Tag

, , ,

Tampaknya sekarang lagi heboh ujian skripsi. Ini ritual tetap sebetulnya di komunikasi (Unair). Ritual yang menjengkelkan tapi sebetulnya menyenangkan. Karena, ya mau apa lagi? Saya memang digaji untuk itu. Jadi kalau ada yang digaji tapi ndak mau melakukan itu namanya kurang ajar.

Ritual ini akan dimulai dengan keributan awal semester. Para mahasiswa yang heboh “menemukan” dosen pembimbingnya. Berlebihan sih. Tapi ada benarnya juga. Karena seringkali ada yang berharap mendapatkan dosen A, tapi ujung-ujungnya dapat dosen B. Dosen-dosen yang cantik dan ganteng biasanya laris untuk diharapkan. Saya mah ndak laku, soalnya bukan dosen ganteng. Saya kan dosen manis. Saya jadi membayangkan para mahasiswa itu berharap dosen yang jadi dosen pembimbingnya itu dosen ganteng atau cantic. Terus pas bimbingan ngapain? Dipandangin sambil melongo gitu? Atau ludah netes gitu? Ada juga mahasiswa yang beruntung, ada mahasiswa yang ndak beruntung. Yang beruntung mendapatkan dosen pembimbing sesuai keinginan, mungkin akan langsung bayar kaul. Bertapa di gunung kawi seminggu. Atau kaul jalan jinjit di sepanjang jalan ahmad yani. Mahasiswa yang tidak beruntung ada yang shock, menangis guling-guling. Ada yang mendadak membatalkan mata kuliah skripsi. Ada yang langsung nulis status memaki-maki di social media.

Lalu dosennya gimana? Sebetulnya juga sama hebohnya. Heboh menolak-nolak. Biasanya kalau ada mahasiswa yang “hobi” banget sama dosen, ada dua kemungkinan. Satu, mahasiswa tersebut menekuni dengan serius tema skripsinya. Sampai memerlukan waktu lebih lama. Dua, mahasiswa tersebut ndak pernah ada kemajuan berarti sehingga memerlukan waktu lebih lama. Nah, kalau ketemu tipe nomer dua ini, biasanya para dosen beramai-ramai menolak jadi bimbingannya. Hehehe. Malah, sampai ada pernyataan, “Ya sudah, penderitaan saya sebagai dosen pembimbing harus dibagikan juga ke yang lain. Dengan ini bimbingan si A saya serahkan kepada rekan saya..”

Ritual berikutnya adalah ritual bimbingan. Pada fase ini, giliran para dosen pembimbing yang mencoba “menemukan” mahasiswa bimbingannya. Semangat para mahasiswa ini saat awal pengumuman dosen pembimbing sering tak berbanding lurus dengan frekuensi bimbingan. Banyak yang menghilang tanpa jejak. Mungkin tanpa pakaian juga. Yang ada adalah sebuah pertanyaan besar: ini sebetulnya mahasiswa perlu bimbingan atau dosen perlu membimbing ya?

Ritual berikutnya adalah ritual pembalasan. Begitu mahasiswa menghilang saat bimbingan, para dosen tentu senang dong. Jadilah menyusun banyak rencana karena waktu tersedia. Lah, mau apa, mahasiswa saat bimbingan ndak datang. Ritual pembalasan ini biasanya terjadi dalam tiga fase. Fase pertama, fase bulan madu. Fase saat mahasiswa “melupakan” punya tanggung jawab bimbingan dan dosen “menyadari” punya banyak waktu untuk melakukan hal lain. Sama-sama menikmati. Fase kedua, fase pertanyaan. Ini fase saat mahasiswa “mendadak” ingat kalau harus bimbingan. Si mahasiswa mencoba “mengingatkan” dosen pembimbingnya. Si dosen “menyadari” kalau punya bimbingan, tapi karena sudah menjadwal ulang semua, mencoba “melupakan” kalau memiliki bimbingan. Fase ketiga, adalah fase kepanikan. Ini fase saat tingkat waktu yang tersedia berbanding terbalik dengan jumlah halaman yang sudah diketik. Pada fase kepanikan inilah, si mahasiswa mendadak merasa membutuhkan dosen pembimbingnya. Sampai dikejar-kejar. Ndak kenal pagi sbuh siang, bahkan sampai bilang, “Saya tunggu jam berapapun di kampus mas” (saat saya mau masuk pesawat, menikmati 25 jam penerbangan dari kota di seberang benua). Justru pada fase kepanikan inilah, menjadi fase “kepuasan” bagi dosen. Istilahnya, “Saya bilang juga apaaaa. Kejadian kaaaan? Panik kaaan?”

Kemudian, Ritual Negosiasi. Ritual ini ditandai dengan keluarnya jadwal pengumpulan skripsi. Ini adalah saat dosen dan mahasiswa akhirnya bertemu di pengadilan agama. Hehehe. Bukan, bertemu untuk membicarakan “Udah, situ maunya apa sekarang?”. Bagi mahasiswa yang sudah siap sih ndak masalah. Mereka biasanya tinggal menunggu saat pengumpulan. Nah bagi mahasiswa yang kena ritual sebelumnya ini. Ada yang tiba-tiba sudah menyodorkan empat bab sekaligus, padahal cuman bertemu sekali. Di awal bimbingan entah jaman kapan. Ada juga yang menyodorkan bab 1, dengan muka yakin bertanya, “Saya bisa lulus semester ini kan mas?”. Okay, satu, waktu tinggal seminggu. Dua, situ baru ngumpulin bab 1. Tiga, terus seminggu ini saya musti kerja rodi baca skripsi situ?. Empat, yang nentuin lulus bukan saayaaaaaa.

Lalu, Ritual Senyap. Ini saat para mahasiswa yang akan mengumpulkan tiba-tiba lebih sunyi dan senyap di social media dan di kehidupan nyata. Mereka seperti zombie dalam walking dead. Mata panda, wajah kuyu, dan tiba-tiba berteman akrab dengan mas dan mbak rental printer dan fotokopi. Mereka tiba-tiba mencari tahu nama lengkap dosen pembimbingnya. Dengan embel-embel kelengkapannya. Pada fase ini mungkin para mahasiswa baru tahu siapa nama asli dosen pembimbingnya. Ada juga yang punya IQ kelebihan stok, mengingat semua nomer induk dosen. Ada yang mungkin pacaran sama mbak mas rental. Ada juga yang punya pacar baru. Pacar yang mau nganterin, antar jemput kemana-mana saat menyelesaikan skripsi. termasuk ngumpulin. Biasanya, pacar begini ini diputus saat sudah lulus. Purna tugas. Ritual senyap ini selesai saat mahasiswa mengumpulkan skripsi yang akan diuji. Itu berarti, mahasiswa akan memasuki satu lagi prosesi berikutnya….nanti yaaa…

Perth, 24 Juni 2015