Tag

Nasi bungkus sebenarnya makanan siap saji pertama yang saya kenal. jauh sebelum KFC dan kawan-kawan meraja lela.

Nasi bungkus ini juga punya system kode yang menarik. Misalnya ada tulisan T, itu berarti lauk-nya telor. Lalu A, itu ayam. Dan D, itu daging. Daging-nya sapi jelas. Saya masih cari ada ndak yang tulisannya B (babi) atau C (celeng). Yang lucu, di dekat rumah, ada yang menulis I (i). Saya menebak maksudnya, “Bu, ini Ikan ya bu?”. Si ibuk dengan santai menjawab “Mboten mas, Iku Iwak”. Dan dia terlihat serius. Tak main-main. Okay. Saya ndak mau berbantah.

Pada nasi bungkus yang sudah tersentuh atau nyerempet ilmu marketing, biasanya mencantumkan dua hal. Satu, siapa yang buat. Dan itu biasanya, setidaknya di beberapa tempat yang saya tahu, pasti berjenis kelamin perempuan. Setidaknya, namanya berasosiasi dengan perempuan. Misalkan: Nasi Bungkus Bu retno, Bu Siti, Bu Wulan. Saya tidak pernah, atau belum, menemukan nasi bungkus dengan pembuat “Pak Joni, Pak Karto, Pak Joko”. Barangkali, ada gender referensi di sana. Coba kalau sate, pasti ndak ada nama sate “Bu Reni” atau “Bu Wati”. Pasti “Pak Ahmad” atau kalau di jawa Timur: “Cak Udin, Cak Narto”. Selain gender-assosiasi, dipastikan juga dikaitkan dengan kedewasaan atau stereotype tertentu. Itulah mungkin tak ada nas bungkus “Mbak Siti” atau “Tante Yuli” atau “Dik Sita”.

Kedua, akan dicantumkan sedikit detail isi. Misalnya “Daging empal dan telor goreng”. Karena biasanya, nasi bungkus jenis ini melakukan diferensiasi produk dengan melakukan variasi menu. Belum pernah ada daging empal brewok sih.

Penanda-penanda yang lain adalah kode-kode tertentu yang biasanya sudah dipahami para penggemar nasi bungkus dan itu sangat erat kaitannya dengan siapa penjual dan segmennya. Di dekat rumah di sidoarjo, tingkat kepedasan sambel ditentukan jumlah karet gelang yang melingkar pada bungkusnya. semakin banyak karetnya, semakin pedas. Di sebelahnya, ditentukan dengan jumlah staples yang menjepret kertasnya. (Apa ya istilah yang tepat untuk menggambarkan “menjepret?”)

Modifikasi usaha untuk menghadapi persaingan juga sudah dilakukan, misalnya yang saya tahu ada penjual nasi bungkus yang menawarkan sambel sepuasnya. Atau “mobile-nasi bungkus”. Mereka naik motor atau sepeda, berkelana ke tempat satu ke tempat lainnya.

Lalu ada juga penjual nasi bungkus yang memberikan tambahan informasi kepada pembelinya. Dia membungkus nasi-nya dengan kertas Koran. jadi, sambil makan, saya biasanya baca Koran bungkusnya. Kalau beruntung, dapet potongan berita. kalau apes, dapet potongan iklan mini “pijat bisa dipanggil. Tarif nego”

Sungguh, saya jadi kangen nasi bungkus. Biasanya sebelum mengajar, saya beli satu atau dua nasi bungkus di parker farmasi sebelah FISIP. Atau ya itu, di jalan, ketemu “mobile-nasi bungkus” langsung minggir. Lauknya tak seberapa, juga sayurnya. nasinya lumayan, tapi yang jelas ada rasa yang tak terkira. Membuat ketagihan. Makan pake tangan. belepotan sambel. Dahsyat. kalau lagi menggila, diakhiri dengan terbirit-birit ke kamar mandi. Sakit perut.

Di sini, ndak ada nasi bungkus. Kalaupun ada, mungkin rasanya tak seenak yang asli. Saya curiga, yang bikin enak itu justru campuran tinta Koran yang lumer nyampur dengan nasi-nya. Ah…

Perth, 7 Okt 2015