Tag

, ,

Salah satu untungnya sekolah lagi bagi dosen adalah terbebas dari hal-hal yang bikin sakit kepala. Termasuk saat masa KRS tiba. KRS itu beda sama KRL, atau KRAM. Ini saat mahasiswa menentukan rencana studi pada masa semester berjalan berikutnya. Ini saat yang tiba-tiba membuat dosen pusing kepala juga. Karena hal-hal berikut ini:

Pertanyaan klasik mahasiswa yang malas mikir: “Semester ini saya harus ambil apa?”

Lah, yang kuliah siapa? Harusnya tahu dong semester ini mau ambil apa. Ini kayak kamu berdiri di depan penjual duren dan bertanya, “Saya harus beli apa ya?”. (*langsunglemparduren). Situ mahasiswa. Udah tahu persis harusnya mau ambil apa, mau kuliah apa. Saya sih simple, kadang saya jawab, “Ambil computer aja. Habis itu dijual..”

Pertanyaan klasik juga “Mas, saya ndak mau ambil matkul A, tapi kan wajib, jadi gimana dong?’

Awalnya, saya pikir ini pertanyaan retoris. (retoris itu = re-toris, Re= kembali/diulang, Toris= turis/wisatawan, jadi retoris = jadi turis lagi). Tapi, dugaan itu salah saat sang mahasiswa ternyata menunggu jawaban saya. Buset. Ini sama kayak kamu berdiri depan polisi sambil berkata, “Pak polisi, saya ndak mau pakai helm, tapi kan wajib pake helm, kalau ndak pake helm, saya pasti ditangkap.”. Nah, tanya aja terus sampai Metallica bikin lagu keroncong! Intinya, Kalau udah tahu wajib, masa musti ditanya lagi?

Mahasiswa kebanyakan SKS. Penginnya diambil semua.

Saya senang kalau mahasiswa saya pintar, pandai (tapi biasanya juga jomblo). Salah satu penanda sederhananya adalah karena nilai semester sebelumnya bagus, maka dia bisa mengambil SKS maksimal. Biasanya 24 sks, yang artinya kurang lebih dia bisa ambil 7-8 mata kuliah. 8 matakuliah seminggu itu banyak bro.. Cuk, akeh men iku. Bagi saya, itu kebanyakan. Ayolah, hidup kalian itu tak hanya kuliah. Di kelas. Apalagi kalau dosennya 4L (Lu lagi, Lu Lagi). Sumpah bosen. Okelah kalian ndak bosan, tapi SAYA-nya yang bosan. Lebih apes lagi kalau 8 mata kuliah itu saya jadi tim pengajar. Anjrit, hidup saya dipenuhi muka yang sama selama 5 hari seminggu, 20 hari sebulan, 120 hari selama satu semester? Kalian ndak kasian sama saya? (Saya yakin kalian jawab “Ndak” dengan tegas. Awas loh kalo ketemu..). Ayolah, hidup kalian itu divariasikan. Ikut organisasi apa kek, cari pacar kek, rebut pacar orang kek, ikut lomba kek, bikin pelem kek.. hidup kok kuliah melulu.

Mahasiswa kebanyakan SKS, bingungan.

Kekacauan poin sebelumnya akan lebih sempurna jika kalian juga bingungan. “Saya ambil matkul A aja deh, tapi kan itu tugasnya banyak?”, atau “Matkul C asyik, tapi kan ndak wajib?” atau, “matkul B boleh juga, tapi dosen-nya ngentutan, ndak ah”, “Matkul K bentrok sama matkul G dan matkul X, duh gimana ya?” Ini bikin dosen kayak saya ini kehabisan opsi saran. Jadi mending saya tinggal dulu aja boker sampai enteng, dan balik lagi.

“terus, gimana? Mau ambil matkul mana aja?”

“Udah mas, saya penuhin 24 SKS. Fix.”

“Ok, final ya ini”

“Ya mas. Tapi kalau ada satu yang ndak lulus, gimana mas? IP saya jadi turun dong”

Saya tinggal boker lagi aja….

Mahasiswa SKS minimum, Ambisi maksimum

Saya kadang kasihan, tapi mahasiswa tipe begini kadang perlu dikeplak biar sadar diri. Sudah tahu jumlah SKS minimum, tapi ambisinya maksimum. Saya paham dan mendukung kalau ambisi itu perlu buat memaksimalkan kemampuan, tapi mbok ya realistis juga. Udah gitu, ndak nyadar, kadang hal itu disebabkan karena mereka juga. Lalai di semester sebelumnya.

Mahasiswa last minute.

