Sudahlah. Saya sudah tak membahas soal wisata syariah itu. Di Bali sendiri sudah berhenti polemiknya. Sudah saling bermaafan. Terima kasih juga kepada yang pertama mencuatkan isu itu karena setidaknya ini menjadi pemicu dan pemacu bagi orang Bali sendiri untuk melakukan evaluasi ke dalam. Bagaimanakah strategi pariwisata Bali ke depannya? Apakah melanjutkan pembangunan fisik seperti saat ini, sehingga insvestor tambun macam reklamasi teluk benoa kepincut? Belajar dari tempat lain memang bagus, tapi tak harus diterapkan semua. Memaksimalkan apa yang dipunya juga luar biasa. Andaikan saya menang lotere bermilyar-milyar, saya mau membuat usaha Babi Guling. Membuat dia seperti pizza-nya Italia, Gudeg-nya Jogja, Sungguh. Tapi, gimana mau menang lotere, beli aja jarang.

Bayangkan saja, komik Asterix-Obelix saja membuat celeng panggang adalah bagian menarik dari komik itu. Desa galia, bertahan dari serbuan bangsa Romawi. Ketertarikan mereka hanya dua: kelahi dengan prajurit Romawi, dan babi guling! Kenapa tidak, Bali belajar dari desa Galia ini. Toh, pelan tapi pasti, akan dan sudah ada pengepungan emporium baru.

Perlawanan kultural dengan misalnya pesta babi guling yang kapan hari dilaksanakan itu menarik. Karena setahu saya baru kali ini dilakukan. Untuk menyatakan sikap. Ini jauh lebih baik ketimbang bakar-bakar tempat ibadah, atau merusaknya. Toh pesta babi guling tak menyakiti siapapun (Uhuk, kecuali si Babi tentu saja). Pesta, makan-makan, senang-senang. Tak perlu saling caci, apa salahnya? Bahkan ini di Bali. Dibuat di seluruh Indonesia serempak saja tidak boleh ada yang melarang. Tidak ada hukum apapun yang dilanggar. Ynag tidak boleh tentu saja, pesta makan babi guling sambil rusak tempat ibadah. Itu salah. Atau pesta makan babi guling sambil mukulin orang yang ndak makan babi guling. Itu jelas salah dan tolol. Yang jelas, toh ada garis batas kultural yang dimiliki orang Bali. Sesuka-sukanya orang Bali pada Babi Guling tak hendak membuat mereka manja dan meminta, pakai tereak dan TOA, kepada seluruh hotel untuk menyediakan babi guling misalnya.

Itulah seninya merantau. Menemukan babi guling atau masakan Bali lainnya di tempat rantau, bak surga bagi saya. Di beberapa kota besar bertaburan. Tak usah khawatir. Paling gampang, cari saja Pura di kota itu. Bagi kota yang sudah banget nemu Pura-nya, mungkin bisa ditemukan di pecinan. Atau coba kontak orang bali di kota itu. Petualangan menemukan itu merupakan bagian dari kesenangan. Di Warsawa, Polandia, saya hampir berjingkrak gembira karena menemukan restoran Bali di pusat kota! Lengkap dengan lawar dan babi gulingnya. Tapi, jingkrakan saya tak heboh karena begitu menemukan bentuknya, ya begitulah. Apalagi melihat harganya……. Tapi harus dienak-enakkan karena sebulan di kota itu membuat saya rindu babi guling.

Justru itulah yang kadang membuat kenapa orang Bali selalu merasa harus kem-BALI. Sejauh apapun dia merantau. Karena ada hal-hal yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Ada, katakanlah, sugesti budaya, yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Merantau jauh-jauh, tetap saja merindukan lawar, be guling. Sudah nemu, tetap saja akan merasa “sing nyantep asane puk” (Ndak mantap rasanya), atau “Melenan jaenne. Sing cara di Bali” (lain sekali nikmatnya. Tidak seperti di Bali). Itu mungkin sugesti belaka. Tapi itulah yang terjadi. Aura yang tak bisa hilang. Kalau Aura Kasih bisa saja menghilang. Taksu Bali yang tak bisa hilang. Jadi, orang-orang macam saya ini, yang ndak bisa masak masakan Bali ini, walau sudah menemukan orang yang pintar masakan bali dan masakannya enak sekali, tetap saja menemukan alasan untuk menyatakan hal itu. Mau bilang talenan=nya lah, kurang kuah pindang-lah, kurang es dalumannnya kah. Selalu akan ada saja yang dipermasalahkan. Hanya karena ingin merasakan aslinya di Bali.

Mungkin itu juga yang dirasakan para wisatawan tetap yang berkunjung ke Bali. Ada yang tak bisa mereka lepaskan dari Bali. Mereka jugalah yang akan teriak pertama kali jika ada yang mencoba mengubahnya. Dengan alasan apapun. Termasuk embel-embel strategi menarik wisatawan. Kalau ada yang merasa gagal paham dan pemantik api dari sebuah intoleransi, mungkin memang yang bersangkutan: satu, belum pernah ke Bali. Dua, belum mendapatkan terpaan aura dan taksu Bali. Tiga, kurang piknik dan cuti nalar.

Golongan yang ketiga inilah yang susah untuk diajak mikir. Lupakan saja mereka. Tapi kalau mereka kebanyakan cingcong, dan sudah ndak tahan lagi, pakai saja cara Obelix, “jeg antem gen pelengne” Haha. Ndak begitu. Suatu saat mereka akan nemu karma-nya. Saya yakin itu.

Jadi, saya menunggu pengusaha Bali untuk membuat wisata kuliner Bali ini. Seperti halnya saya menunggu godot, eh, rejeki untuk cita-cita memiliki usaha food-truck di kota ini dengan spesialisasi masakan Bali. Tapi ya itu tadi, duitnya dari mana. Kalau menang lotere, mungkin sampai warga Aborigin jadi perdana menteri dua periode berturut-turut baru bisa saya menang lotere. Lha wong menang undian tabungan Bank saja belum pernah dapat. Boro-boro mobil mercy, kipas angin saja ndak pernah.

Jadi, bagi yang belum pernah merasakan, percayalah: Babi guling itu enak sekali…

 

 

Perth, 30 Nov 2015