Tag

,

Banyak orang bilang musim semi ini musim hati. Kebanyakan nonton pelem Disney mereka kayaknya. Tapi mungkin juga sih. Mungkin karena teman-teman saya yang dari luar Indonesia itu kebanyakan mengalami empat musim berbeda. Jadi, setelah Australia dihantam dingin super kampret, maka musim semi jadi harapan. Ya, karena setelah ini, Australia akan dihantam musim panas super kampret lagi.

Saya yang berdarah tropis luar dalam ini sebetulnya lebih menyukai panas. Luar dalam saya ini tropical. Manis dan eksotis. Mirip-mirip iguana lah. Jadi menghadapi dingin itu saya suka sebal sebetulnya. Pertama, dingin tak akan mengubah kulit saya. Tetap akan hitam manis. Ndak mungkin tiba-tiba memutih. Kecuali panuan. Kedua, dingin membuat saya males keluar. Adem cuk. Bawaannya makan banyak. Babi, celeng, bangkung dan keluarganya. Loh ini perlu, kan demi melawan hawa dingin. Beruang aja berhibernasi. Masak manusia ndak. Jadi, kalau ada yang menuduh saya agak montok setelah musim dingin, jawabannya sederhana: itu hasil mekanisme pertahanan badan. Jangan salahkan saya.

Saya pernah tinggal di Warsawa, polandia, selama sebulan. Menyenangkan. Dan saya bisa sebetulnya menikmati tinggal di sana. Ramah, murah, bisa makan babi dengan beragam variasi, serta tentu saja bird dan HOT WINE! Yang saya benci, cuaca. Kalau mereka menyebut negara mereka empat musim, ya bener. Cuman bagi saya empat musim itu adalah : Dingin, Dingin banget, Asuuu..dingin buanget, dan terakhir, sing celak naskleng dingin sajan.. (Ini kalau diucapkan dalam siaran program tipi pasti akan berbunyi.. titttt…titit..titit.. )

Kembali ke musim semi di Australi. Musim semi disebut sebagai musim hati karena mulai banyak bertebaran pasangan-pasangan yang saling cagut-magut di taman-taman. Mungkin kalau di Indonesia, akan banyak undangan kawinan. Cuman bedanya, kalau di Indonesia musim kawin biasanya sebelum puasa bagi kawan-kawan muslim. Pernah saya menerima sampai lima undangan untuk malam yang sama. Dan semuanya punya tingkat kepentingan dan kedekatan yang sama: teman, tetangga, anaknya boss, sodara jauh. Modar ndak..

Jadi, lewat taman-taman, mulai banyak pasangan pacaran. Mulai yang ala anak SMP belon lulus yang cuman duduk pegangan tangan, sampai yang udah bergelut kayak mau saling bunuh. Udah gitu, karena mulai panas, atau malah mencari panas, pakaian mereka tiba-tiba mengkerut semua. Saya kan jadi minder. Mending mereka, badan sixpack, saya badannya one-pack. Atau bisa juga disebut ber-pack-pack. Udah gitu kan ndak enak kalau ngeliatin. Ya  namanya beda budaya. Saya juga bukan orang yang alim-alim banget. Lha gimana ndak ngeliat, pasangan kiri kanan belakang depan sama semua. Akhirnya kacamata hitam jadi pilihan. Lumayan, menikmati tanpa harus dimaki atau diplototi.

Bagi saya, musim semi sebetulnya musim galau. Galau karena hari ini panas, 30 derajad, dua hari lagi tiba-tiba diramalkan hujan dan mungkin badai, dan setelah itu langsung panas lagi sekampret-kampretnya: 37 derajad. Saya akan bersiap dengan wajan dan mentega serta telor mentah di pinggir jalan. Musim semi yang galau ini juga saya rasakan kalau melihat buah-buahan dan sayur di pasar. Yang ada adalah panen akhir buah-buahan musim dingin yang kualitasnya ndak terlalu bagus, serta panen awal buah-buahan musim panas yang rasanya belum mantap. Saya penyuka buah musim panas, jadi musim semi akan membuat dongkol sebetulnya.

Musim semi yang galau juga bisa dilihat sinar matahari. Kalau pagi, mataharinya udah turun cepat banget, sementara sore, malam terasa masih terlalu cepat datangnya. Jadi, memang dipaksa bangun cepat.

Terakhir yang bikin saya sebel, cuman musim semi ini membuat saya bersin-bersin dan mata berair sepanjang hari. Tidak, saya tidak terharu karena melihat pasnagan-pasangan itu. Tapi hayfever. Penyakit musiman yang ndak ada fever-nya. Ini konon kabarnya karena alergi serbuk bunga. Saya jadi ingat smurf. Kali ini, musim semi ini, saya kena hayfever. Empat hari ndak bisa ngapai-ngapain karena bersin melulu itu menyebalkan. Apalagi kalau bersinnya pas di sebelah pasangan orang pacaran. Bisa jadi mereka noleh dan mungkin ingin berkata, “Mas-e, kalo ngiri bukan begitu caranya”

Jadi, kalau begini, saya kangen musim di Indonesia. Macam musim duren, musim rambutan….

Perth, 11 Nov 2015