Tag

, , ,

 

Ini terakhir. Sungguh ini terakhir. Setelah itu, dekanat baru tak saya ganggu lagi dengan tulisan harapan lugu ini. Daripada saya disawat perintah nulis di jurnal lagi. Tapi sungguh, ini juga isu penting, untuk FISIP. Barangkali karena saya dari Komunikasi. Ini menjadi sangat “komunikasi” perspektifnya. Dekanat baru harus bisa membuka semua jalur komunikasi. Di semua lini. Tanpa kecuali.

Sebagai sebuah kampus, FISIP punya pemangku kepentingan yang beragam. Utamanya adalah mahasiswa. Bagaimanapun, suka tak suka, layanan ditujukan untuk mahasiswa. Lainnya, tentu ada: dosen, pegawai, alumni, mitra kerjasama. Ini jaman yang sudah berbeda sekali dengan jaman setidaknya lima tahun lalu. Saya saja sudah beda. Lima tahun lalu saya agak manis, sekarang manis. MUngkin tahun depan, saya jadi manis sekali. Pemangku kepentingan itu punya kepentingan berbeda. Tentulah. Maka, jalur komunikasi juga harus dibuka lebar.

Akses ke social media online adalah salah satu jalur komunikasi utama saat ini. Mahasiswa bertebaran di sana. Mulai dari misuhi dosennya yang gak pernah datang tapi begitu datang malah marah-marah doang, dosen yang hobi banting-banting depan kelas, sampai masalah berburu parkir, parkir kendaraan maupun parkir hati. Bukan, ini bukan soal memantau caci maki atau kebencian. Ini lebih kepada soal menyerap aspirasi secara pro aktif. Tanpa harus meledak atau membesar di luar control. Iya, saya paham, tak mudah membagi waktu mengurus administrasi dengan hal-hal seperti ini. Barangkali juga ini bukan masalah besar. Bagi saya ini justru investasi. Investasi informasi dan komunikasi (jangan disingkat infokom). Membuat fanpage khusus FISIP, twitter atau path official, atau setidaknya staf social media yang aktif memantau. Saya yakin banyak mahasiswa bersedia direkrut. Bayangin, digaji untuk online terus. Social media, saat ini, bukan hanya soal alay, tapi sudah menjadi kajian serius bin ilmiah. Salah satu kolega di komunikasi sedang studi doktornya tentang social media. Kampus saya saat ini, malah baru saja meresmikan lab khusus social media.

Selain social media, jalur yang lebih konvensional, juga perlu diaktivasi. Website. Iya, secara universitas, masih ada silang sengketa antara siapa yang bertanggung jawab. Satunya bilang itu tugas A, satunya B. Sudahlah, sampai Bon Jovi bikin lagu keroncong gak bakal selesai. FISIP bisa memulai dulu. Website sederhana dalam dua Bahasa, sangat berguna untuk menjelaskan FISIP kepada dunia luar, dalam atau luar negeri. Cari saja dua atau tiga mahasiswa FISIP yang computer-geek plus dua atau tiga mahasiswa yang hobi nulis. Jadilah :p

Jalur konvensional lainnya, adalah pemanfaatan media cetak. Selain Jendela, yang menjadi media humas FISIP, mungkin perlu dipikirkan mensubsidi retorika atau majalah kampus versi mahasiswa, dengan tetap memberi mereka kebebasan berpendapat, tentu dalam koridor etika jurnalistik. Bagi saya, Retorika juga dapat menjadi laboratorium dahsyat buat mahasiswa, karena bagaimanapun di dunia luar sana, media cetak tidak mati. Atau belum mati. Selain itu, fasilitas yang ada saat ini, dimaksimalkan sebagai sebuah bentuk kolaborasi tanpa harus berbasa-basi dengan kuliah saling sapa atau sejenisnya. Misalkan saja, radio komunikasi dalam asuhan manajemen komunikasi dapat menayangkan konten yang dibuat oleh misalnya politik atau antropologi. Pun sebaliknya. Bagi saya, jargon saling menyapa kesannya hanya di permukaan saja. Itupun melalui penawaran mata kuliah. Menarik. Tapi pada level praktikal, saya merasa mahasiswa akan dapat menemukan proses saling sapa itu.

Terakhir, dan ini yang paling utama, membuka jalur komunikasi antar personal sebagaimana yang sudah terjadi di FISIP selama ini. Tiada sekat birokratis formal. Tentu kesediaan untuk diganggu, walau hanya pada kasus-kasus lugu. Seperti saya misalnya. Hehehehe.

Jadi, selamat bertugas dekanat baru FISIP. Semoga tetap dapat memberikan kesan manis untuk FISIP. Kesan lo yah. Karena jatah dosen manis sudah buat saya.

 

Perth, 26 November 2015