Tag

, ,

Menulis tema ini sebetulnya sulit buat saya. Sudah ribuan tulisan soal ini dipublikasikan di internet. Rasanya, bagi saya, basi kalau menulis lagi. Tapi colekan dua mahasiswi saya yang pintar-pintar membuat saya berpikir ulang. Mungkin saya harus berbagi perspektif yang berbeda soal studi ke luar negeri. Pengalaman jadi mandor di sebuah unit yang ngurusin studi keluar negeri, mungkin juga bermanfaat. Jadi, kalau anda mau cari informasi yang serius soal bagaimana studi keluar negeri, cobalah liat blog ini: http://madeandi.com/scholarships/ Pak made ini sakti mandraguna kalau soal beasiswa. Kabarnya, orang Bali memang begini ini: pintar, baik hati. Tidak termasuk saya. Saya mungkin termasuk orang bali yang agak mlingse :p. Manis sih iya, tapi kalau pintar, hmmmm. (Jadi ingat nilai statistic deskriptif D).

Nah kalau soal motivasi studi keluar negeri, ini bisa jadi belum banyak ditulis. Apalagi kalau dari perspektif yang agak berbeda. Saya mulai dengan perspektif favorit saya, dan yang paling dibenci mahasiswa saya: Jomblo.

— Ya Tuhan, salah jomblo apa?

Nah, anda salah. Saat ini, dengan bangga saya akan sampaikan bahwa kalau anda Jomblo, anda berarti dalam waktu yang sangat tepat untuk studi keluar negeri.

Sebentar, kategori jomblo yang saya maksud adalah: anda belum punya pacar; tidak punya pacar; belum pernah pacaran; gak tahu apa itu pacaran; ngaplo kalau liat orang pacaran; punya pacar tapi pacarnya ndak pernah peduli anda dimana; punya pacar tapi anda ndak pernah jalan bareng; punya pacar tapi pacar anda jalan sama orang lain; punya pasangan tapi ndak tahu namanya apa, pacar atau teman.

Anda yang sudah menikah, boleh sih mengaku jomblo. Tapi saya punya tulisan lain soal ini. Jadi, sudahlah, minggir dulu. Ini saatnya saya memotivasi anda yang jomblo. Saatnya saya berkata, Jika anda Jomblo, ini saat yang tepat untuk studi keluar negeri.

Studi keluar negeri saat anda jomblo adalah berarti mengurangi tekanan dan pikiran perasaan anda akan “ditinggalkan dan meninggalkan”. Anda akan lebih bebas. Iya, anda akan kepikiran keluarga di rumah. Bukankah saat jomblo adalah saat anda berkelana, bebas pergi kemana saja. Tanpa harus ada sms: “yang, kemana saja? Bersama siapa? Ngapain saja?”.

Kebebasan itu misalnya saat anda memilih kampus atau bahkan negara tujuan. Jika anda berkeluarga, anda harus memikirkan keluarga anda. Itu wajib. Sekolah anak dimana, dan sejenisnya. Tapi, itu tidak berlaku buat anda. Anda kan jomblo? Buat apa mikirin sekolah anak? Anak aja belum punya. Boro-boro, pasangan aja belum ada kok malah mikir anak. GR amat.

Buatlah studi keluar negeri seperti memilih liburan. Jangan mikir sekolahnya. Setres. Saya sih membuat studi keluar negeri itu dengan pengandaian: Liburan keluar negeri, bawa anak istri, dibayari pemerintah luar negeri, dengan imbalan, saya harus meneliti. Buat saya, itu asyik sekali. Saya selalu mencoba melihat semua hal dari perspektif yang menyenangkan. Hidup sudah cukup susah. Liburan adalah pengalaman yang menyenangkan. Kenapa tidak dipakai sebagai alasan?

Anda, terutama jombloers sejati, kan sudah pengalaman melakukan semuanya sendiri. Jadi, apa salahnya jika studi keluar negeri dipakai sebagai sebuah pengalaman ‘sendiri” lagi. Life as usual, mate.. kalau biasanya: nyuci-nyuci sendiri, masak-masak sendiri, makan-makan sendiri. Bayangkan, semua itu dilakukan di luar negeri. Naik pesawat sendiri. Iya, ngaplo dan ngenes-nya sama sih, tapi kan beda. Biasanya dibully pas naik angkot sendiri pulang dari kampus, kali ini, mau ke Swedia, atau Perancis, dalam pesawat. Atau naik kereta keliling eropa. Beda kan?

Termasuk saat anda sudah di luar negeri. Kejombloan anda akan memudahkan anda untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan travelling misalnya. Anda bisa pergi kemana saja, kapan saja. Tidak harus mikir, “ini kapan anak libur sekolah yaaa”. Alhasil, anda sering dapat tiket murah karena anda pergi tidak pada masa libur sekolah. Percaya deh. Anda seperti akan di surga saat melihat harga tiket pesawat pulang pergi hanya setengah dari harga kost anda di Surabaya. Tentu, anda tidak bisa merasakan family discount, tapi hei…masing-masing ada rejeki-nya. Sudahlah, manfaatkan dulu rejeki anda saat anda jomblo.

