Tag

,

Hidup di negeri orang seringkali mengalami sindroma popular; rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput sendiri. Sindroma ini kadang menemui kebenarannya, apalagi kalau memang rumput kita menguning ndak pernah disiram, atau celakanya, kita memang ndak punya rumput karena halaman dipaving semua. Tapi e tapi.., yang namanya lahir dan besar di Indonesia, ada hal-hal yang tak akan pernah bisa kita hindari, lupakan atau hilangkan. Karena memang genetika-nya begitu, atau memang terbiasa dengan hal itu. Apalagi sekarang lagi rame isu bela negara dan nasionalisme. Jadi, jika kamu mengalami atau melakukan salah satu atau beberapa hal berikut ini, maka kamu memang masih Indonesia:

  1. Jika kamu ndak bisa tidur jika ndak ngekep guling. Rasanya aneh tidur tanpa ngekep guling. Jika ndak nemu guling, terpaksa beli bantal biasa, terus disambung! Jadi, yang masih single, dan berbagi kamar, kalau ternyata tengah malam tiba-tiba kamu meluk teman kamu dengan erat, tolong sampaikan ke temen kamu: jangan GR. Dia tuh cuman setara guling!
  2. Kalau makan, yang disiapin pertama adalah sambal atau kecap manis! Samalah dengan orang Australia tanpa saus barbekiu.
  3. Habis makan, kenyang harus berkeringat. Atau kadang sambil mendesah-desah kepedasan. Agak saru memang. Mendesah-desah sambil keringetan! Teman saya pernah nanya dengan nada dan muka prihatin,”Are you okay?” Mungkin mikirnya, arek iki mangan opo kok kethoke tersiksa ngunu?
  4. Kalau lampu lalu lintas menyala kuning (atau orange? Emboh..), kamu malah tancap gas. Biar ndak keduluan lampu merah.
  5. Ambulance lewat nguing-nguing, kamu kasih jalan. Lalu begitu ambulance lewat, kamu tancap gas ngikut di belakang ambulance. Sambil senyum-senyum licik.
  6. Kalau Be-Ol, ndak klop kalau cuman digosok-gosok pake tisu. (Emang masuk angin?). Harus pake air. Pake gayung. Kalau cuman pake selang jet-shower gitu, jadinya malah nyemprot sambil merem melek (eh..)
  7. Kalau ke taman, bayangannya pasti udah laper aja. Berharap ada bakso, lumpia, atau mie rebus. Jika ndak kesampean, begitu liat bebek lewat di danau, bawaannya udah mau nangkep aja sambil membayangkan bebek goreng. Atau jika pandanganmu mulai nanar melihat banyak burung dara beterbangan di taman, itu artinya kamu harus mengikat dirimu biar ndak berlari mengejar burung dara itu untuk digoreng.
  8. Kalau lewat taman dengan rumput yang hijau tebal, bawaannya malah ke pinggir, ndak berani nginjak. Kebiasa di Indonesia, kantor atau rumah orang melihara rumput hijau di halaman dipasangi tulisan “Jangan Menginjak Rumput!”, atau ekstrim, “Injak Rumput, Benjut, Cenut-cenut!”. Rumput cuman buat dilihat.
  9. Kalau mau nyeberang jalan, bawaannya cuman kesaktian tangan diangkat nyetop mobil. (Jangan dicoba kalau kamu bukan Superman atau Ironman)
  10. Kalau ke fast-food gitu, berharap restorannya jualan CD agnes gitu, sambil nanya “Ada paket nasi ndak?”.
  11. Sebaliknya, kalau kamu kerja di fastfood, bawaannya menyapa pembeli dengan, “Selamat pagi kak. Mau coba menu barunya KAK?”
  12. Kalau di jalan nyetir, lihat ada razia polisi gitu, yang disiapin SIM dan STNK. Kalau ndak bawa, tiba-tiba bergenti, matiin mesin mobil, terus dituntun gitu. (Gilaaaaa)
  13. Saat lampu merah ganti hijau baru sedetik, dan antrian masih panjang, yang paling belakang udah pencet klakson aja kenceng-kenceng.
  14. Kalau kita belok ndak pake tanda belok, cepetan pasang muka marah sambil kalau bisa memaki duluan ke mobil di jalur yang benar. Yang penting marah duluan. Salah benar urusan belakang.
  15. Kalau pas nganter anak sekolah, kamu tiba-tiba reflek muter sekolah nyari cireng, pentol, siomay. Kalau bisa yang pake formalin dan borax sebanyak mungkin !

Ya, emang ndak semua bagus atau ndak semua jelek. Tapi banyak hal yang kita anggap kebiasaan. Bukan soal salah benarnya.

Nah, ada yang mau nambahin daftarnya?

Perth, 26 October 2015