Tag

, , , , , ,

Menjadi mahasiswa itu adalah menjadi sosok yang penuh ritual. Mulai sejak awal masuk, hingga mau keluar. Ehm, keluar masuk ini soal mahasiswa lo yah. Kalau pada tulisan pertama kemarin, saya cerita ritual saat mengumpulkan skripsi, kali ini saya lanjutkan dengan ritual setelah mengumpulkan skripsi.

Ritual senyap yang menjadi akhir dari fase pertama skripsi, sebetulnya menandai hari dan malam panjang tanpa ujung yang penuh penantian, kecemasan, kegalauan akut dan kronis. Lengkap dah. Ritual senyap ini bukan akhir. Ritual senyap ini adalah awal dari sebuah penderitaan dan penyiksaan yang lebih berat. Ritual senyap ini terjadi dalam dua fase. Fase pertama adalah fase sembilu.

Fase sembilu dimulai dari sebuah teriakan kecil dan lirih. “Hore, aku ngumpulin skripsi tepat waktu”. Sangat lirih. Sebuah nada ketidakpercayaan terdengar di sana. Bisa ya ngumpulin skripsinya akhirnya. Mengambil nafas sejenak. Beberapa mahasiswa yang percaya diri, memanfaatkan momen ini untuk berterima kasih pada diri sendiri. Dengan caranya masing-masing. Ada yang mulai berceloteh di social media. Ada yang nyekar. Ada yang mendadak ceria menyapa semua orang, termasuk yang tak dikenal. Ada juga yang mulai menyeleksi dan menilai para pendamping sementara masing-masing: siapa yang akan dibuang dan siapa yang dipertahankan. Atau mulai mencari pendamping baru.

Fase sembilu justru lebih terasa pada dosen penguji. Perasaan tidak enak dan kelu itu sudah terasa saat masuk areal kampus. Ada aroma pilu di sana. Kepiluan itu terjawab saat memasuki ruangan dan meja. Pilu kelu dan sembilu bertumpuk jadi satu saat melihat tumpukan skripsi yang harus diuji dalam waktu dua minggu. Jika boleh, para dosen penguji akan sontak tersedu di atas tumpukan skripsi itu. Hendak mengadu pada siapa ya tidak tahu. Membayangkan dua minggu yang pilu. Saat itu, ritual sembilu para dosen diwarnai dengan kegalauan. Apakah tumpukan skripsi ini akan dibaca di kantor ataukah dicicil di bawa ke rumah? Kedua pilihan itu sama tak enaknya. Dan sama beratnya. Seberat skripsinya.

Fase berikutnya adalah fase sunyi sepi. Fase kedua dalam ritual senyap ini menandai kedua belah pihak. Sebagian dosen, yang tak punya pilihan lain selain mulai membaca skripsi yang akan diuji, memulai aktifitasnya. Sebetulnya menyenangkan. Membuat gambar-gambar lingkaran, silang, tanda tanya besar, atau kata-kata pendek seperti; referensi? Klarifikasi? Kalau mau dilampiaskan syahwat mengujinya, akan saya tuliskan, “maca cih?”, “yakin luuu?”, “Eh yang bener ajaaaaa..” atau “Busyet dah, bener banget” atau “Hanjrittt..masak segini doang?”. Seperti kembali ke masa kanak-kanak, menulis gambar silang atau tanda tanya besar dengan spidol merah.

Di sisi lain, para mahasiswa yang akan diuji benar-benar melakukan hibernasi dalam sunyi sepi. Biasanya mulai saat jadwal ujian skripsi dikeluarkan. Karena nama dosen penguji tak diumumkan, biasanya kasak-kusuk mulai terdengar. Kedekatan dengan Tuhan makin terasa. Doa standar mulai dibuat spesifik. Penyebutan nama dan harapan tertentu mulai keluar dalam doa pribadi dengan Tuhan, ataupun dalam status social media. Kadang, kaul dan janji juga mulai muncul. Bahkan dalam bentuk paling ekstrim. “Kalau pak A ndak jadi pengujiku, aku akan pipis sambil kayang selama dua minggu” (jadi kalau anda ketemu anak komunikasi yang jalannya agak pengkang begitu, mungkin dia habis bayar kaul). Atau doa ekstrim, “Semoga Bu Q lupa arah jalan ke kampus saat ujian skripsiku” (Hasilnya kadang benar. Bu Q lupa arah jalan, sehingga jadwal ujian skripsi anak itu, ditunda dengan Bu Q tetap menguji. Ini akibat doa tidak spesifik dan detail.)

Makin hari fase sunyi sepi ini makin terasa. Mahasiswa yang akan ujian skripsi, makin jarang ke kampus. Mungkin biar dikira belajar. Aslinya mendekam di kamar menanti dengan penuh kekhawatiran. Ada yang kreatif. Mereka kontak para seniornya. Mereka minta ditraining. Serius. Ditraining. Di-drill (ini artinya apa ya? Dibor gitu?). Mereka membuat simulasi. Cara menghadapi ujian skripsi. Bahkan bisa memetakan model-model atau tipikal pertanyaan dari dosen dan cara menjawabnya. Barangkali, bimbel bisa melihat potensi pasar dari hal ini. Kursus Intensif Menghadapi Ujian Skripsi. 100 jam pasti lulus!

Akhir fase sunyi sepi ditandai dengan 24 jam menjelang ujian. The D-Day. Bagaimana dengan the D-day?

Perth, 25 Juni 2015