Tag

, ,

Saya sering ditanya “enak ya hidup di sana..”. Bagi saya, dimanapun berada, ya harus dicari yang enaknya dong. Biar bisa betah dan bertahan. Jadi, saya ndak bisa bandingin langsung enak mana hidup di Australia apa di Indonesia. Istilah kerennya, ndak bisa bandingin “apple to apple”. (Emboh, dosa apa si apel sampe dibandingin gitu). Sama aja, kalau ditanya, enak mana hidup di Bali apa di Surabaya. Eh sidoarjo. Lupa saya, walau cari makan di Surabaya, katepe saya sidoarjo. Ya, kedua-duanya harus dienak-enakin. Kenapa harus dipilih salah satu begitu?

Tapi e tapi, secara naluriah, banyak orang akan memilih dimana dia lahir dan dibesarkan di awalnya. Ini karena soal kebiasaan dan kenyamanan. Saya tentu akan lebih nyaman di Bali. Sementara istri saya yang lahir dan besar di Jakarta, tentu akan lebih nyaman di Jakarta. Kalau konteks soal negara, ya tentu, akan lebih nyaman saya di Indonesia. Banyak hal yang terbiasa saya nikmati di Indonesia, tak bisa saya temui di sini. Seenak apapun hidup di sini.

Misalkan saja soal tambal ban. Ini hal sepele sebetulnya. Tapi di sini bikin kesel. Beberapa hari lalu, saat saya kerja anter pizza, ban mobil kempes ketusuk paku. Ini sungguh jarang terjadi. Teman kerja saya, yang saya telpon waktu itu, sempat berkali-kali bertanya, “are you serious?”. Huh, tembelek kingkong temenan. Ban kempes. Ketusuk paku. Di perth. Apa hebatnya? Di Sidoarjo, ban mobil saya pernah ketusuk paku dua kali dalam sehari. Di jalan yang sama. Dan tambal ban di tukang yang sama. Saya jadi curiga.

Sebentar. Itu masalahnya. Tambal ban. Di sini ndak ada tukang tambal ban yang tercecer sepanjang jalan. Di Indonesia, tiap 500 meter pada jalan utama, mungkin bisa kita temukan tukang tambal ban. Prinsipnya, rejeki udah ada yang ngatur. Ban bocor ndak bisa diduga kapan dan dimana, jadi walau berdekatan, tukang tambal ban sudah berprinsip rejeki ada yang ngatur, tinggal yang bocor musti ndorong mundur atau maju. Itu doang.

Tidak berlaku di sini. Mobil memang sudah saya asuransikan. Jadi, saya telpon asuransi.  Tapi katanya harus nunggu 10-50 menit. Buset lama banget. Iya, harus ganti sendiri emang. Tapi kan males aja kotor-kotor ganti ban sementara kita udah bayar asuransi. Tapi sudahlah, demi bisa kerja lagi. Saya ganti ban. Ban bocor saya ganti dengan ban serep. Selesai. Malam itu tenang.  Besoknya, saya ke bengkel. Tak semua bengkel mau dan bisa tambal ban. Celakanya, hari itu, semua bengkel khusus ban pada penuh. Musti nunggu dua hari, itupun pake bikin janji. Buset dah. Tambal ban bikin janji. Ya sudah, bikin janji. Tapi sementara menunggu, saya ndak mau ada resiko. Gimana dong caranya. Saya ke toko onderdil. Ternyata ada peralatan tambal ban darurat. Dan itu sama serupa dengan yang dipunya tukang tambal ban tubeless di Sidoarjo. Saya belilah itu. 15 dollar. Lengkap dengan lem-nya. Akhirnya, setelah baca petunjuk, 20 menit, ban saya tambal. (Jadi kepikiran buka usaha tambal ban tubeless di sidoarjo kalau pulang nanti). Selesai. Rapi. Sempurna. Pompa di pom bensin. Beres.

Tapi, saya ndak yakin juga dengan tambalan ban saya. Apalagi di kemasannya tertulis “For emergency flat tyre repair only”. Hari ini tetap saya bawa ke bengkel ban. Setelah saya jelaskan ke teknisinya, dia dengan muka datar berkata, “This flat tyre repair kit is illegal. Its only for temporary and emergency only. The insurance will not cover any damage caused by this. But we can fix this for only 32 dollars”.

Cuk, 300 rebu buat tambal ban!

Belum selesai.

“I will call you when we finish it. It takes a day”

Cuukkkk…tambal ban sak-dino!

Kalau sudah begini, saya kangen tambal ban pinggir jalan ala  Indonesia. 10 rebu. 10 menit. Pake alat yang sama dengan yang saya beli. Alat illegal!

 

Perth, 15 desember 2015