Ada stereotype yang selalu ditimpakan kepada mereka yang kuliah di luar negeri, terutama untuk para pria, yaitu rambutnya selalu gondrong. Banyak yang bilang, beberapa kawan pria, entah kenapa, di parade foto, terlihat gondrong. Atau memang gondrong. Biasanya yang bujang-bujang, atau terpaksa membujang. Atau pencitraan buar kelihatan bujang. Atau membujangkan diri. Modus nih.

Tapi yang bawa keluarga juga banyak yang gondrong kok. Karena memang seringkali yang dipersoalkan adalah biaya cukur rambut tergolong relative mahal. Itu cukur rambut doing lo yah, yang enggres-nya di barber shop. Belum yang salon. Tambah bikin ngenes. Apalagi karena sejak awal dikonversikan ke rupiah. Sehingga, cukur rambut termasuk aktivitas yang bukan prioritas. Alhasil, cukur rambut baru dilakukan kalau pulang kampong.

Saya termasuk yang menolak stereotype itu. Pantang rasanya rambut ini gondrong. Saya tahu betul konsekuensi jika rambut saya gondrong. Kalau ndak percaya, ini, simulasi visual jika saya gondrong. Bayangkan, jika saya gondrong: Mirip Leonardo DiCaprio,

File 8-01-2016, 2 46 14 PM

 

Karena itu, saya termasuk rutin cukur rambut. Tentu harus punya cara mengatasi harga mahal itu. Ada beberapa pilihan cara sebetulnya.

Pertama, mencukur diri sendiri. Tentu, cukur rambut kepala tak semudah cukur bulu ketek, bulu kaki, atau bulu-bulu lainnya (ndak usah saya sebutin satu persatu laaaaah). Areal itu mudah dilihat. Mudah dipegang. Mudah die…(husssh). Tapi cukur rambut kepala? Modalny cuman cermin, gunting, dan kepercayaan diri yang tinggi. Awal waktu S2 dulu saya pernah melakukan itu. Sekali. Alhasil, saya jadi tampak seperti anak SMA yang ketahuan gondrong sama guru kelasnya dan dicukur serampangan di depan kelas. Pitak sana, pitak sini. Awalnya saya pikir ndak bakal jadi persoalan. Ternyata, waktu kerja (saya waktu S2 kerja sambilan di supermarket), ada teman yang memperhatikan “perubahan” rambut ini. Waktu istirahat, dia menyapa saya dengan nada prihatin, “Satrya, are you okay?” Sialan. Saya dikira depresi.

Kedua, minta bantuan teman atau keluarga. Ini banyak dilakukan kawan-kawan saya. Juga saya akhirnya, agar tidak dikira depresi lagi, minta bantuan istri. Tinggal membeli peralatan cukur sendiri seharga 20 dollar. Jadilah. Ndka perlu gaya-gayaan. Tinggal diset 2 cm, langsung babat habis. Tapi, lama-lama saya malas. Karena, waktu itu kami tinggal di apartemen kecil, mencukur rambut harus dilakukan di halaman, biar gampang membersihkan. Ribet. Lagian menyita waktu saya dan istri. Istri juga waktu itu sedang hamil putri pertama kami. Dan mitos meminta saya tak boleh mencukur rambut hingga istri melahirkan. Jadi, kalau ada yang berambut gondrong, selain malas mencukur rambut, cukur rambut mahal, bisa juga karena ada yang lagi hamil juga. Hahaha.

Ketiga, saat kembali lagi ke Perth untuk studi S3, saya dan istri sempat berdebat soal perlu tidaknya beli alat cukur untuk cukur rambut saya. Saya tentu saja tergantung istri, mau apa tidak. Lha, kan nanti dia yang cukur rambut saya. Pengalaman waktu dulu, alat cukur rambut itu akhirnya ditinggal merana di Indonesia. Ndak lagi pernah terpakai. Akhirnya, nemu di situs local, banyak yang menawarkan cukur rambut gratis. Terutama mereka yang sedang belajar jadi penata rambut atau praktek ujicoba sebelum jadi apa ytuh, tukang salon? Kapster? Hamster? AH sudahlah, ya itu deh. Tapi e tapi, beberapa kali dicoba, selalu wkatunya yang ndak cocok. ATau tempatnya sangat jauh. Belum lagi, saya khawatir, bagaimana jika tukang cukurnya adalah psikopat, pembunuh berdarah dingin. Jangan-jangan nanti bukan hanya rambut saya saja yang dipotong. Bagaimana juga kalau saya nanti diperkosa. Ah, ngeri dah.

