Awalnya, saya ndak kepikiran jadi pengantar pizza. Saya ndak bagus mengingat jalan. Dan saya juga ndak jago amat menyetir. Tapi entah kenapa nasib saya membuat saya menjalani karir sebagai pengantar pizza. Tak apalah, yang penting saya nyari kerjaan yang ndak terlalu mikir. Makanya, waktu diminta ikutan buat pizza, saya segan. Bikin pizza itu mikir bro. Mulai dari nama adonan, isi, bumbu. Walah. Males. Tapi lama-lama, suka juga saya dengan pekerjaan ini. Banyak cerita.

Saya memulai pekerjaan pengantar pizza ini di wilayah kota yang hip, keren dan gaol abis. Wilayah Subiaco yang isinya para kelas menengah, professional muda dan orang-orang yang hidupnya di apartemen mewah dan megah. Sebetulnya enak di wilayah itu.  Kalau pesan Pizza, sering dalam jumlah banyak. Apalagi kalau lagi pesta. Atau yang pesan organisasi bola. Pernah mobil hyunday saya penuh pizza, depan belakang. Membawa 80 buah pizza pesanan pemain bola. Sambil bawa nota yang menyatakan total pesanan mereka seharga 1240 dollar. Buat pizza tok. Hampir seharga mobil saya.

Polisi juga jarang bawa speed-gun. Kadang ndak terasa, jalan 70 km pada areal 50 km. Tapi yang sering random check buat peminum. Yang menakutkan justru parkir. Susah dapet parkir. Dan council sering kirim ranger untuk patrol. Ketahuan, bisa kena denda 70 dollar. Habis kerja semalam buat denda parkir. Lebih ngeselin lagi, kena denda pada jam pertama kerja. Bikin patah hati. Jadi, kalau ada orang yang dari jauh lari kayak ngejar maling ke mobilnya, bisa dipastikan dia melihat tukang parkir sedang nulis nota denda. Begitu ketemu tukang parkirnya, tanpa ampun, dia dengan muka datar akan berkata, “Sorry mate, you know the rule”. Kalau udah kayak begini, tukang parkir ala Indonesia yang suka ngilang kalau pas kita markir, dan tiba-tiba muncul lagi pas kita mau pergi itu, ndak ada apa-apanya. Tukang parkir Indonesia (yang ndak resmi) kadang bisa diakalin, dengan minta karcis parkir yang baru. Atau dengan muka melas, bilang ndak ada uang kecil. Pokoknya, galakin duluan. Lha, tukang parkir di sini ndak bisa kompromi. Dan dia ndak salah sih.

Pemesan pizza di wilayah ini juga royal kasih tips. Sekali anteran, saya bisa dapet 2-5 dollar. Pulang-pulang bisa bawa 20 dollar. Apalagi kalau udah ujan-ujanan begitu, dan kita pasang muka melas, kadang dapet lebih. Lagipula, cari alamat konsumen di daerah ini sulitnya bujubuset. Pertama, ya itu tadi, parkir-nya sulit. Kalau ada, berebut. Banyakan tulisan “resident only”. Terpaksa parkir di trotoar atau di jalan. Resiko ya berhadapan dengan tukang parkir muka datar itu. Kedua, bentuk dan jeni apartemen beda-beda. Kadang, ada yang pake telpon dulu, baru dibukain. Udah gitu, musti naik mobil masuk. Biar bisa dekat apartemen yang beli. Saya pernah percaya diri, mobil saya parkir di luar, dan masuk ke halaman apartemennya. Ternyata, saya musti jalan 300 meter buat dapetin apartemennya di dalam. Anjrit.

Pembeli pizza di wilayah ini juga bervariasi. Dari model yang alim kalem sampe yang urakan. Pernah, waktu anter pizza, saya “dijebak”. Saya disuruh masuk kedalam apartemen dengan alasan dia mau ambil uang. Masuk, kondisi gelap. Tiba-tiba, lampu hidup. Jeng jeng…. Di depan saya udah ada dua perempuan telanjang bulat sambil menyapa “Pizzaaaaaa-man….come on join us”. Rupanya, pemesan pizza sedang mengundang striptease-girl ke apartemen mereka. Uhuk.. sambil mundur teratur saya permisi. 15-20 detikan bonus lah ngelihat. Hahahah. Asyem. Kurang lama.

 

Sekarang, saya ngenter pizza di daerah pinggir kota. Sebenarnya enak. Tidak sesibuk sebelumnya. Toh saya dibayar per-jam. Tapi memang, ada yang berbeda. Karena di pinggiran, banyak kamera. Speed-Camera. Dimana-mana. Modusnya bermacam pula. Ada yang dipasang di lampur merah. Ada yang ditaroh dalam mobil di pinggir jalan. Ada yang disebelah mobil. Jadi, kalau ada mobil mewah di pinggir jalan, kalo di Indonesia, bisa jadi mobil goyang. Di sini, ada kameranya. Makanya, karena jalan perumahan maksimum 50. Kadang gemes saja, jalan 50. Kayak siput. Apalagi kalau di belakang saya ada mobil baru yang ndak sabaran. Initimidatif banget biasanya. Saya sih cuek. Lah kalau ada speed camera yang bayar denda kan bukan situ..

Karena di pinggiran, yang beli juga keluarga atau mahasiswa. Kalau keluarga, mereka pasti udah berhitung banget dengan pengeluaran. Jadi beli pizza-nya sesuai kebutuhan, atau pas lagi ndak masak. Tips? Jarang banget. Tips paling banyak yang pernah saya terima adalah 2 dollar. Tapi, ada teman yang pernah dapet tips 60 dollar. Dia yakin yang kasih tips lagi mabok. Beli pizza cuman 40 dollar kasih uang 100 terus bilang “Keep the change, mate”. Ini mabok, atau terlalu bego hitung-hitungan. Tapi sehari setelah dia menerima tips itu, dia kena speed-camera. Jalan di kecepatan 54 pada areal maksimal 50. Kena 70 dollar. Langsung seharian itu kami mendengar omelan dia “The government robbed my tips”.

Lah kalau yang beli mahasiswa, ndak bakal kasih tips. Pizza tempat saya kerja termasuk, kata orang, pizza mahal. Jadi, memang sasarnnya bukan mahasiswa yang terbiasa murah meriah.  Boro-boro. Pernah nganterin pesanan mahasiswa, sampe di tempat, eh dia bilang ndak punya uang. Katanya, dia mengira temannya yang pesan sudah bayar. Alasan. Khas mahasiswa. Hihihi. Yang ada, dia teriak-teriak ke teman-2nya. Akhirnya, dalam 10 menit, terkumpullah 60 dollar dalam bentuk koin! Mana koinnya banyak yang 10 sen. Boro-boro kasih tips. Balik ke toko, kasirnya agak shock melihat saya bawa segepok 10 sen. Ya iyalah, dari 60 dollar, 40 dollarnya pake 10 sen-an radak bikin males ngitungnya. Untung tugas saya cuman nganterin.

 

Perth, 14 desember 2015