Tag

, ,

Sekarang lagi jamannya memberikan tips praktis. Coba lihat di toko buku. Semua ada tips-nya. Tips praktis mencari pacar, tips praktis kaya raya, tips mutusin pacar, tips tetap jomblo. Saya coba memberi tips sakti ujian skripsi. Bukan, bukan sakti yang anak komunikasi yang pinter desain itu. Ini juga belum tentu “sakti” amat. Tapi, ya namanya juga tips, pasti harusnya bisa dicoba. Kalau ndak bisa dicoba namanya bukan tips. Berikut beberapa diantaranya.

Banyak berdoa, berusaha dan bekerja. Ya elah. Ini bukan tips lagi. Tapi, ya standar memang. Tak ada salahnya dicoba. Lagipula ini baru pembukaan. Kalau pembukaan pasti hal-hal umum. Lagipula, kalau nanya teman, apalagi pas bulan puasa begini, biasanya jawabannya juga agak religious.

Catat dan ingat jadwal dan detail ujian skripsi. Nah, terutama bagi kalian yang super pelupa, suka lupa, dan biasanya lupa. Banyak kejadian mahasiswa lupa ujian skripsi, yang disalahkan dosen penguji atau petugas administrasi. Katanya, kenapa ndak diingatkan. Nah. Siapa eluuu..

Jangan berlagak jagoan dengan belajar dan membaca semua buku teori pada malam menjelang ujian. Sudahlah. Sudah terlambat. Lebih baik bikin hati tenang dan senang. Lupakan semua teori itu. Manjakan pikiran dan badan. Relax.

Jangan habiskan waktu menebak siapa yang menguji. Buang-buang waktu. Tidak akan mengubah hasil. Lagipula elemen surprise akan membuat adrenalin jadi makin asyik. Bayangkan saja kalau yang datang menguji tiba-tiba misalnya, little john langsung. Asyik kan. Pingsan-pingsan gimanaaa gitu.

Jangan terintimidasi dengan beberapa hal ini:

Wajah serius para dosen yang baru masuk. Ini ujian. Masak pecicilan. Atau ketawa-ketiwi. (persoalannya, dosen komunikasi kalau mau nguji, kelakuannya juga pecicilan semuaaaa..repot kan:P) Siapa tahu muka mereka serius karena memikirkan nasib bangsa. Atau mikir hutang yang harus dibayar hari itu. Atau justru memang mukanya default-nya begitu. Sudah template-nya mau gimana lagi. Lah, mr bean mau muka dibuat serius tetap aja bikin ngakak.

Skripsi yang halamannya banyak dilipat. Itu bukan satu-satunya indikator dibaca. Siapa tahu dosennya lagi iseng aja ngelipat halaman. Samalah kayak orang yang lagi asyik baca tapi kakinya sambil jahit. Atau tangan muter-muter pulpen. Atau yang lebih parah, skripsi yang banyak halamannya dilipat itu belum tentu skripsi kalian! Loh, bisa jadi, dosen penguji bawa skripsi orang lain saat ujian kalian. Siapa yang bisa menjamin? Kan situ juga ndak bakal tanya. Berani, nanya?

Skripsi yang halamannya banyak coretannya. Biasanya malah ditunjukkan dengan cara dibawa dan diperlihatkan bagian cover. Bagian covernya saja sudah penuh lingkaran dan silang begitu. Itu belum tentu kalian banyak salahnya. Siapa tahu itu hanya indikasi keingintahuan penguji. Siapa tahu hanya iseng bikin lingkaran. Siapa tahu itu hasil kerjaan anaknya dosen penguji. Nemu kertas setumpuk di meja kerja ibu atau bapaknya, langusng main coret. Siapa tahu juga itu coretan iseng dosennya. Jangan terintimidasi dulu.

Jangan juga terintimidasi dosen yang begitu masuk langsung melihat muka kamu serius. Lama, dan sangat serius. Seolah-olah berkata, “Matek koen saiki…gak iso jawab koen saiki.” Dosen menatap kamu dengan serius itu ada tiga kemungkinan: 1. Memastikan dia tidak salah masuk ruang ujian, saking banyaknya yang diuji. 2. Mengingat kembali muka kamu, karena saking banyaknya yang diuji, dia memastikan bahwa ini bukan muka yang sama yang diuji sebelumnya. 3. Muka kamu penuh coretan spidol teman kamu semalam.

