Tag

,

fisip

 

Jajaran Dekanat FISIP Unair yang baru sudah terbentuk. Saya sebagai rakyat manis dan jelata tentunya boleh dong berharap atau setidaknya menambah beban. Minimal beban pemikiran pada jajaran dekanat yang baru ini. Enaknya jadi rakyat manis dan jelata memang seperti ini. Yang terpilih siapaaaa, yang kasih beban siapaaaa.

Jajaran dekanat FISIP baru ini semua dosen-dosen saya. Bedanya kalau dulu saya ndak berani macam-macam, kalau sekarang saya berani kurang ajar (*eeeh). Lagipula, sependek ingatan saya, sewaktu mahasiswa, saya belum pernah berada pada mata kuliah yang diasuh Pak Falih, Pak Budi, Bu Tuti dan Bu Mirta. Saya sebenarnya kagok nulis BU pada mbak Tuti dan Mbak Mirta. Kesehariannya saya terbiasa manggil mbak. Atau manggil tante? (Plaaaaak. Sebongkah tulang dari museum antropologi melayang ke jidat saya, dilempar mbak Mirta). Kalau pak Falih dan pak Budi, sih malah harus panggil pak. Lha, ketimbang manggil Mas. Tambah kurang ajar.

Daftar harapan saya cukup panjang. Tentu, itu semua sangat subyektif. Dari pemikiran saya pribadi. Tidak mewakili siapapun. Saya juga tidak berafiliasi pada salah satu parpol, ormas atau PKK manapun. Tapi, paling tidak, saya menyampaikan beberapa harapan terkait saya sebagai dosen di Komunikasi FISIP Unair, dan tentunya mantan mahasiswa alias alumni di kampus ini. Saya mulai dengan seri pertama harapan saya.

Penghargaan kepada mahasiswa FISIP yang masih hilang.

Saya bukan aktivis kampus. Saya dulu mahasiswa yang pragmatis dan manis. Tak seperti kawan saya lainnya yang aktivis kampus. Tapi saya pernah mengenal kakak kelas saya bernama Petrus Bimo. Tak banyak saya bercakap dengannya, tapi saya tahu dan menaruh hormat atas apa yang sudah dilakukannya. Saya tak mengenal mas Herman. Tapi saya mendengar banyak hal mengagumkan tentang dia. Mas petrus dan mas Herman, hingga kini tak terdengar kabarnya. Menghilang pada masa pergerakan perlawanan terhadap orde baru. Saya berharap, dekanat yang baru mewujudkan bentuk penghormatan kepada kakak-kakak kelas saya itu. Bagaimanapun, roh perjuangan yang selalu disampaikan dosen-dosen saya, salah satunya direpresentasikan melalui kedua orang tersebut.

Kabarnya, dulu pernah ada keinginan membuat monument, tapi terkendala banyak hal. Penghargaan bagi saya tak harus dalam bentuk fisik atau tak harus berupa sesuatu yang sangat monumental secara fisik. Saya yakin, mereka juga tak berharap itu. Tapi paling tidak, ada sesuatu yang dapat dipakai mengenang bahwa mereka. Di kampus saya sekarang, Curtin University, saya menyukai pilihan pengelola kampus menghargai ilmuwan mereka. Dengan cara yang sederhana. Misalkan meletakkan sebuah bangku panjang di taman dengan memberikan narasi yang cukup bisa dibaca orang yang lewat. “Profesor Anu menemukan pola tata surya baru. Dia terbiasa duduk makan siang di bangku ini”. Atau pada tangga tertulis “Doktor anu, yang meraih penghargaan nobel, terbiasa melewati tangga ini setiap hari menuju kantornya”. Sederhana. Menurut saya, bisa ditiru.

File 19-11-2015, 1 35 51 PM

Meletakkan sebuah podium pada taman demokrasi dan diberikan penanda “Taman Petrus dan Herman” juga bisa dijadikan alternatif. Bukankah spot tersebut banyak dipergunakan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya? Atau paling tidak, itulah yang selama ini menjadi trade=mark FISIP.  Jika tidak, ruang BEM bisa saja dinamakan dengan nama mereka berdua.

Ah itu hanya pilihan cara saja. Yang terpenting, bagaimana FISIP tetap menjaga dan memberi penghargaan kepada elemen-elemen di dalamnya yang paling tidak, sudah memberikan ruang wacana. Bukan masalah siapa paling berjasa. Juga bukan masalah keluaran yang tampak nyata. Ada semangat yang mungkin tak akan pernah terlihat kasat mata, tapi bisa dirasa. Paling tidak untuk mahasiswa. Sama pentingnya dengan memberi penghargaan kepada katakanlah mahasiswa FISIP yang berprestasi, baik secara akademis dan non akademis.

Kawan-kawan dosen seringkali dilibatkan pihak luar untuk memberikan penilaian kepada masyarakat, misalnya, kartini tahun ini, atau pahlawan tahun ini, atau guru tahun ini. Mungkin, FISIP bisa memulai tradisi yang serupa dalam skala internal. Menghargai hal-hal kecil, yang tanpa disadari, sebetulnya ikut memberikan kontribusi pada pemikiran dan tentu, FISIP sebagai institusi.

Jadi?

……………Sial. Kenapa tulisan saya jadi serius? Ini menyalahi pakem. Gawat. Saya perlu makan siang tampaknya.

 

Perth, 19 november 2015