Tag

, ,

Sejak kemarin, perut saya terngiang-ngiang dengan babi guling. Rasanya sudah lama tak makan babi guling. Tepatnya, 9 bulan 4 hari lalu saya terakhir makan babi guling. Saya penyuka babi guling dan turunannya. Turunan masakannya. Bukan babi guling dan anak-anaknya. Apa sih nikmatnya makan babi guling? Barangkali itu pertanyaan yang akan disampaikan mereka yang bukan pengemar babi guling. Atau tidak pernah makan babi guling. Atau babi guling hater. Kelompok yang terakhir ini adalah mereka yang selalu mencemooh apapun yang dilakukan babi guling, sehingga setiap hari mereka mengamati, mencermati dan mengkomentari semua tindakan babi guling. Mirip-miriplah sama hater sebelah.

Bagi saya, kenikmatan babi guling pertama kali itu diukur dari suara kriyukan kulitnya. Semakin kriyuk, semakin mantap. Tips juga buat yang mau beli babi guling. Kerenyahan kulit babi dapat dijadikan indikator awal kelezatannya. Lihatlah saat sang penjual menyiapkan porsi babi guling anda. Jika dia mengambil porsi kulitnya cukup menggunakan tangan, dan terdengar suara, “kreek..” atau “traaak” atau “praaak” itu salah satu indikasi babi gulingnya masih segar. Kulitnya masih kriyuk. Belum lemas. Nah jika suaranya, “prang…” itu berarti ada piring yang jatuh, atau “gedubrakk” itu suara orang jatuh. Itu ndak ada hubungannya dengan kulit, babi guling ataupun ISIS. (cuk, adoh). Tapi etapi, kalau penjualnya musti membagi kulit babinya dengan pisau, apalag dengan gergaji mesin, nah itu berarti ada empat: satu, babinya rajin fitness. Kulitnya alot. Dua, babinya ndak tahu malu, kulitnya tebal. Tiga, babinya pake rompi anti peluru. Empat, babinya sudah ndak fresh. Mungkin dimasaknya sudah sedari pagi.

Kenikmatan kedua, dapat diukur dari campuran daging, bumbu dan lemaknya. Perpaduan sempurna akan membuat setiap gigitan menghasilkan kenikmatan tiada tara. Lemaknya, dipadu bumbu pedas, terasa menggelinjang di mulut. Saat gigi-gigi menghunjam daging bercampur bumbu yang membasahi setiap rongga mulut, hati-hatilah, bisa muncrat. Apalagi kalau makan sambil mangap, ya tambah keluar. Muncrat kemana-mana. (setelah tak baca-baca lagi, paragraph ini kok terasa saru ya…)

Kenikmatan ketiga, diukur dari porsi dan kombinasi yang menyertai babi guling anda. Pada beberapa tempat, kombinasi standar adalah nasi segede gaban, daging babi gulingnya disiram bumbu, secuil sambal (goreng atau matah), sepotong kulit, sejumput gorengan daging dan usus, sejumput lawar, sepotong kerupuk (babi tentu saja. Saya belum pernah lihat orang makan babi guling pake kerupuk udang atau kerupuk upil. Yang bener aja..). Ada juga yang melengkapi dengan sayur nangka balung. Nah sebisa mungkin minta balung (tulang) yang masih ada dagingnya. Kalau ndak, ya rugi sendiri. Emang situ mau ngrokoti tulang thok?. Semakin lengkap, semakin nikmat. Kalau saya, biasanya langsung saya campur semua menjadi satu, termasuk sambal-nya. Kecuali, tentu-nya bagian kulit. Save the best for last! Kombinasi yang lain, tentu saja minuman. Standarnya ya minuman-minuman tak sehat. Minimal ya minuman bersoda. Level menengah, masuk golongan bir, atau minimal soda campur bir. Level berikutnya, kadang masuk tuak atau arak. Tapi saya tidak rekomendasikan yang terakhir ini. Bagi saya merusak kenikmatan babi guling, dan tentu saja kenikmatan tuak. Jangan digabunglah dua-duanya. Nanti perut bingung memilih. Mirip kali kalau batman dan superman digabung. Para pendukung masing-masing akan bingung. Air putih boleh? Boleh saja. Walau tidak lazim. Jus buah? (eh, diet ya mas?) Infused water? (loh, kan sudah disediakan penjualnya? Shit, itu air kobokan ya? Kok mirip infused-water?). Cukrik? (mas, kalau patah hati ya bunuh diri aja mas. Ndak usah gaya pake makan babi guling segala. Ngerepotin).

Kenikmatan keempat, tentu harganya. Itulah makanya, saya tidak percaya babi guling dengan harga mahal itu enak. Itu konstruksi kapitalisme. (jiaaaah…abote mas). Bagi saya, babi guling seharga 50 rebu satu porsi saja sudah membuat saya kehilangan kepercayaan. Akuntabilitas kenikmatan babi guling seharga 50 rebu itu sudah rendah buat saya, sehingga elektabilitasnya juga rendah. (Cyuuukkk…ngomong opo, aku iki..). Harga normal buat saya ya seharga 15 rebu – 30 rebu. Tentu itu hanya porsi babi gulingnya. Syukur-syukur dapet dengan minumannya juga. Lebih bagus lagi sak warungnya (jiaaaa). Babi guling seharga 100 rebu per porsi itu menurut saya keterlaluan. Bisa jadi, dari 100 rebu itu, biaya nasi babi gulingnya cuman 15 rebu. Sisanya biaya p;romosi, jasa tur guide, ongkos lelah, dan sejenisnya. Tapi ndak tahu lagi kalau babi sudah langka. Malah impor babi dari Australia. Bisa jadi akan mahal.

Itulah kenapa, saya lebih suka mencari babi guling yang dijual di warung-warung kecil, atau di tempat yang bukan spot utama wisatawan. Misalnya, di tengah-tengah pasar pagi, pasar senggol, warung di sebelah banjar, yang menurut saya lebih joss dan nyoss rasanya. Tidak percaya? Silahkan coba…. Ndak boleh loh menilai tanpa mencoba. Dosa. Malah bisa fitnah.

Sial…saya tambah kepengin makan babi guling…

Perth, 16 Nov 2015