Tag

, , , , ,

The D-Day seakan-akan menjadi hari yang paling panjang selama hidup mahasiswa. Seperti hari mereka akan diekskusi. Sementara para dosen memasuki hari itu dengan semangat berbeda: “Ndang dimarekno, kerjoan sek akeh, mari ngene ngoreksi akeh, ngelebokno nilai! Cuk…akeh tenan”

Ritual memulai D-day adalah Ritual Bingung. Bingung memulai dari mana dan untuk apa. Ada yang sehari menjelang ujian tiba-tiba kehilangan kepercayaan dan sedikit ingatan. Mereka bertanya-tanya, “Ini skripsi yang aku kumpul beneran skripsiku ya?”. Ada juga yang tiba-tiba merasa pintar dan sontak menangis tersedu sambil menjerit, “Astagaaaaaaa, perumusan masalahku salahhhhhh” (padahal belum diuji). Ada juga yang bingung mau pakai pakaian apa. Yang bikin dosen penguji jantungan biasanya adalah mahasiswa yang biasanya pakaiannya bergaya klasik (artinya, kaos yang sama yang dipakai selama sebulan tanpa ganti) tiba-tiba saja pakai kemeja, rapi dan bercelana panjang. Lengkap dengan minyak wangi – nyolong parfum adiknya. Yang masih bayi. Yang gambar miki.

Bingung soal baju ini pernah dimanfaatkan oleh orang iseng yang menyebarkan isu bahwa kostum wajib ujian skripsi di komunikasi adalah bawahan hitam atasan putih. Padahal departemen komunikasi tak pernah mengeluarkan pengumuman resmi. Maka, secara saya menguji hampir setiap hari, merasakan ada yang aneh. Hari pertama, menganggap ini kesepakatan antar anak yang diuji. Hari kedua, pakaiannya masih seragam, saya mulai bertanya-tanya. Hari ketiga, saya nyeletuk, kalian ini pada ujian magang di mana?

Ritual bingung yang lain adalag bingung pada saat ujian dibuat open, siapa yang akan diundang, makanan apa yang disiapkan. Buset, mengalahkan orang mau kawin. Departemen sudah membuat kebijakan tidak boleh membawakan konsumsi kepada dosen penguji. Lah, ini malah bingung. Mungkin nanti perlu ujian skripsi dibuat undangan sekalian, seperti ujian doctor. Perlu diselipkan kata-kata “Tiada Kesan tanpa Kehadiranmu”.

Ada juga yang bingung dengan mendadak mengeluarkan dan meminjam semua buku – bahkan mereka yang sebelumnya ndak pernah punya buku tiba-tiba saja mendadak punya buku. Dan berniat membaca semuanya. Dalam semalam. Buset dah. Pekerjaaan selama empat tahun hendak dituntaskan dalam waktu semalam.

Kalau saya, saya selalu menyarankan, sehari sebelum ujian untuk bersenang-senang. Kemanapun, mau ngapain. Terserah. Senang-senang bikin perasaan riang. Hati jadi tenang. Itu yang diperlukan untuk ujian besoknya.

Ritual Gelisah adalah ritual berikutnya. Terjadi beberapa jam sebelum waktu ujian. Gelisah teramat sangat dimulai dengan segenap perhatian, terutama yang jatah ujian pagi, pada areal kantor tempat dosen berkumpul. Untuk memastikan siapakah yang datang. Karena yang datang berarti itu yang menguji. Kegelisahan makin menjadi jika tak ada yang datang. Itu artinya, dosennya lupaaaaaa.

Ritual berikutnya adalah ritual menjadi diri sendiri, yaitu saat ujian. Saya selalu percaya, pada saat ujian, mahasiswa menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Cara dia presentasi, cara dia menjawab, cara dia merespon seluruh proses ujian menunjukkan siapa dirinya. Saya, secara pribadi, selalu menilai hal itu. Ujian skripsi bukan soal kepandaian. Bukan soal kepintaran. Tapi soal ketenangan. Soal kesiapan. Soal menjadi diri sendiri.

Ritual selanjutnya adalah ritual drama. Sebagaimana layaknya drama, ada tawa, ada tangis, ada duka, ada suka. Dosen-dosen komunikasi suka membuat drama. Soalnya bosan juga dua minggu tiap hari menguji empat skripsi. Hari kedua sudah kehabisan cara bertanya. Mungkin nanti sebaiknya pakai rekaman saja. Jadi, daripada monoton, dibuatlah drama. Tapi ritual drama ini kadang memang menjadi kehidupan yang sebenarnya. Misalnya, tak banyak yang bisa percaya saat disampaikan hasil ujiannya tak begitu memuaskan, sehingga diminta mengulang. Atau malah tak lulus. Ini adalah bagian dari drama. Apakah saya menyukai itu? Tidak. Saya tak pernah menyukai harus menyampaikan kabar tak enak itu pada mahasiswa. Tapi, mau tidak mau, sebagai bagian dari mekanisme perkuliahan, apa boleh buat. Ini barangkali proses pembelajaran. Bagi mahasiswa dan dosen. Saya selalu merasa ikut kecewa jika mahasiswa bimbingan saya mendapatkan hasil yang tak sesuai harapannya. Tapi, itulah proses. Tapi saya juga percaya, skripsi bukan satu-satunya ukuran kualitas diri. (Sek, ini kok dadi serius gini…gak asik banget nih)

Ritual terakhir adalah ritual perayaan. Ritual perayaan ini menjadi sarana ekspresi merayakan kegembiraan. Karena sudah melewati tahapan sulit. Seharusnya sampai di situ. Tapi banyak yang salah kaprah. Lulus ujian skripsi dianggap lulus kuliah. Tidak. Jangan lupa skripsi hanyalah salah satu mata kuliah. Dia bukan penentu akhir. Cukup dirayakan sebagai lulus skripsi (kalau lulus). Bukan pasti diwisuda. Karena diwisuda adalah proses kelulusan. Jaman saya dulu, yang lulus skripsi dirayakan dengan penuh kekejaman. Beragam cara: mulai dari dicemplungkan ke kolam ikan di dalam kampus. Kasihan para ikannya sebenarnya. Hidup mereka tersiksa karena tempat hidup mereka dihancurkan tubuh para pejuang skripsi. caranya juga ada yang diceburkan halus dan pelan-pelan. Ada juga yang dilempar. Ini tambah kacau. Cara lain, ada juga yang diceburkan ke dalam got depan kampus! Serius. Yang lebih parah: dikat di tiang listrik depan kampus dan disiram air got! Buset dah. Jadi, dulu, saya khawatir, mahasiswa justru berharap tidak lulus. Lha, lulus tapi diceburin got. Persiapan mahasiswa juga tambah. Baju ganti. Atau latihan lari. Biar tidak ditangkap teman-temannya.

So…ritual-ritual itu bagian dari prosesi mahasiswa komunikasi. Kurang lebihnya begitu. Banyak lebihnya sih, soalnya saya suka melakukan hiperbola. Jadi, dinikmati saja. Kapan lagi bisa begini?

Perth, 26 Juni 2015