Tag

, , ,

Begundal pengecut yang kemarin mencoba menteror Indonesia, gagal total. Setidaknya di social media. Fakta-fakta getir memang bikin geleng-geleng kepala. Semua aspek, oleh orang Indonesia, bisa dijadikan bahan. Entah bahan tertawaan, bahan lelucon. Atau bahan doa. Tinggal suruh klik Like dan Komen Amiieeen. Satu hal yang para begundal kepret itu lupa, orang Indonesia selalu bisa mengambil hal positif dari banyak masalah, untuk kemudian disyukuri dan dijalani. Iya, saya dan hampir semua orang Indonesia berduka akan meninggalnya korban-korban oleh begundal kepret itu (saya menolak menyebutnya sebagai bom bunuh diri. Itu bom pengecut. Mau mati kok ngajak orang lain), tapi hidup harus dijalani terus. Jika terus dalam ketakutan, maka itu artinya kita membantu begundal kepret itu menjalankan terornya.

pizza

Iyah, termasuk saya di sini. Harus menjalani hidup setiap hari. Pagi nesis (atau mesbuk…lebih banyak mesbuk-nya sih). Malam nganter pizza. Jika selalu ditanya enak tidak hidup di perth, ya harus dicari enaknya. Biar bisa betah. Termasuk nyambi kerja jadi pengantar pizza. Enak ndak? Ya harus dicari enaknya. Biar betah. Kerja apapun, harus dicari enaknya. Biar betah. Seringkali bukan hanya soal gaji. Apalagi kerja sambilan. Bukan kerja tetap.

Misalnya, senangnya bukan main, begitu sampe rumah kastamer, dari dalam rumah sudah ada teriakan… “Hurraaayy…the pizza guy is coming..”. Begitu pintu dibuka, sudah ada deretan anak kecil siap menerima box pizza. Jadi kayak sinterklas. Kalau sudah begitu, biasanya si orang tua-nya musti kasih contoh baik ke anaknya. Dikasihlah saya tips. Aseeek. Sayangnya, tips paling besar yang pernah saya terima di areal ini 5 dollar. Ini pernah saya Bahas di sini:

https://satryawibawa.com/2015/12/14/cerita-pengantar-pizza/

Hal lain yang bikin senang itu adalah mengantar pesanan besar.kalau besar itu, biasnaya lebih dari tiga box, dan daerahnya deket, atau masuk daerah orang kaya. Plus, dia bayar tunai. Ada peluang dapet tips. Besar. Hehehe. Ya namanya juga orang kerja. Kan penginnya dapet duit. Memangnya gotong royong?

Kastamer yang detail memberikan kondisi alamatnya juga menyenangkan. Terutama kalau ada kondisi khusus, atau anjing!. Saya pernah mendapat informasi khusus dari kastamer. Katanya, “Beware of the dogs. Please call me upon arrival. Do not enter the gate or knock the door. Stay in the car, until I pick up the pizza.” Buset, ini pesannya kok gawat amat. Saya setengah ndak percaya ke alamat tersebut. Sampai di tempat, baru nyampe di pinggir jalan, buka pintu mobil terus ambil pizza dan jalan ke halaman yang dibatasi pagar. Tiba-tiba, ada suara anjing. DUA anjing. Kedengaran galak amat dan sampai nyenggrah pagar (sek, nyenggrah iku opo yo? Nyeker? Lha kok nyeker. Ngukur-ngukur? Halah..). Pokoknya pagarnya sampai ditubruk-tubruk oleh si duo anjing itu. Jujur, saya kaget, dan langsung ngibrit balik ke mobil. Asuuuuuu tenan. Di mobil saya baru telpon kastamer. Dan dia memang sempat ngomel, “Did I write the message? You should call me first, and stay in the car..”. Iyeeee..iyeee..ampun, saya salah. Akhirnya, dia datang, ambil pizza dan dikasih tips 5 dollar. Mungkin ini sebagai uang ketakutan. Hehehehe. Sejak saat ini, saya selalu ngikut apa instruksi di nota pesanan. Timbang di-asu maneh? Walau, sampai sekarang, saya ndak habis piker, kenapa si dua anjing itu bisa tahu ada orang dating ya? Terus saya curiga juga, gimana keluarganya ya? Jangan-jangan si aning ini rasis. Hehehehe

Kadang, ada instruksi, saya musti masuk lewat pintu belakang karena mereka sedang ada aktivitas di belakang. Karena takut salah, saya parkir di depan rumah terus mencari pintu belakang, yang buset jauhnya. Ini rumah apa lapangan bolaaaaa. Untunglah, begitu ketemu pintu belakang disambut mbak-mbak ayu berbikini, dan waktu naruh pizza-nya di meja, ada kolam renang yang juga dipenuhi mbak-mbak ayu berbikin. (Ya tentu saja ada mas-mas ganteng ber-boxer, tapi mosok yo saya bahas juga…). Pemandangan segar membuat suntuk saya mencari pintu belakang menghilang. Sayangnya, ndak pake tips. Jiaaan… ayu-ayu kok medit.

