Tag

, , , , , , ,

 

mision impos2

Saat kegaduhan di dunia luar sana sedang menggema, dunia kecil tempat saya bekerja menjalani masa baru dengan senyap. Iya, Komunikasi FISIP-Unair baru saja memilih jajaran pimpinannya yang baru untuk periode lima tahun ke depan. Memang tak sehiruk pikuk dekanat, rektorat atau malah pimpinan DPR. Tak ada drama gugat ke MK, atau lempar palu. Yang ada, malah pemilihan melalui jalur whatsapp buat kolega yang sedang studi, yang diakhir makan-makan bagi yang sedang di Surabaya (iki sakjane gak uenak…lha, yang sedang studi cuman diminta ngiler ngliatin foto-foto kolega sedang makan-makan…). Para pimpinan yang baru, ya, nama-nama yang tak asing lagi.. (Hellllaaaaaaawwwww, gimana mau asing, dosen cuman segelintir doang…Kebuacut lek sampe gak dikenal…).

Yayan Sakti Suryandaru, dulu disingkat YSS, tapi kabarnya, ndak dipake lagi karena mirip dengan singkatan yayaysan supporter bola. Doktor lulusan UGM, malang melintang di jagad perkomunikasian, sampek yang lain lintang pukang, ini diserahi amanat oleh kolega lainnya untuk menjadi ketua Departemen Komunikasi, sekaligus ketua prodi S1. Dosen satu ini, kadang kalau ngelawak di depan kelas, mukanya datar pool. Sampe yang ketawa pada gelisah sendiri, “iki sakjane ngelucu ndak she, kok yo serius banget..”.

Lalu, Santi Isnaini, doctor lulusan UI, yang sebelumnya KPS Kom, diserahi amanat sebagai ketua prodi S2 Komunikasi. Beliau ini kalau bicara halus dan lemah lembut, tapi begitu ujian skripsi, terasa makjleb.  Bayangin aja pas ujian skripsi, dengan lembut, Mbak Santi ini bicara, “Skripsi kamu ini bagus, idenya menarik, tapi kok analisisnya belum tuntas ya? Gimana kalau saya uji lagi tahun depan. Ndak apa-apa ya nak? Kan demi kebaikan kamu juga?” (Perasaan si mahasiswa serasa dirinya ditindih kapas……………………….tiga ton).

Kemudian, Rendy Pahrun Wadipalapa, dipercaya sebagai sekretaris departemen. Ini barangkali karir awalnya sebelum menjadi sekretaris RT atau desa. Dulu kalau ada event mahasiswa, dia memilih tugas sebagai……..pengatur parkir.  Master lulusan UGM ini terkenal dengan pilihan kata-katanya yang mengejutkan dan membuat para mahasiswi terpana dan meneteskan ludah sambil memandanginya. Kabar burung menyebutkan ribuan bahkan jutaan mahasiswi menjadi pengagum setianya. Kabar dari burung yang lain juga menambahkan diantara ribuan mahasiswi itu juga ada mahasiswa. Entah burung yang mana yang benar.

Tiga pimpinan baru ini akan menjadi dirigen yang menata orchestra komunikasi Unair mulai tahun 2016 ini. Ini masa yang sulit. Sebelum-sebelumnya juga sulit, tapi kali ini tambah sulit. Sehingga siapapun yang berada di posisi mereka adalah orang-orang yang harus merasakan masa sulit itu. Seperti Mission Impossible.

Tapi dari sisi kreatif, dalam benak saya, misi pertama dari Mission Impossible itu adalah melaksanakannya. Kemudian, akan menjadi Mission I-M Possible. Bayangkan saja, dosen tersisa kurang dari 10, dengan variable pembedaan masing-masing (situ yang PNS pasti tahu betapa memusingkannya variable itu). Sisanya masih sekolah atau sibuk di tempat lain. Belum lagi tahun depan juga akan ada yang berangkat sekolah lagi. Sementara, mahasiswa-nya bertambah banyak. (Jadi, paham kan, kenapa saya tuh ngebully kamu biar lulus…menuh-menuhin ruangan tauukk :P). Lha, mending ndak lulus-lulus karena asyik berkarya, atau aktif organisasi atau ikut pertukaran mahasiswa, lha ini ndak jelas, mana jomblo pulak..:D.

