Tag

Saya pria yang tak bisa memasak. Tapi saya pria yang suka makan. Bayangkan saja jika semua bisa memasak, tapi ndak ada yang bisa makan. So, sudahlah. Ndak perlu saling mencerca dan membanggakan. Semua sudah ada porsi masing-masing.

Tinggal di negeri ini sering membuat saya dihadiahi pertanyaan, “Wah, di negeri orang. Habis ini bisa masak dong?” Ini pertanyaan jebakan. Apakah suatu peristiwa langsung bisa dihubungkan dengan peristiwa lainnya?

“Tinggal di negeri orang — beli makanan mahal — harus belajar masak sendiri — akhirnya bisa masak — lalu pintar masak”

Rangkaian logika itu mungkin ideal. Tapi tidak berlaku buat saya. Pertama, saya bukan orang ideal. Kedua, kembali ke pernyataan saya sebelumnya; kalau semua bisa masak, siapa yang makan dan incip-incip dong?

Jadi, saat saya sekeluarga hijrah ke sini, tekad saya dan istri sama dan sejalan. Makan apa yang ada. Masak apa yang ada. Nikmati apa adanya. Istri saya mengklaim dirinya tak pintar memasak. Nah, bagaimana pula dengan saya yang hamper setiap hari menikmati masakan istri. Tapi, bukankah harmoni itu ada di sana? Saling melengkapi.

Tinggal di sini, membuat istri saya sering mencoba membuat masakan baru. Prinsipnya: bahannya murah, masaknya cepat, ngolahnya gampang, dan disukai anak-anak. Bukan saya. Karena saya pasti makan. Tapi anak-anak, satunya bayi dan satunya gadis kecil yang sangat pemilih kalau soal makanan, menjadi prioritas. Saya mah gampang.

Ini kadang jadi debat kecil kalau istri saya kehabisan ide. Dia kadang “memaksa” saya agar punya ide soal “masak apa besok”. Saya pasti akan menjawab, “apa saja, yang cepat, mudah dan ndak makan waktu”. Dia akan menjawab, “Loh jangan gitu, aku malah bingung”. Begitu terus, sampe PSSI juara dunia lima kali berturut-turut.

Jadi, saya juga tak mau merepotkan istri kalau soal masakan. Karena dia masak apapun, ya saya makan. Saya juga tak akan minta masak macam-macam, lha wong saya ndak bisa masak. Santai sajalah.

Satu hal yang pasti, kemampuan saya yang tidak bisa memasak (IYA, itu kemampuan. Bukan kelemahan), membuat saya hidup lebih sehat. Well, mencoba hidup lebih sehat. Saya sekarang hampir tiap hari makan salad. Makan buah dan sayur segar. FRESH! Tanpa diolah lagi. Jadi kayak bugs bunny, makan wortel renyah. Atau timun. Atau makan siang dengan sekotak tomat segar. Bukan karena mencoba gaya hidup sehat murni, atau jadi vegan. Itu karena saya ndak bisa masak. Lebih gampang ya mengkonsumsi bahan makanan apa adanya.

Lagian, hemat. Ndak perlu nyalain kompor. Ndak perlu beli bumbu. Paling sebotol salad-dressing yang paling murah. Tapi kadang mentimun, wotrel dan tomat ndak perlu dikasih apa-apa cukup enak. Murah pula.

Jadi, logika di atas harus diubah:

“Tinggal di negeri orang — beli makanan mahal — ndak bisa masak — pake bahan segar — langsung dimakan — gaya hidup sehat”

Nah. Mungkin nanti orang akan lebih bertanya, “Loh perutnya agak kurusan sekarang, hidup sehat ya?” daripada “Sudah bisa masak apa saja?”

Hemat dan Sehat itu sederajad…

Perth, 16 Sept 2015