Tag

, , , ,

Sekarang, lagi banyak yang ribut soal dua hal. Sepatu pak polisi dan Jonru. Kalau Jonru, sudahlah. Masih banyak yang lebih penting. Saya mirip dengan pak polisi yang kemarin diributkan itu. bedanya kalau beliau diributkan mamah-mamah muda, saya selalu bermasalah dengan sepatu. Sejak dulu. Entah kenapa saya dilahirkan dengan model kaki jembar. (Sek, jembar iki opo yo?). Kaki saya lebar. Dan luas. Untung cuman jembar. Coba kalau bisa lengket di tembok. Kemungkinannya ada dua: saya jadi bintang pelem spiderman, atau nama saya masuk lagu anak-anak. (Igak..igak di dinding..diam-diam merayap..)

 

harry potter

(keterangan foto; Mohon fokus ke sepatunya. Bukan. Bukan karena bermerk seperti abang polisi itu. Tapi karena saya lagi membahas soal sepatu)

Jadi sejak SMA, saya selalu mencari ukuran sepatu di atas rata-rata. Minimal 44. Itu sudah ngepas banget. Persoalannya, yang namanya ukuran 44 waktu itu jarang sekali. Kalaupun ada, pasti yang sudah bermerk terkenal dengan harga bikin mendhal. Apalagi, keluarga saya bukan keluarga yang kaya raya, apalagi punya kuda (eh hubungannya apaaa?). Tapi, waktu itu, hotel tempat bapak saya bekerja, memberikan semacam subsidi untuk sepatu. Karena ukuran sepatu bapak saya kurang lebih mirip, jadilah jatahnya sering diberikan ke anak-anaknya. Dan itu bisa menurun dan diwariskan, dari kakak saya ke saya. Kebetulan, keluarga saya memang modelnya begitu semua. 44 ke atas.

Saat kuliah di Surabaya, masalah sepatu juga masih menyerbu. Di Surabaya banyak sepatu murah. Tapi tak banyak dengan ukuran saya. Kalaupun ada, pastinya harganya tak bakal bisa saya jangkau. Kalau pulang kampong ke Bali, tujuan lain adalah tanya kakak yang kebetulan sudah mapan. Ada sepatu yang bisa diwariskan ke saya? Ya dasar kakak yang baik, selalu adalah sepatu (dan juga baju) yang dihibahkan ke saya. Persoalannya, kakak saya dokter, jadi kebanyakan sepatunya juga sepatu formal begitu. Jadi, ya apa boleh buat. Saya yang urakan begini musti pakai sepatu formal.

Pernah, hasil honor menulis di majalah remaja waktu itu, saya habiskan hanya untuk membeli sepasang sepatu ber-merk (yo kudune bermerk bro, mosok kosongan? Terus mereke mbok rugos ngunu tha?) yang harganya bikin sakit hati sebenarnya. Seharga uang saku bulanan saya dari bapak-ibu. Makanya sepatu itu saya eman-eman sampai mau lulus. Ndak dipake lagi karena kerusakannya sangat parah. Sampe tukang sol sepatu pun sebenarnya iba ngelihat kondisi sepatu saya itu. Sungguh tidak ber-peri-kesepatuan masalahnya. Dipake kuliah, dipake jalan-jalan, dipake kemping, dipake liputan, bahkan dipake….kondangan. (Saya baru sadar kenapa saat kondangan dulu banyak yang ngelirik dan memandang saya dengan takjub. Dulu saya pikir karena saya ganteng. Saya salah rupanya).

Saat menjadi dosen, nasib dan masalah sepatu tetap tak berubah. Malah tambah rumit. Lha, sudah bekerja masak berharap uang saku dari ortu terus, mana pendapatan dari menulis sudah ndak ada karena saya memilih jadi dosen timbang nerusin kerjaan wartawan freelancer atau jadi line-manager sebuah produk di pabrik. Mau beli sepatu biasa-biasa saja ndak mampu, apalagi beli yang bermerk, lha gaji cuman 175 rebu sebulan! Tapi ya, kata orang-orang, rejeki adalah dimana-mana. Pelan-pelan bisalah. Tapi tetap tak mampu dan tak sudi beli sepatu mahal. Waktu itu baru ngetop sentra sepatu di dekat Bungurasih Surabaya. Dijajal ke sana, para tukang sepatu itu membuat saya patah hati luar dalam. “gak onok mas..” adalah jawaban standar saya setiap mengnjungi puluhan kios sepatu di sana. Mungkin, tukang sepatu terakhir yang saya kunjungi, sebelum saya nanya, dia udah jawab “gak onok mas..” Seorang tukang sepatu memberikan solusi: “Pesen aja mas, nang tanggulangin”

