Catatan: Ini adalah tulisan yang semula hendak saya posting saat riuh dalam senyap sebuah acara kebudayaan di kota ini. Namun, dengan beberapa pertimbangan, saya menunda postingan itu. Kini, mumpung saya kangen Babi Guling, saya posting ulang tulisan itu.

Hari ini saya terheran-heran dengan sebuah kabar yang saya dengar dari beberapa kawan. Tak ada babi guling di acara kebudayaan Indonesia di perth. Bahkan, tak ada masakan Bali ikut berpartisipasi karena komunitas Bali memutuskan tak berpartisipasi pada saat-saat terakhir. Kabar yang saya dengar dari petinggi komunitas Bali adalah mereka kesulitan memenuhi syarat “sertifikat halal” dan alat memasak “bebas dari babi dan kandungannya”. Harapan saya untuk menikmati babi guling di acara kebudayaan ini jadi punah. Agak berlebihan memang, harapan saya itu. Karena sejak awal, komunitas Bali malah memang tak hendak menyiapkan babi guling. Hanya masakan Bali berbahan dasar ayam. Itupun sulit, karena sungguh ribet rasanya harus membeli alat masak baru untuk dapat memenuhi syarat :bebas babi.

Terlepas dari kebenaran “persyaratan” itu, saya bertanya-tanya. Bukan pada semut merah. Bukan pula pada rumput yang bergoyang. Saya belum pernah nemu semut merah di sini. Rumput bergoyang kesannya saru. Sebelas dua belas dengan mobil bergoyang, ranjang bergoyang atau apapun yang bergoyang (terima kasih pada koran-koran kuning yang sudah membuat kata bergoyang turun kasta! Shame on you!).

Makanan adalah bagian dari kebudayaan. Makanan, juga sarana paling mudah dan cepat dalam transfer pengenalan budaya. Setiap berkunjung ke negara lain, pasti saya mencari makanan “khas” penduduk negara tersebut. Tak usah jauh-jauh, setiap ke kota lain, pastilah makanan khas daerah tersebut kita cari. Apalagi saya bisa minta traktir teman yang saya kenal dengan kata-kata, “hayo..aku kan tamu, kamu musti traktir aku dengan masakna khas kotamu”. Lumayan. Makan gratis.

Apakah babi guling bukan bagian dari kebudayaan Indonesia? Itu pertanyaan sederhana saya. Babi guling sangat mudah ditemui di Bali. Juga, sebetulnya di daerah lain yang saya tahu. Paling tidak yang pernah saya kunjungi. Babi guling juga bukan makanan ekstrim atau masuk kategori ekstrim kuliner; macam daging kelelawar, kecoak. Ekstrim itu kan masalah kebiasaan. Banyak orang biasa makan anjing. Bagi saya, daging anjing itu ekstrim. Tapi di Surabaya, masuk mall tuh. Bagi penyayang kelinci, mereka bisa semaput lihat sate kelinci di daerah madiun. Lontong kupang-nya sidoarjo bisa jadi bikin beberapa orang pingsan. Atau yang sederhana, yang lagi trend: indomie dengan porsi cabe sepuluh biji itu sungguh ekstrim juga sebenarnya. Tapi babi?

Representasi kemajemukan Indonesia sesungguhnya bisa dilihat dari makanannya. Dan kita patut bangga sebenarnya. Apalagi acara kebudayaan itu ditujukan untuk umum. Masyarakat luas di Perth. Bukan hanya kalangan tertentu. Lagipula, ini acara kebudayaan bukan keagamaan. Atau saya salah? Tarohlah saya salah, barangkali ini acara keagamaan, bukan kebudayaan, maka berlakulah adil. Banyak juga dari masyarakat Indonesia menganut prinsip tidak makan daging sapi. Atau malah tidak makan daging sama sekali. Atau yang lebih ekstrim, tidak makan apapun yang berasal atau mengandung unsur daging sedikitpun. Hormati mereka juga. Iya kan bro? (dan saya akan makin tersiksa sebagai mahluk karnivora ini..)

Ini sebetulnya masalah kecil. Tapi menjadi hipokrit karena berlindung di balik slogan-slogan besar dan mulia. Bagaimana bisa bicara keragaman dan kemajemukan tapi memunculkan diskriminasi. Jangan-jangan ini sebuah pertanda masalah besar. Bukankah banyak orang percaya, masalah sebuah negara, banyak berawal dari urusan perut. Perut kenyang, rakyat tenang katanya.

Saya percaya dan masih percaya bahwa rasa ke-Indonesiaan kita masih ada. Karena, babi (guling) juga Indonesia.

 

Perth, 1 September 2015