File 16-12-2015, 9 56 55 AM

 

Hari ini, Echa, putri sulung saya menunjukkan kartu natal yang diterimanya dari teman-teman sekelas. Lucu-lucu. Ada yang menulis panjang, lengkap dengan harapan kebaikan untuk Echa. Ada juga yang cuman, “To Echa” dan “from xys” untuk membuka dan mengakhiri ucapan template di kartu itu. Tidak, saya tidak komentar tulisan tangannya. Tulisan tangan saya jauh lebih jelek. Percayalah. Bimbingan skripsi saya semua, kalau lulus skripsi meluapkan kegembiraanya karena tidak lagi tersiksa. Bukan karena tersiksa harus skripsi, tapi karena tersiksa baca tulisan tangan saya pada coretan-coretan skripsi mereka.

Saya menulis soal kartu natal ini juga bukan karena ikutan parade musim meributkan ucapan natal yang (yaaaaa Tuhaaaaaaannn) selalu muncul saat bulan Desember datang. Miriplah dengan keributan soal Valentine itu siapa dan kenapa saat  bulan februari. Atau soal perlu ndaknya merayakan kartini pada bulan April. Musim duren sama rambutan kalah popular. Saya menulis soal kartu natal juga bukan karena saat jalan di mall, tiba-tiba ada anak kecil menunjuk kea rah perut saya sambil noleh ke ibunya dan bertanya, “Mom, is he a Santa clause?”. BUKAAAAN. Bukan itu.

Saya takjub dan salut dengan tradisi di sekolah Echa untuk membuat dan memberikan kartu natal. Untuk teman sekelas atau gurunya. Tidak. Itu tidak diwajibkan. Sebelum ada yang protes dan mengkaitkan dengan kaidah. Saya hanya membayangkan bahwa tradisi inilah yang dapat dipakai untuk bertahan dari gempuran digitalisasi. Tidak hanya di Australia, tapi seluruh dunia. Saya tidak ingat, kapan terakhir kali saya mengirimkan kartu selamat galungan atau Nyepi. Rasanya sudah lama sekali. Sudah tergantikan SMS, waktu itu. Kemudian berganti whasapp. Lalu kini di social media.

Digitalisasi, yang saya saksikan kini, di negeri ini, tampaknya memang akan mengubah banyak hal: tradisi, kebiasaan atau bahkan bisnis. Walau banyak yang bertahan. Kartu natal masih banyak dan lazim dijual di toko. Hal yang kini sulit kita temukan di Indonesia. Bahkan, masih ada kegiatan menulis surat untuk Santa Claus. Ironis juga, saat kapan hari menjelajah social media, ada grup yang katanya religious, justru membahas “benarkah ada santa claus?” yang dikaitkan dengan keimanan agama tertentu. Isinya jangan ditanya. Tidak penting. (Aku yo lapooooo mampir nang grup iku. Nggarai utek nanahan). Di sini, sosok “Santa Claus” dipakai untuk “melestarikan” tradisi menulis surat. Anak-anak TK menulis surat untuk Santa Claus. Minta hadiah lah atau apapun. Tak masalah. Yang penting mereka belajar menulis surat. Setahu saya ndak ada program menulis email untuk Santa. Di depan kelas, dipajang kotak pos kuno dengan tulisan “Santa’s Mail Box”.  Sederhana.