Saran tersebut saya patuhi. Harganya memang tak semurah harapan saya, tapi tak semahal sepatu ber-merk itu. Tukang sepatunya saya kasih syarat ajaib. Sepatu ini harus bisa dipakai ngajar, kemping, jalan-jalan sama kondangan!”. Iya, sepatu ini harus bisa dipakai di semua kondisi dan situasi. Kalau perlu, isa terbang! Jadi. Apakah kulit asli atau ndak, saya ndak ambil pusing. Iya, sebelum ke tanggulangin ini, semua ritual “mencoba keaslian kulit sepatu” disampaikan oleh kawan-kawan saya. Misalnya, kulit sepatunya musti dicoba dibakar pake korek, kalau ndak terbakar berarti asli. Saya ndak tahu kesahihan metode itu, karena ya kalau cuman diobong pake korek api imut begitu, ya mana kebakar. Lagian kalo bener ndak bisa kebakar gitu, harusnya dipake buat petugas pemadam kebakaran :p

Sepatu itu bertahan hingga saya harus studi ke luar negeri.

Saat ini, hidup dan masalah sepatu saya menemukan solusi. Di negeri ini, saya jatuh cinta dan mnempatkan toko barang bekas sebagai surga. Tak perlu 72 bidadari di dalamnya. Cukup barang-barang di bawah 5 dollar. Toko-toko macam GoodSammy, Salvation Army, Vinnies, Rotary, Red cross, adalah tempat favorit saya. Persetan dengan mall-mall mahal yang jadi jujukan orang kaya Indonesia. Prinsipnya, dimanapun jalan-jalannya, cuci matanya, belanjanya tetap ke good Sammy. Dua masalah terbesar saya soal sepatu: ukuran dan harga, terpecahkan dengan kehadiran toko-toko ini. Sepatu ukuran jembar berlimpah ruah. Harga maksimum 10 dollar. Kalau sedang sale, bisa setengah harga. Bekas, tentu saja. Peduli amat. Yang penting layak pakai. Malah kalau mau memuaskan ego sub-alter, ya kebetulan itu ber-merk semua. Barang-barang yang kalau baru-nya di toko bisa 70 dolaran, saya bisa dapet 6 dollar dengan rupa yang mirip baru. So, buat apa beli baru?

Kadang, kalau lagi bejo, sesekali saya beruntung mungut barang bagus. Mungut? Iya mungut. Bisa di jalan, di buang-buangan sampah, dimanapun yang memanmg orang membuang itu barang. Termasuk sepatu yang saya pakai di poster harry potter ini (maunya bikin poster harry cleaner tapi lagi dikejar deadline chapter, ntar ajah ngutak-atiknya. Ini pake sotosop yang cepet ajah dulu). Safety boot di toko seharga 60-100 dollar saya dapet di tong sampah, tempat saya kerja nemenin istri. Benar-benar dibuang. Lha wong ngambilnya di tong sampah juga pake ngubel-ngubek tong sampahnya dulu, karena waktu awalnya nemu cuman sebiji doang. Karena yakin masih ada pasangannya, langsung masuk tong sampah gede, dan nemu. Mirip-mirip kisah sepatu Cinderella gitu deh.

Barang bekas dipake? Lah, masih bagus. Peduli amat. Lagian kalo saya ndak cerita, situ ndak bakal tahu itu bekas kan? Hehehe

Jadi, ntar-ntar kalau liat saya pake sepatu ber-merk lagi, ndak usah berprasangka saya beli di butik mahal gitu. Itu pasti harganya maksimal 6 dollar. (Diatas 6 dollar saya anggap mahal. Medit ya. Babahno…)

 

Perth, 18 Januari 2016