarang kalir dibahas dan jadi ahlinya.

Bahkan, cuaca pun saya salahkan. Ini harusnya musim panas, tapi dua hari kemarin bingung karena hujan dan dingin. Di kamar galau akut menentukan pakaian apa yang akan dipakai. Pakai model musim panas, celana pendek kaos, tapi kok suhunya 8 derajad. Pake jaket tebel, konstum musim dingin, ini kan musim panas. Segalau menentukan apa yang akan dilakukan saat merasa lapar dan kepengi be-ol pada saat yang sama.

Sambil ngomel-ngomel karena cuaca ndak jelas, saya punya solusi. Saya tetap pakai pakaian musim panas, dan jalannya selalu mencari areal yang kena matahari. Jadi tetap terasa anget. Kadang panas. Saya menghindari areal tertutup atau teduh. Minimal, saya bisa membuktikan ke orang-orang kalau saya bukan drakula. Ndak takut matahari.

Saat sampai kampus, teman saya terbelalak. Dengan sangat hati-hati dia bilang, “Satrya, did you go to the beach lately?”

“why? Something wrong?”

“Nope. Its ok. You just look darker than usual. Sorry, I couldn’t find the proper term”

Saya ngakak. Getir. Tapi bener juga. Waktu ke kamar mandi, kok ya gelap banget. Oh, saya lupa ngidupin lampu.

Tenang, untuk masalah ini saya sudah punya penangkalnya. Saya orang manis soalnya. Itulah kenapa ada kata-kata hitam manis. Orang putih ndak bisa manis.

 

Perth, 3 februari 2016