Tag

, ,

Dua email masuk tadi pagi mempertanyakan hal yang sama.

Email pertama: “Mas, kok cuman jomblo doang yang diperhatikan. Yang sudah punya pasangan juga dong. Malah yang punya pasangan lebih perlu motivasi.”

Betul juga. Jangan-jangan malah karena tulisan saya bikin mereka putus. Karena melihat posisi jomblo lebih menguntungkan. Lahir bathin. Dosa saya tambah dong. Oleh jombloers saya dicap jomblo-haters, oleh non jombloers, saya dianggap jomblo-lovers. Susah. Hidup sekarang ini mesti hitam putih begitu ternyata. Kalau saya mah, milih hitam manis. Ya kayak saya ini.

Email kedua: “Pak Satrya, kami yang sudah menikah juga boleh dong minta sarannya. Masak studi keluar negeri ndak bisa buat yang sudah menikah. Kan bapak juga sudah menikah.”

Nah. Penulis email kedua pasti sudah tua. Makanya panggil saya pak. Kalau di kelas saya, sudah saya suruh keluar nih. Hehehe.. Tapi benar juga. Yang sudah menikah juga boleh dong didorong untuk sekolah. Saya pernah mengalami situasi saat sulitnya minta ampun mencari kandidat yang mau disekolahkan ke eropa untuk program doctor. Peminatnya dibawah kuota.

Dua email itu menjadi inspirasi tulisan saya berikutnya. Saya mulai dengan yang berpasangan. Yang tentunya secara hukum dan adat belum menikah. Kalau secara biologis ya bukan urusan saya brooo.

Masak sama dengan yang jomblo? Tentu tidak. Tapi argumentasi saya tetap, kalau kamu punya pasangan, saatnya studi keluar negeri. Eh, sebentar, batasi dulu, punya pasangan itu apa maksudnya.

Punya pasangan bisa diartikan kamu yang sudah punya pacar (pernah dengar ajakan langsung “mau jadi pacarku?”); pernah bawa pasangan ke rumah dan diperkenalkan kepada orang di rumah sebagai “Ini pacarku”; Pernah bersama-sama foto box dengan gaya bebek gitu, fotonya diisi tulisan “Luv YU FOREVER, CHAYANKKHUH.” Terus diposting di facebook dan di-like sendiri; atau bisa juga kamu yang gak pernah bilang pacaran, tapi kerjaannya nyosor terus; TTM (teman Tapi Merapat, teman tapi Menggrepe)

Studi keluar negeri bagi kalian yang berpasangan adalah saat yang tepat buat kalian menguji kedalaman dan ketulusan pasangan kalian. Ini bisa kalian nilai saat pertama kalian menyampaikan keinginan:

“Yang, aku kepengin sekolah di Jerman nih. Gimana yang?”

  1. Kuatkan ikatan kalian jika dia berkata, “Okay, kamu perlu duit berapa? Berapa lama? Perlu dibelikan apartemen ndak? Mau berangkat dengan kelas bisnis? Atau sebelum sekolah kita jalan-jalan keliling eropa dulu?”. Yang kayak gini, cepetan dikawinin aja. Jarang-jarang loh.
  2. Segera berpikir ulang jika dia berkata, “Oh gitu ya? Ya udah. Cepetan berangkatnya ya. Besok kan? Kalau bisa baliknya jangan cepet-cepet. Oh, besok aku juga mau ganti nomer hape sama email”. Ini indikasi sederhana. Putuskan segera.
  3. Pertimbangkan jika dia berkata, “hah? Waduh. Yuk bicarakan dulu. Kita liat untung ruginya. Mungkin aku juga bisa ikut. Atau paling ndak, ada yang bisa kubantu?”. Paling tidak, dia rasional. Mau mikir. Siapa tahu malah berubah jadi nomer 4.
  4. “Wah, aku juga punya pikiran yang sama. Yuk, apply bareng. Terus berangkat bareng. Kapan kita mulai?”. Yang kayak gini, perlu ada backsound lagu cinta begitu. Ada bibit soulmate.

Studi keluar negeri bisa dipakai sebagai indikator rasa dan perasaan. Anda bisa lihat gimana pasangan anda. Apa benar dia cocok. Apa benar dia bisa saling melengkapi. Kan ada lagu bilang “You complete me”. Ini tidak berarti pasangan anda harus ikut. Ndak harus. Siapa tahu dia juga ada beban tanggung jawab sehinga tak bisa ikut. Mendukung punya banyak cara bukan?

Tapi memang kondisi ideal yang akan saya tawarkan di sini adalah, jika anda pergi bersama pasangan anda. Studi keluar negeri bersama pasangan anda. Menyenangkan. Kalau ndak percaya, banyak tuh hadiah tamasya keluar negeri pasti ditawarkan untuk dua orang. Jadi biar ndak ngaplo sendirian kayak jomblo (Nah, abaikan tulisan saya soal jomblo kemarin itu)

Studi keluar negeri bersama pasangan dapat menjadi pemantapan perasaan. Pernah nonton road movie gitu kan ya? Dalam perjalanan, selalu ada dinamika yang membuat pasangan itu lebih memahami masing-masing. Memang ada dua sisi. Ada yang tambah erat dan cinta. Ada juga yang justru terluka tapi menyadari bahwa saatnya pasangan dimasukkan ke “friend-zone” only.

Studi keluar negeri bersama pasangan juga asyik. Setidaknya ada “teman” berbagi cerita, susah, duka, dan kalau perlu sebagai tempat mencari pundak. Untuk mendapatkan “pukpukpuk” segera, tanpa delay, tanpa hambatan pulsa.

Study keluar negeri bersama pasangan juga bisa buat saling melengkapi. Anda yang biasa difoto, pasangan anda bisa memfoto. Anda biasa jalan tanpa barang, pasangan anda bawa barang. Gitu deeeeeh. Kan “yu komplit mi”

Studi keluar negeri bersama pasangan juga bisa dipake ajang menghemat. Makan sepiring berdua, anda lauknya, pasangan anda nasi-nya. Minum sebotol berdua, pasangan anda minum airnya, anda megang botolnya. Malah kalau mau romantic, makan satu hotdog berdua, anda ujung kiri, pasangan anda ujung kanan. Akhirnya, rebutan. Hotdoc jatuh, anda berdua kelaparan. Tapi kan berdua. Ketimbang kelaparan sendirian? Terus nangis sendirian. (Sekali lagi, abaikan tulisan saya soal jomblo itu)

Studi keluarnegeri bersama pasangan memang seperti film. Klise. Tapi, saya tahu setidaknya dua pasang teman saya yang mengalami itu, menarik. Mereka jadi tahu benar perasaan masing-masing. Pasangan pertama, akhirnya menikah saat mereka studi. Menikah tamasya gitu akhirnya. Malah akhirnya punya anak di negeri orang. Lengkap. Pasangan satu lagi, menikah saat kembali ke Indonesia. Dan sekarang berkelana lagi berdua ke negeri orang. Studi. Berdua lagi.

Jadi, kalau kamu punya pasangan, saatnya studi keluar negeri. Tunggu apa lagi?

PS: buat bapak yang minta saya soal studi keluar negeri saat sudah menikah, sabar pak ya.

Perth, 28 Juli 2015