Tapi saya yakin tiga pendekar yang dapet giliran kali ini menjadi nahkoda komunikasi akan berusaha keras, tentu dengan cara sebagaimana selama ini, kolegial. Semua kawan-kawan diinformasikan dan kalau memang memungkinkan diajak rembuk, sebagaimana tradisi sebelumnya. Tapi e tapi, boleh dong saya punya mimpi-mimpi. Mimpi tentang komunikasi. Mimpi sehari-hari dari kolega yang sedang studi dan manis sekali.

Mimpi misalnya soal bagaimana dengan keterbatasan sumber daya, laboratorium komunikasi tetap dapat menjadi media mahasiswa berekspresi. Universitas tetangga sebelah, larinya kencang sekali. Yang lama berlari tanpa henti, yang baru malah sudah posisi berlari sejak mulai. Mimpi pribadi soal bagaimana skripsi tak jadi momok lagi. Mungkin dengan bentuk dan pilihan lain yang dapat menampung ekspresi kemampuan diri mahasiswa komunikasi. Keilmiahan tak semata hanya skripsi. Mimpi soal mewujudkan kembali media terintegrasi mahasiswa dan dosen komunikasi. Media cetak, online, audia-visual agar kembali berfungsi menjadi media komunikasi.

No choice. No worries. Mahasiswa juga memang harus siap dengan keluhan abadi, dosen 4L (lu Lagi-Lu Lagi). Ya, karena memang tak ada pilihan lain. Tapi, saya kok merasa tetap optimis, pasti ada cara lain. Komunikasi punya sederet daftar dosen luar biasa dengan tenaga, semangat dan sikap muda-nya. Ini juga pentingnya mengintegrasikan kembali prodi S2 media dan komunikasi ke departemen komunikasi. Kawan-kawan praktisi yang sedang kuliah S2, mungkin bisa diajak untuk ikut berbagi cerita dan ilmu untuk adik-adik S1. Sehingga sinergi dua prodi ini menjadi efektif. Tak lagi menjadi dua dunia terpisah. Termasuk soal kegiatan apapun yang melibatkan departemen. Bagaimanapun hutkom tidak hanya milik S1, juga miilik S2. Jadi, membayangkan ada acara yang melibatkan kedua prodi ini akan menambah meriah.

Lab-lab yang dimiliki departemnen mungkin bisa diserahkan manajerialnya kepada kawan-kawan mahasiswa S2 yang masih punya dan bersedia menghibahkan waktunya untuk membimbing adik-adik S1. Sehingga dosen-dosen bisa lebih memusatkan perhatian pada aktivitas ruitn yang (seriously) memakan sebagai  besar usia!. Yang fotografer menjaid pembina klub fotografi dan lab fotorafi, yang desainer membimbing klub Coco dan lab design, begitulah seterusnya. Integrasi itu juga memungkinkan mahasiswa S1 belajar dari mahasiswa S2 soal penelitian, penulisan bahkan mungkin soal metodologi. Kenapa tidak? Bahkan, jika memungkinkan, dibuka forum bulanan tempat mahasiswa S1 yang sedang mengambil skripsi, melakukan presentasi di depan peserta mahasiswa S2, agar mendapat masukan. Tentu dengan didampingi dosen pembimbingnya.

Bagaimanapun dengan hanya segelintir dosen tersisa saat ini, tim KPS yang baru ini sungguh-sungguh melakukan mission impossible. Tapi, dengan prinsip: No Choice, No Worries, saya yakin mereka akan melakukan Mission: I-M- Possible. Selamat berjuang kawan-kawan… (Sambil dadah-dadah manis, lempar poni dan cekikikan di belakang)

mision impos

Perth, 12 januari 2016