Keempat, setelah berjibaku dengan pilihan, saya tak sengaja menemukan tukang cukur cepat dan (relative) murah, apalagi ada embel-embel discount untuk full time student., Cuman 10 dollar! Kalau dikonversi rupiah memang maish mahal. DI sidoarjo, tukang cukur langganan saya cuman 10 rebu. Tapi, 10 dollar itu dibandingkan tempat lain, murah banget. Di tempat lain bisa 30 dollar. Akhirnya, tukang cukur itu jadi pilihan saya. Masuk, ketemu mbak-mbaknya, saya diminta memasukkan (sek, bahasaku kok agak aneh ya). Oke, saya ganti, saya diminta menyelipkan. (lha, iki saweran tha?). Aaaah, sudahlah, di sana ada mesin, saya membayar 10 dollar. Seharusnya 15 dollar, tapi karena saya punya kartu mahasiswa Curtin, secara hukum saya eligible untuk cuman bayar 10 dollar. Tentu, saat menunjukkan kartu itu, si mbak-mbaknya memandangi saya dari atas sampai bawah dan membandingkan dengan foto di kartu itu. Akhirnya dia bilang, “Okay, you look like a student..” (Hasyeeeemmm). Itu salahnya situ mbak, harusnya situ tambahan high school/college student. Kalo di Indo mah gampang, tinggal pake kata pelajar. Otomatis mahasiswa ndak isa masuk.

Proses mencukurnya simple. Saya diminta duduk, semua barang dilepas (TIDAK. Tidak termasuk pakaian). Lalu di depan saya sudah ada layar yang memutarkan………The wiggless. (Ohya, kenapa entah kenapa, setiap kali saya potong rambut di sana, selalu yang antre dan sedang potong rambut adalah anak-anak kecil, seusia anak saya). Saya sempat curiga ini hanya khusus anak-anak. Tapi ndak tuh, kedewasaan saya sudah bisa diketahui dengan cara saya membayar tariff dewasa (10 dollar). Setelah duduk, saya ditanya, “Size please?”. Saya sempat bingung. Ini maksudnya ukuran apa? Celana? Celana dalam atau ukuran yang lain (uhuk..). Oh ternyata maksudnya size blade-nya. Saya biasanya jawab “2 cm” (Mungkin kalau saya jawab 5 cm, nanti bakal diputerin pelem). Langsung dipasnagi celemek leher, dan tanpa ba bi bu: brrrrmmmm…. (bayangkan potong rumput atau potong bulu domba). Ndak sampe semenit, selesai. The wiggles belum selesai nyanyi, cukur rambut sudah selesai. Dia menunjukkan pakai cermin, untuk dipastikan saya sudah puas (PUASSSS?). Ini usaha sia-sia sebetulnya. Dan hanya formalitas belaka, lha saya udah pasti ndak bisa lihat cermin itu, wong mata saya rabun dan kacamata saya diminta dilepas!. Setelah saya bilang “okay..all good”. Dia mengeluarkan…vacuum! Jadi, alih-alih sisa potongan rambut di kepala saya disisir, ini malah divacuum. Praktis juga sih. Ndka pake gosok pake sepon atau bedak bayi sebagaimana tukang cukur langganan saya di sidoarjo.

Selesai. Prosesnya tak lebih dari 3 menit. Untuk orang yang tak suka gaya rambut macam-macam, karena memang tak berambut, saya cukup puas dengan layanan ini. Dua bulan sekali untuk 10 dollar rasanya oke lah. Apalagi setelah tak liat-liat, kalau rambut tipis begini, saya mirip bruce willis..

File 8-01-2016, 2 46 31 PM

Tapi, memang setiap cukur, saya selalu kangen tukang cukur langganan saya di sidoarjo di depan masjid. Yang kalau pas waktunya sholat, walau sedang nyukur, dia permisi sholat, dan meninggalkan saya dengan rambut setengah tercukur, dan kadang saya sampai tertidur. Apalagi kalau pas di depan kipas angin dan ditemani radio dangdut. Pas! Andaikan bisa langsung pesan kopi di sebelahnya ya tambah mantap. Kalau dia lagi sepi, biasnaya saya dapat bonus pijat kepala dan pundak. Tambah mantap saat dia ngobrol dengan temannya pakai bahasa Madura, yang saya ndak ngerti dan akhirnya cuman diam, sampe dia nepuk pundak saya, “Lha, sampeyan turu tha? Tak takoki kok ndak njawab..” (Caaaakk, aku ndak bisa bahasa Madura, mana tahu kalau situ Tanya sayaaaa)……….

 

Perth, 8 Januari 2016