Jadi, buatlah perspektif awalnya: jomblo berlibur keluar negeri, sendiri, dibayari, dengan bonus studi. Syukur-syukur, ketemu tambatan hati.

Nah, tambatan hati ini jadi motivasi kedua. Bayangkan, anda jomblo, di negeri sendiri, ditolak atau putus berkali-kali, ketemunya orang itu-itu saja berkali-kali. Bisa jadi karena kurang orientasi. Kurang pemandangan baru. Studi keluar negeri bisa jadi opsi. Anda akan bertemu banyak orang yang berbeda. Anda akan diberikan lebih banyak pilihan. Bukan, ini bukan soal pilihan ras untuk dikawini. Ini soal memberikan anda pemahaman lebih luas: Hoi…cowok-cewek di luar sana masih banyak. Jangan khawatir. Kan anda selalu beralasan, jodoh ada di tangan Tuhan. Saya bisa menambahkan, kalau situ ndak usaha nyari, ya, tetap aja jodoh di tangan Tuhan. Bukan di tangan anda. Menurut saya, ungkapan itu maksudnya, “Jodoh di tangan Tuhan, manusia berusaha dulu dong”.

Anda akan menemukan komunitas sendiri yang bisa jadi cocok dengan anda. Barangkali, anda selama ini jomblo, karena belum menemukan komunitas yang sehati. Siapa tahu, dengan studi keluar negeri, anda bisa temukan. Misalnya membentuk komunitas jomblo dunia, atau komunitas jomblo hobi travel. You will find the way, anyway busway…

Motivasi ketiga, masih serempetan sedikit soal pasangan, anda akan lebih leluasa loncat sana loncat sini dalam pergaulan. Anda bisa masuk dalam banyak budaya teman yang berbeda. Anda bisa merasakan hang out dari pagi sampai pagi dengan teman-teman dari banyak negara. Anda bisa jump in saat ada rencana gathering atau single party. Tentu itu semua tergantung anda sih. Anda sendiri yang membuat garis batas pribadi anda. Tapi rasanya akan aneh, jika sudah studi di luar negeri, anda setiap hari di kampus dan apartemen tanpa ada niatan pergi kemana bersama teman-teman anda. Kalau cuman gitu doang, di rumah sendiri juga bisa. Saatnya eksplorasi, kawan… Bukan, saya tidak mengajak anda untuk melewati batas-batas norma. Yeah, saya bukan orang yang alim. Yang saya maksud adalah, saatnya anda melakukan eksplorasi budaya mumpung anda punya jaringan pertemanan yang lebih luas. Malah, kadang anda bisa hemat loooh. Suatu waktu, anda ingin travel ke Turki misalnya, dan anda punya teman dari Turki, siapa tahu anda bisa menginap di rumahnya. Hemat. Kesmepatan itu akan lebih besar ketimbang misalnya, anda bawa keluarga.

Ini berkaitan dengan motivasi keempat: Murah dan hemat. Saat anda jomblo, anda bahkan bisa memilih kota atau negara yang terkenal mahal misalnya, karena kejombloan anda akan memberikan banyak kesempatan buat anda. Anda bisa share apartemen, anda bisa ngekos. Hal-hal yang susah dilakukan anda yang punya keluarga. Anda relatively akan lebih mudah mencari pekerjaan karena waktu yang agak bebas. Anda bisa kerja malam, subuh, atau malah tidak kerja. Dalam banyak kasus, kalau beasiswa anda beres, dan anda terbiasa hidup apa adanya, malah seringkali anda tidak perlu bekerja lagi. Tinggal nikmati hidup. Tapi, hei, bekerja juga menambah pengalaman. Menambah teman. Tentu, menambah tabungan. Minimal, mengurangi waktu anda meratapi kejombloan anda. Nah ini jadi motivasi kelima.

Anda bisa punya waktu untuk lebih produktif. Daripada tiap hari meratapi kejombloan anda, lebih baik ikut misalnya volunteer di mana gitu. Pasti akan banyak ditawari di kampus. Atau menekuni hobi anda. Ikutan club kampus anda. Kalau perlu yang agak tidak biasa. Misalnya Beer Club. Hehehehe. Atau, kalau anda masih berkutat dengan kejombloan anda, ya ikut single club gitu deh. Jadi anda tidak perlu merasa andalah jomblo paling nelongso di dunia. Jangan GR.

Saya yakin, studi keluar negeri, akan membantu pergeseran pemahaman anda, tidak hanya tentang dunia, tapi yang lebih penting, tentang diri anda sendiri. Bahwa, banyak hal di luar sana bisa anda raih, bisa anda jelajah. Bahwa anda jomblo, itu tetap. Kecuali kalau anda sendiri mengubahnya. Jadi, Mblo…saatnya anda pergi.

Catatan: tulisan ini sebaiknya dibaca mereka yang jomblo dengan pemikiran yang terbuka. (tapi telat ya, kasih catatan kok di akhir tulisan)

Perth, 27 Juli 2015