Sementara, perusahaan pos di sini, dan mungkin di Indonesia, juga mulai menghadapi persoalan menurunnya bisnis utama mereka, surat. Email dan pesan elektronik mulai menggantikan. Kantor pos sini, menggenjot usaha pengiriman parsel dan mengubah wajah kantor pos semacam toko serba ada. Mulai jualan makanan sampai elektronik. Tentu, segala macam surat dan perijinan. Perpanjangan STNK, SIM, surat kelakuan baik sampai paspor dan urusan pajak bisa didapatkan dan diselesaikan di kantor pos. Bahkan, trend terakhir, kantor pos Australia malah mulai mengirimkan junk-mail – poster, brosur promosi. Sial. Mereka sampai memakan lahan kerjaan para mahasiswa.  Delapan tahun lalu, saya sempat menjadi tukang pos di Australia Hari pertama, bersemangat, dapet seragam, dapet sepeda ontel baru. Hari kedua, badan lemas tak karuan, dari lima box surat, baru bisa diantar dua box. Hari ketiga, rasanya sudah tak punya pinggang dan tulang belakang. Hari keempat, saya resign dan bisa kembali hidup. Huahahaha. (Jadi, hingga kini, saya tak pernah meremehkan kerjaan tukang pos. walau sekarang lebih enak, mereka pakai motor!).

Sapuan digitalisasi yang lain adalah bangkrutnya franchise penyewaan DVD. Saat baru datang kembali ke perth, langkah pertama yang saya lakukan adalah menjadi member penyewaan dvd. Oleh pegawainya dijelaskan, “You can rent it by on/off. No need to be a member anymore because we will close down our business next month”. Benar, bulan depannya, mereka mengobral koleksi DVD-nya dan menutup usahanya. Itu terjadi di beberapa penyewaan lain. Saya tidak tahu apakah ini fenomena yang terjadi di perth ataukah seluruh Australia.  Bisnis itu dialihkan dalam bentuk DVD vending machine. Saya tidak tahu apakah itu juga akan bertahan, karena Netflix dan layanan sejenis: film streaming, sudah merajai. Bahkan TV kabel pun merasa terancam, sehingga membuat bisnis serupa. Dulu-dulunya, nonton online itu kalau ada kabar video 3gp seseorang beredar (hush…). Sekarang, saya lebih sering nonton online untuk menuntaskan serial CSI, Walking dead, NCIS, dan belasan favoprit lainnya.

Digitalisasi yang sama juga terjadi di kampus saya kini. Mahasiswa tak lagi mengumpulkan disertasi dalam bentuk tercetak. Semua dalam bentuk digital: e-thesis. Sehingga komponen cetak mencetak dalam pembiayaan mahasiswa juga dihapuskan. Saya dan teman-teman di School of Media Culture & Creative Arts sempat bingung juga karena sebagian besar nantinya akan menngumpulkan dalam dua bentuk: tertulis dan creative project. Semua, tampaknya akan digitalisasi. Diupload dalam data base khusus. Proses aplikasi kandidasi saya, semua dalam bentuk email, termasuk proposal, dikirimkan dalam bentuk digital.  Buku-buku referensi juga mulai sebagian besar dalam bentuk digital. Sungguh, saya sendiri masih terbata-bata. Masih tak nyaman mmebaca e-book. Buku konvensional masih nyaman, tak hanya dibaca mata minus saya, tapi juga buat nutupin muka kalau udah ngantuk. Atau ngelempar kecoak yang lewat.

Jadi, kartu natal di awal, bisa jadi, semacam strategi bertahan hidup. Seperti halnya tradisi lokal lain. Misal, pohon besar di Bali yang dipasang kain. Biar orang ndak sembarangan nebang. Hanya orang tolol gak ketulungan yang bilang orang Bali nyembah pohon, ya kayak orang-orang di grup yang membahas soal santa Klaus itu. Teknologi malah bikin mereka cuti nalar dan kurang piknik. (Klik LIKE, SHARE dan tulis AMIEN dong!)  Saya sendiri merasakan betul akibat sejak dini bersentuhan dengan computer, tulisan tangan saya jadi jelek. Ini salah computer. Bukan saya. Untungnya juga, saya cuman baru-baru doang kenal dengan telepon genggam dan selfie culture. Jadi, ya muka saya masih orisinal begitu. Ganteng sih ndak. Standar ajah. Tapi manisnya itu loh. Beuts. Pake Bingits.

Ohya, judulnya emang sengaja sensasional gitu. Ndak ada hubungannya pulak!

 

Perth, 16 December 2015