Sebuah Drama karena Pizza

Seloyang pizza dapat membuat sebuah drama. Drama rumah tangga. Seperti sinetron drama penuh cinta dan tanpa ujung entah kemana. Seperti malam ini. Saya kebetulan mengantar satu loyang pizza. Yang menerima, seorang perempuan muda. Mukanya seperti ndak percaya. “Honey..” Katanya. Saya kaget. Tak kenal nama, tak tahu rupa, kenapa berkata sungguh mesra kepada saya. “Honey..” Katanya lagi. Kali ini lebih keras dan kepalanya menoleh ke dalam rumah. Ah, rupanya dia menyapa itu untuk seseorang. Bukan saya. Tentunya. Lalu, datang pria muda dari dalam. Dalam sekejap, kedua orang itu terlibat percakapan. Tepatnya perdebatan. Ringkasnya, si perempuan sebenarnya tak ingin memesan pizza yang … Lanjutkan membaca Sebuah Drama karena Pizza

Rumitnya Pemanggang Roti

Seorang teman memberikan pemanggang roti. Ternyata, pemanggang roti itu rumit. Pemanggang roti ini buatan China. Jelas ada tulisan Made in China. Namun, pada spesifikasi teknis, memakai huruf kanji. Istri saya memastikan itu dalam huruf dan bahasa korea. Bukan China atau Jepang. Katanya, karena pada aksara itu ada unsur bulat-bulatnya. Emboh, saya ya percaya saja. Lalu, gambar pemanggang roti itu ada visual dan merk Hello Kitty – yang walau namanya pakai Bahasa Inggris, itu icon Jepang. Jangan tanya saya kenapa namanya Hello Kitty. Yang menambah rumit lagi, system kelistrikannya memakai system kelistrikan Indonesia, atau sebagian besar Asia. Colokan dua bulat. Nah, pemanggang … Lanjutkan membaca Rumitnya Pemanggang Roti

Masa lalu

Masa lalu itu memang mudah dibawa lagi jika kita tak bisa menghadapi masa kini. Misal, presiden lalu selalu dicari enaknya dan dibandingkan dengan presiden kini. Bukan berarti presiden kini lebih baik. Atau lebih buruk. Semua pasti punya baik buruknya. Bedanya sederhana. Di masa lalu ndak ada media sosial yang bisa dipakai melampiaskan nafsu lambe-mu.  Itu saja. Lanjutkan membaca Masa lalu

Prasangka

Prasangka bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Termasuk pada tukang anter pizza yang sedang bekerja. Pada anteran pertama, dari nama pembeli yang saya baca, saya menduga dia orang Indonesia. Saat mengantarkan pizza kepadanya, saya tak banyak kata. Tapi sang pembeli melihat saya dengan teliti, kemudian berkata, “orang Indonesiaaaa yaaa” Saya mengiakan dan tertawa. Dia berkata,”ciri-ciri orang Indonesia itu mudah dilihat mata..” Prasangka tentu saja. Tapi ada benarnya. Namun dia mengaku, sempat mengira saya orang Malaysia.  Kami lalu ngobrol sebentar. Basa-basi sambil menambah koneksi. Antaran berikutnya, dari nama, saya menduga orang India, atau setidaknya, Asia Selatan. … Lanjutkan membaca Prasangka

Madonna 

Kerja antar pizza kadang jadi menantang saat di jalanan. Bukan, bukan soal kebut-kebutan. Lebih pada kalau terasa membosankan di tengah jalan. Apalagi saat jalanan sepi dan alamat pembeli pada titik terjauh wilayah antaran. Caranya sederhana. Dengar radio atau putar musik. Radio kadang terasa membosankan. Apalagi pas lagu yang diputar itu-itu saja. Karena itu saya siapkan stok CD cukup banyak. Kebetulan saya hobi berburu CD bekas (eh, ini maksudnya compact disc loh. Bukan celana dalam) seharga sedolaran. NKOTB, take that, metallica, termasuk Madonna. Malam tadi, kompilasi hits Madonna saya pilih. Tentu saat Madonna sedang ranum-ranumnya. Ndak yang berotot kayak sekarang. Like … Lanjutkan membaca Madonna 

Persoalanku Sepatu. (Bukan Jonru).

Sekarang, lagi banyak yang ribut soal dua hal. Sepatu pak polisi dan Jonru. Kalau Jonru, sudahlah. Masih banyak yang lebih penting. Saya mirip dengan pak polisi yang kemarin diributkan itu. bedanya kalau beliau diributkan mamah-mamah muda, saya selalu bermasalah dengan sepatu. Sejak dulu. Entah kenapa saya dilahirkan dengan model kaki jembar. (Sek, jembar iki opo yo?). Kaki saya lebar. Dan luas. Untung cuman jembar. Coba kalau bisa lengket di tembok. Kemungkinannya ada dua: saya jadi bintang pelem spiderman, atau nama saya masuk lagu anak-anak. (Igak..igak di dinding..diam-diam merayap..)   (keterangan foto; Mohon fokus ke sepatunya. Bukan. Bukan karena bermerk seperti … Lanjutkan membaca Persoalanku Sepatu. (Bukan Jonru).

Baju Obralan

Minggu lalu saya membeli tiga t-shirt obralan di sebuah pusat perbelanjaan, K-Mart. Murah, cuman sedollar, dari harga semula 20 dollar. Gambanya logo film Ghostbuster. Hari ini saya pakai ke kampus. Di halte dekat rumah, saat menunggu bis, dari kejauhan saya melihat perempuan dengan baju motif sama datang mendekat. Saya yakin dia juga melihat saya dan tentu, baju yang saya pakai. Sambil menunggu bis, terjadi keheningan luar biasa. Ya, saya juga ndak kenal siapa orangnya. Di bis, kami juga duduk terpisah. (Mbok pikir pangku-pangkuan tha?) Sampai di kampus, dia bergegas turun. Dugaan saya, jalannya dipercepat. Saya mah santai. Tujuan saya ke … Lanjutkan membaca Baju Obralan