Begitu semua dosen hadir, jangan gugup, jangan panic. Apalagi tiba-tiba langsung pingsan. Atau menangis. Dosenmu nanti ikutan panik. Mbok piker nguji iku seneng-seneng tha? Gaji gak sepiroo, ngujine seketapruk.

Ketua penguji biasanya akan menawari, terbuka atau tertutup. Kalau kamu milih terbuka, jangan langsung buka baju. INI UJIAN SKRIPSI HOIII.. bukan striptease.

Kalau ada tawaran terbuka atau tertutup, pilihlah terbuka, Kehadiran teman-teman kalian akan sangat membantu kalian. Terutama mengenali siapa kawan sejati siapa musang dalam selimut. Misalnya, saat kamu ditanya dosen dan ndak bisa menjawab, teman sejati akan menunduk, menutup muka atau menunjukkan ekspresi sedih dan kasihan. Itu teman sejati. Nah, teman yang tertawa dan tersenyum lebar saat kamu terpojok, apalagi dia memfoto kamu dan disebar ke social media saat muka kamu kayak lemper dijejek karena ndak bisa jawab, itu MUSANG. Putuskan dia! (Disclaimer: indikator ini tidak bisa dijadikan rujukan utama, karena biasanya musang akan ikut memasang muka sedih dan tertawa dalam hati.)

Jika terbuka, pastikan bahwa mereka yang kalian undang ke dalam itu disetujui dosen penguji. Sebaiknya tidak mengajak semua pedagang di kantin kampus untuk masuk. Atau semua keponakan kalian yang masih SD disuruh datang. Percayalah, kamu akan tidak lulus lebih cepat dari normal.

Kalian tidak bisa mengontrol dosen dan jenis pertanyaannya. Itu hak penuh dosen. Jadi, responlah dengan sebisanya. Se-ajaib apapun pertanyannya. Respon itu tidak harus jawaban. Bisa saja sekadar ucapan terima kasih, atau pengakuan. Misalnya kalau ada dosen yang mempermasalahkan hal-hal teknis, tak mungkin kalian berdebat dan mengelak dengan menyebutkan, “Bukan salah saya pak, waktu saya kumpulin, salah ketiknya ndak sebanyak itu. Ndak tahu kok setelah dipegang bapak-ibu semua, jadi salah semua,”. Itu cari mati namanya.

Perhatikan jenis pertanyaan. Ada pertanyaan yang ‘menguji’ daya argumentasi kamu. Kadang, kalau saya pribadi, akan mencecar terus jawaban kalau saya merasa argumentasi kamu menarik dan kamu menguasai. Menarik itu. Ada juga pertanyaan yang ‘menjebak’, terutama bagi kamu yang tidak menguasai skripsi kamu sendiri.

Dosen penguji bukan Tuhan. Bukan malaikat. Kadang buku yang dibaca dosen sama dengan yang kamu baca. Yang berbeda barangkali pemahaman. Tidak ada yang salah dari itu selama ada argumentasi yang kuat. Saya yakin, kalau kamu membuatnya dengan serius, penuh hati, dan maksimal, hasilnya juga maksimal.

Tapi, untuk mencoba jujur dan realistis, selalu ada yang namanya factor X. Itu yang tidak bisa dijelaskan. Ada like-dislike, ada karakter yang tak bisa dipahami, ada hal-hal ajaib yang seringkali membuat kita hanya bisa terdiam. Dan memang, dalam konteks ini, mahasiswa secara psikologis, seringkali berada pada posisi yang kalah. Dan salah. Walau, faktanya, sebenarnya adalah kebalikannya. Apa boleh buat, saya hanya bisa berkata, itulah kenapa Dosen (sebenarnya) juga manusia.

Ujian skripsi, bagi saya, seperti main layangan. Biar layangannya naik membumbung tinggi, perlu tarik ulur. Ada saatnya harus tarik yang kenceng, ada saatnya ulur. Kalau dipaksakan tarik kenceng terus, bisa putus. Kalau ulur terus, hilang. Yang bisa tahu ya kamu yang diuji. Kamu yang merasakan di lapangan.

So, tips ini mungkin bukan yang paling sakti. Tapi, mungkin bisa dijadikan referensi. Yang terpenting, skripsi itu dikerjakan. Bukan hanya dipikirkan.

Perth, 29 Juni 2015