Tag

,

Saya ini bukan orang pintar atau pandai. Kalau saya orang pintar, tentu saya sudah dikejar banyak orang diminta meramal. Lha Permadi yang terang-terangan bilang dukun politik saja banyak mblesetnya, apalagi saya. Orang pandai jelas bukan. Orang pandai ndak bakal dapet nilai statistik D dan nilai IAD musti ngulang dua kali biar dapet C, kayak saya.

Jadi dibanding kolega-kolega dosen lainnya, sebetulnya saya ini orang yang pas-pasan. Utek yo gak sepiro’o, tampang yo ngepas. Pas manis. Jadi, kalau sekarang saya kebetulan sekolah ke negeri kanguru ini, saya rasa ini bagian dari kebetulan saja. Bukan karena kepandaian. Lha wong bacaan saya saja Miiko, Tintin, Donald Bebek, Naruto. Mana ada buku-buku sakti dalam bacaan favorit saya. Kalah njiper jauh dah dibanding kolega yang lain.

Termasuk urusan bahasa Inggris. IELTS saya yo ngepas. TOEFL juga. Dulu waktu proses test fullbright-dikti, test toefl saya sampai diulang dua kali. ALasan resmi-nya sih biar dapet nilai yang menjadi batas aman. Saya curiga itu karena nilai saya ngepas banget. Akhirnya, saya ndak jadi fullbright. Milihnya ke sini. Soalnya pas kebetulan merasa pernah di sini, jadi ya kenapa tidak? SUdah kenal daerahnya, dan tahu dimana cari barang bekas murah meriah. Hahaha

Jadi, soal bahasa Inggris ini ya saya juga ngepas sebetulnya. Wong diskusi sama supervisor saja, saya gelagapan. Presentasi yo nerves (nerves ini beda sama tipes ya). Apalagi pas ketemu Ozzie yang logatnya super medok itu, mending garuk-garuk kepala aja deh. (kepala saya, bukan kepala dia). Ini memang kadang jadi persoalan. Soal kecil sebetulnya. Tapi membuat jadi kangen Indonesia.

Seperti sekarang ini. Ini lagi musim semi. Hah? Semi? Semi itu dulu golongannya bokep-bokep yang ndak kelihatan bulat semua itu loh…(HUSH!). Musim semi ini semua berbunga. (Kecuali tabungan). Bikin orang sering sakit. Kalau di negeri sendiri, istilahnya pancaroba. Pancaroba ini kambing hitam sejati buat semua hal. Samalah dengan global warming. Pilek dikit, pasti pancaroba. Demam, karena musim pancaroba. Dan sampai sekarang saya ndak pernah tahu kenapa dinamakan pancaroba. Panca artinya lima, roba artinya? Ah, sudahlah.

Nah, musim semi ini bikin saya sakit ndak jelas gitu. (Aslinya karena kecapekan terus begadang nonton pelem). Kayaknya semua jenis sakit pancaroba itu muncul. Yo demam, pening, pilek, batuk, dahak, hidung tersumbat, lemes, kabeh metu wes. Sak-entut-entute. (Serius nih)

Kalau sudah begini, saya kangen dokter Indonesia. Kangen kakak saya yang dokter. Bahasa inggris saya yang pas-pasan begini membuat saya harus mikir dua kali buat curhat ke dokter soal apa yang saya rasakan. Iki wes loro, dijak mikir… Kalau sama dokter Indonesia kan enak. curhatnya lancar.

“Iya dok, kemaren itu saya nggereges menggigil sampe gak iso tangi. Panas sih ndak, tapi perut kok rasanya gajk enak, sampe ngentut terus (AWAS, JANGAN SALAH, JANGAN FITNAH, itu NGENTUT. Bukan kata yang lain. Nanti suka pitnah kayak seleb-book sebelah). Habis kentut, langsung nggliyeng gitu dok. Mulut rasanya pahit, bibir pecah-pecah, kalau nelen sulit banget. Rasanya tenggorokan ini diganjal pintu. Sudah gitu pilek ngocor terus, sampe ijo-ijo gitu. Sambil wahing-wahing. Piye dok?”

Biasanya sang dokter akan memandang dengan penuh perhatian. Kemudian menulis resep. Joss. Curhat ditampung, resep keluar.

Di sini, mau curhat mikir dulu bahasa inggris-nya biar ndak salah dan ndak malu-maluin. Terus, kan pake jaim juga. Mosok yang kentut dan ingus ijo dikeluarkan? Taruhlah curhatnya lancar.

Dokternya akan mengangguk tersenyum, kemudian bilang ” You need to take a rest. Drink a lot of water, and sleep”.

Ngunu thok.

Bikin janji seminggu sebelumnya, antre, mikir curhatnya dalam bahasa inggris, njeketek disuruh tidur.

Begini ini yang bikin saya kangen Indonesia. Ke dokter itu bukan buat berobat aja, tapi juga buat curhat. Hihihi

Perth, 14 September 2015