Prasangka bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Termasuk pada tukang anter pizza yang sedang bekerja.

Pada anteran pertama, dari nama pembeli yang saya baca, saya menduga dia orang Indonesia. Saat mengantarkan pizza kepadanya, saya tak banyak kata. Tapi sang pembeli melihat saya dengan teliti, kemudian berkata, “orang Indonesiaaaa yaaa”

Saya mengiakan dan tertawa. Dia berkata,”ciri-ciri orang Indonesia itu mudah dilihat mata..” Prasangka tentu saja. Tapi ada benarnya. Namun dia mengaku, sempat mengira saya orang Malaysia. 

Kami lalu ngobrol sebentar. Basa-basi sambil menambah koneksi.

Antaran berikutnya, dari nama, saya menduga orang India, atau setidaknya, Asia Selatan.

Saat tiba di rumahnya, pintu terbuka, muncul sosok pria muda dengan muka Asia Selatan. Tiba-tiba saja, dia berkata panjang. Blablablabla… (Iya, bahasa India)

Anjrit. Saya tak paham apa-apa. Hanya bisa bengong tanpa kata. Sesaat dia terdiam. Baru sadar kalau saya hanya diam. Lalu dia berkata,”You are not Indian, aren’t you?”

“Nope. Sorry, i dont understand what you say”

Dia tertawa,”Sorry, my fault. You look like Indian. That’s why, i spoke hindi….”

Saya cuma bisa tertawa kecut. 

Sudah biasa. Sepanjang sejarah, saya belum pernah disangka orang China atau asia timur. Atau Rusia.

#catatanPizzaDriver

Perth, 25 Januari 2016