Tag

, , ,

 

Harapan lugu saya yang pertama langsung dibalas pak dekan dengan beban menulis di jurnal internasional. (*mateeek). Loh, ndak fair loh itu. Saya loh kelas ecek-ecek, baru nulis satu di blog doang udah dihajar pake beban itu 😛 Huh. Tidak adil. (Lipat tangan, balik badan, lempar poni..)

Okay, lanjut ke harapan berikutnya. Semoga menambah beban berikutnya.

Selama saya kuliah di FISIP Unair, salah satu hal yang saya suka adalah keberagamannya; dalam banyak hal. Sehingga, saya berharap dekanat FISIP yang baru ini dapat tetap menjaga dan menghargai keberagaman FISIP.

Misalkan saja keberagaman akses. Salah satu PR besar Unair, termasuk FISIP adalah masih kurangnya akses yang setara bagi semua orang. Akses yang saya maksud adalah akses fisik. Terutama bagi kalangan difabel. Tiga lantai tapi tanpa ada akses bagi kalangan difabel menurut saya sungguh tak kekinian. Apalagi, target world class university yang katanya mulai lagi dicanangkan oleh Unair. Bagaimana bisa berkelas dunia jika fasilitas saja masih tidak ramah bagi kalangan difabel. Maka itu, saya menawarkan kemungkinan, penganggaran untuk pembuatan akses bagi kalangan difabel di tiga gedung utama FISIP. Saya tahu ini tak mudah. Tapi, melihat banyak staf pengajar yang sudah termasuk sepuh, dan agak kesulitan mencapai ruang kelas di lantai 3: kebutuhan akan akses khusus itu menurut saya patut dipikirkan. Saya ingat betul, saat mahasiswa saya membuat film documenter mengenai kaum difabel, saat pemutaran di lantai 3, mereka beramai-ramai menggotong sang actor – yang difabel – agar bisa menikmati filmnya. Mungkin lift kecil cukup membantu, tentu dengan akses terbatas bagi mereka yang benar2 membutuhan. Bagaimana kalau ada mahasiswa atau dosen yang terlalu pemalas sehingga berani-beraninya memakai lift itu untuk mereka walau mereka sehat secara fisik? Biarkan saja mereka pakai. Namun, di tengah jalan, matikan lift-nya. Dan biarkan terkunci mengantung selama seminggu. Ben kapok!

Keberagaman lain yang sebisa mungkin tetap dijaga dan dihargai adalah keberagaman pendapat dengan beragam jalur. Saya dan mahasiswa komunikasi beberapa kali melakukan pemutaran film dan diskusi dengan tema-tema yang sensitive, tidak pernah ada pelarangan maupun hambatan. Ini hal yang bagus. Malah sebaiknya, FISIP harus lebih terbuka lagi dengan menyediakan akses dan mengakomodasi kegiatan serupa yang mungkin tak mendapat tempat secara luas. Kampus adalah garda terakhir untuk menjaga keberagaman tersebut, apalagi jika dilaksanakan dalam konteks ilmiah. Maka, diskusi atau acara public dengan kemasan seminar, diskusi, pemutaran film, pameran foto, asalkan melibatkan komponen dalam FISIP, menurut saya harus tetap dijaga dan didorong. Kasus terakhir, pemutaran film yang dilarang di fakultas lain di Unair menjadi sebuah contoh, bahwa seringkali kita terlalu banyak berbusa di luar tapi terlupa dengan di dalam. Maka, saya membayangkan akses-akses advokasi kalangan minoritas atau marginal, akan mendapat tempat di FISIP. Jika negara abses membela mereka, maka kampus harus mengingatkan dan membelanya.

Keberagaman visi dan misi departemen di dalam FISIP juga sebisa mungkin dijaga dan dihargai. Secara keilmuan, tak ada yang lebih dari yang lainnya. Walau namanya FISIP, yang hanya ada unsur social dan politik, bagi saya, tak berarti ilmu politik atau sosiologi lebih superior dibanding keilmuan lainnya. Semua departeman memiliki spesifikasi dan keilmuannya masing-masing. Sangat menyedihkan jika masih ada yang berpikir dikotomis ilmuwan dan tukang – untuk melegitimasi sebutan ilmu tukang. Lebih parah lagi, itu menjadi sebuah kasta akademik. Uniknya lagi, asumsi itu, menurun hingga ke mahasiswa. Ada sebutan hedonista sebagai oposisi dari akademista, hanya karena beda jenis kegiatan. Ada kelompok mahasiswa yang emang terbiasa denga aksi-aksi lapangan. Ada juga yang memilih bentuk lain. Yang mungkin tak terlihat kasat mata seperti halnya aksi-aksi lapangan. Mungkin mereka lebih memilih membuat film, atau merekam semuanya dalam foto. Atau aktivitas lain, yang bisa jadi oleh orang lain dilihat sebagai “lebih enak dan hedon”. Ada yang memilih perlawanan dan kritik melalui music, poster, foto atau film daripada turun lapangan. Tak usahlah itu disebut sebagai degradasi moral. Ah, saya selalu menghindari penyebutan kata “moral” ini. Sudahi semua pandangan tak kekinian itu (tampaknya saya menyukai kata “kekinian”. Saya sudah memakainya dua kali). Kolaborasi akan membuat keberagaman itu harus dijaga, dipelihara dan dihargai.

So, menjaga dan menghargai keberagaman ini sebetulnya memang tak hanya tugas dekanat sih. Tapi, ya ndak apa-apalah. Tak mungkin juga saya berharap “kerjakan dokumen akreditasi”, itu kan sudah tugas wajib bapak-ibu sekalian? Hehehe. Masih banyak sebetulnya hal-hal kecil tapi kalau dicantumkan di sini, akan lebih panjang daripada isian boring akreditasi. Misalnya, seeefektif apakah mengumandangkan ajakan sembahyang beberapa kali sehari melalui pengeras suara yang bisa terdengar lantang dimana-mana? Apakah memang tak ada cara lain tanpa harus mengurangi religiusitas dan keindahan ajakannya? Mungkin, ya diberikan apps yang bisa mereminder umatnya secara personal? Saya yakin, hampir semua punya ponsel pintar. Karena saya percaya, kebutuhan akan sembahyang itu sifatnya personal. Bahkan, tanpa reminder massif itupun, mereka yang memang meyakininya akan dengan sendirinya berangkat sembahyang.

Ah, keberagaman terakhir, adalah menjaga dan menghargai mahluk-mahluk seperti saya ini. Ganteng gak sepiroo, pintere yo gak sepiroo. Manis sih sudah pasti. Utek yo pas-pasan, sek untung ngepas, yo opo lek gak duwe… Dosen juga beragam. Semua mungkin punya pendapat dan keinginan yang berbeda-beda. Dikotomi junior-senior itu sebaiknya berhenti saat membahas kapan dapat NIP misalnya. Tapi, bukan soal kemampuan, keinginan dan kerelaan.

Jadi, selamat menjaga dan menghargai keberagaman, ya bapak ibu dekanat yang baru…

 

Perth, 23 November 2015