Seloyang pizza dapat membuat sebuah drama. Drama rumah tangga. Seperti sinetron drama penuh cinta dan tanpa ujung entah kemana.

Seperti malam ini. Saya kebetulan mengantar satu loyang pizza. Yang menerima, seorang perempuan muda. Mukanya seperti ndak percaya.

“Honey..” Katanya.

Saya kaget. Tak kenal nama, tak tahu rupa, kenapa berkata sungguh mesra kepada saya.

“Honey..” Katanya lagi. Kali ini lebih keras dan kepalanya menoleh ke dalam rumah.

Ah, rupanya dia menyapa itu untuk seseorang. Bukan saya. Tentunya.

Lalu, datang pria muda dari dalam. Dalam sekejap, kedua orang itu terlibat percakapan. Tepatnya perdebatan. Ringkasnya, si perempuan sebenarnya tak ingin memesan pizza yang saya bawa. Inginnya merk pizza yang berbeda. Tapi si pria memilih memesan pizza yang saya bawa. Bukan yang dimau si perempuan. Persoalannya, si pria tak punya uang tunai, dan berharap si perempuan yang bayar. Si perempuan keberatan karena kepenginnya pizza yang lain.

Kedua orang itu, setidaknya sekali, menyapa saya dan berkata, “apologise for this, this is not your fault”

Tentu saja ini bukan salah saya. Saya hanya berharap drama ini cepat usai, dan pizza yang saya bawa, dibayar. Cuman satu pizza tapi repotnya seperti pesan pizza selusin.

So, saya seperti menonton drama: sit back, relax and dont look down.

Akhirnya si perempuan mengalah. Dia membayar pizza itu. Tentu dengan muka tak sedap. Si pria mengucapkan terima kasih dengan muka seperti berkata, “tampar aku mass, tampar aku”

Sambil kembali ke mobil, imajinasi saya membahana. Jangan-jangan seperginya saya, pasangan itu lanjut kelahi. Saling bunuh bisa jadi. Kalau ada koran lampu merah disini, bisa jadi headline-nya “Gara-gara salah pesan pizza, suami dibunuh iatrinya”

Ah, seloyang pizza ini memang luar biasa. 

#CatatanPizzaDriver

Perth, 30 januari 2016