Ini mahasiswa yang merasa dunia milik mereka dan dosennya cuman numpang boker. Proses konsultasi dan bimbingan diminta pada saat-saat terakhir, menjelang penutupan. Ndak tanggung-tanggung, mereka biasanya memerintahkan dosennya untuk di kampus atau ada untuk mereka setiap saat. “Mas, saya ke kampus ya, tolong disapprove mas, dua jam lagi KRS online-nya ditutup”, atau “Loh, mas kok ndak ke kampus? Saya nunggu untuk diaprove mas. Tolong yang cepat ya, soalnya saya belum print utk dibawa ke akademik,” (dan saya memang sedang boker juga saat itu. Jadi, pilihannya: boker dipercepat, dengan menambah tenaga, atau boker-nya dibatalkan, semua ditarik kembali. Bingung kan?)

Kayak gini, dosen wali merasa boss-nya jadi tambah banyak. Perasaan kemaren-kemaren cuman dekan sama rektor.. kok bisa nambah jadi anak ini?

Mahasiswa sok ngetop

Biasanya ditandai dengan SMS atau whatsapp “Mas, dimana? Saya di kampus nunggu tanda tangan”. Situ siapa hoiiii? Nama..namaaaa… terus saya disuruh teriak gitu di kampus, “Hoi, yang kirim sms nunggu tanda tangan, kesini yaaa..saya sudah di kampus..”. Maapkan, saya tidak menyimpan semua nomer telepon mahasiswa. Bukan pilih-pilih, mahasiswa di kampus total ada 400 orang. Mau disimpan semua? Ayolah, saling bantu. Kasih nama gitu.

Mahasiswa Galau

Ini juga bikin dosennya juga galau. Hari pertama sampai hari ke-14, pilihannya berubah terus. Saya ndak masalah berubah-ubah, tapi seringkali itu terjadi karena hal yang sepele, plus sebelumnya dia sudah minta system-nya di-approve. Akhirnya yang saya lakukan, semua permintaan approval saya iyakan tapi tidak saya lakukan, sampai menjelang deadline, baru saya pastikan.

“Okay..sudah ya. Saya approve sekarang”

“Okay mas. Makasih mas”

Saya approve. Kemudian saya pergi nonton. Di tengah jalan muncul SMS, “Maaf mas, maaf banget, matkuliah C dihapus lagi mas. Saya lupa kalau jadwalnya bentrok sama saya jemput pacar saya,”

Faaaaaaaaakk…

Mahasiswa Salah Doli

Ini biasanya panikan. Datang tiba-tiba, panik. Kemudian minta bimbingan. Setelah bimbingan, dia bilang, “Oh maaf mas, Dosen wali saya ternyata Bu X.”. cepat. Saya juga tolol. Kok ndak ngecek.

A promised Student (Kalau dibahasa-Indonesiakan versi saya, Mahasiswa Penjanji)

Ini mahasiswa yang semester sebelumnya dapat paket hemat, karena IPK0nya satu koma, kemudian berjanji akan memperbaiki semua semester berikutnya, kemudian semester depan datang lagi dengan paket hemat, dan berjanji akan diperbaiki semester depannya. Begitu aja terus sampai Metallica bikin lagu Qasidah (2)

Bonusnya adalah si mahasiswa biasanya membuat variasi penyebab. Kalau semester 3 misalnya, matkul X harus diulang karena dia ndak tahu apa sebabnya ujian akhirnya dapet E, maka semester 4, untuk matkul yang sama, dia lagi-lagi dapet E, kali ini karena “Ndak tahu, padahal saya masuk terus tapi nilai tugas saya ndak ada”. Semester berikutnya, “Dicekal karena ndak masuk 4 kali, padahal saya sudah merasa tanda tangan presensi”. Semestger berikutnya, “Dosennya plih kasih, saya dikasih nilai minimum”. Asyik juga sih…alasannya ada terus.

Mahasiswa Hantu

Ini mahasiswa yang ndak pernah kelihatan batang hidungnya, apalagi batang yang lainnya. Kalau pengumuman berkumpul, tidak datang dengan beragam alasan, minta tanda tangan diwakilkan temannya, dan tak pernah konsultasi. Dikirim email tak direspon, dipanggil lewat temannya tak pernah datang dengan beragam alasan. Saya menyerah sendiri. Tapi, isian KRS online selalu beres, minta approval melalui temannya. Ya sudahlah. Semoga bukan hantu beneran.

Tapi ya, untungnya ndak banyak yang seperti itu. Seperti orang Indonesia umumnya, saya bersyukur dan mensyukuri bahwa mahasiswa bimbingan saya masih dalam batas normal. Dan bisa ditoleransi. Kasus-kasus di atas memang yang sangat luar biasa sekali.

Cuman, untungnya, saya sekarang terbebas dari semua itu. HAHAHAHAHA. (bergema dan panjang).

Perth, 12 Agustus 2015