Kejutan-kejutan tak terduga juga suka membuat warna dalam karier saya sebagai pengantar pizza. Misalnya, saat liburan kemarin, panas-panas kentang-kentang 43 derajad, saya diminta mengantar pizza ke sebuah daerah pinggiran sungai. Suasana di alamat tujuan sepi..pi. tapi di halaman rumah banyak mobil parkir. Saya pencet bel beberapa kali, begitu dibuka, yang buka mbak-mbak ayu ndak pake baju. Atas bawah. Tentu saya jadi bengong. Si mbak-nya cuek aja ngambil pizza-nya sambil berkata, “thank you pizza-guy. It is a hot day, isn’t it?” Saya cuman bisa bilang, “Yes, you too..” (LHUUUKKK..salah omong jeh). Dia senyum lalu nutup pintu.

Tapi, ada juga duka-nya. Salah satu yang bikin sebel para pengantar pizza adalah kalau kastamer beli cuman satu dan daerahnya juaaaaaaaauuuuhhhh pake banget. Udah gitu, sampek di lokasi, musti lama nunggu dia keluar. Pas dia keluar cuman bilang, “Oh you are here. I am expecting you are coming in the next 30 minutes”, sambil ngucek-ngucek mata baru bangun. (Jiaaaan tenan, nganterin lebih awal salah, telat dikit, ngamuk…). Atau begitu sampai alamat, eh malah yang pesen belum datang. Masih di jalan. Dia pesan online dari kantor dan berharap begitu sampe rumah, pizza datang. Yang ada, saya nungguin dia datang.

Yang lebih parah kalau kondisi itu digabung jadi satu. Ini juga pernah saya alami. Semua teman saling lempar. Akhirnya saya yang nganter. Satu doang. Alamatnya di daerah yang paling ujung lingkar areal pengantaran. Itu sudah hampir tutup, jam 8.45. The last order. Itupun kata frontline, sebetulnya mereka udah nolak, tapi si kastamer minta dengan melas-melas. Akhirnya berangkatlah saya. Mana kecil kemungkinan dapet tips, karena sudah dibayar dengan kartu kredit. Sampai di lokasi, sepi banget. Gelap pula. Lampu depan tidak hidup. Lampu jalan juga ndak ada (Ini masih kota loh, bukan ndeso. Tapi ya beginilah Perth. Ini kalau di Indonesia udah ada preman nongkrong atau minimal jin lagi bangun rumah lah). Lewat pintu depan, ndak ada bel. Saya ketok-ketok pake door-knocker di pintu. Kenceng. Tapi ndak ada yang buka. SOP-nya saya musti telepon kastamer. Saya telpon, hapenya mati. Sial. SOP berikutnya, saya harus telepon kantor. Manager bilang kantor udah tutup, “Too bad Satrya, I think you should try to call her again. I am so sorry, but she has paid the order already”. Akhirnya, saya mencoba mencari akses lain. Saat melewati jendela, saya mendengar teriakan-teriakan yan….gitu deh. Menyebut nama tuhan begitu, sambil sesekali menolak-menolak, kadang gentian meng-iyakan. (Paham kan yaaa? Heheheh..Oh Goood, Oh Noooo, Oh yessss). Plus, sound effect benda-benda semacam suara meja atau Kasur atau apalah itu.

Anjrit. Kalau kayak begini susah. Yang ada, saya kembali ke pintu depan dan menggedor pintu. Kali ini agak keras. Mungkin akan keren kalau saya tambahin teriakan, “BUKAAA PINTU….INI POLISIIII…(atau INI PAK RT>>>AYOO BUKA PINTUUU…). Sekitar 5 menitan, akhirnya pintu dibuka. Si mbaknya mukanya basah. Entah keringet entah apa. Pakai baju, gaun tidur kayaknya sih. Jangan tanya saya detailnya pakai apa aja. Sambil senyum ketahan, dia bilang, “I am so sorry mate, I was cooking at the kitchen.. thank you for delivering..” Ooooo…gundulmu cooking. Cooking kok pesen pizza. Maap ya mbaaaak, Ini namanya coitus pizza-man interruptus nih.

 

Perth, 15 Januari 2016