Tag

, ,

Seringkali muncul pertanyaan semacam ini pada saya. Atau jenis pertanyaan lain, “Apakah dosen bisa salah?” Untuk kedua pertanyaan itu saya jawab, Boleh. Dan Bisa. Bisa jadi pertanyaan ini diajukan oleh mahasiswa yang mungkin sempat kejedok dodok dengan dosennya, atau mahasiswa yang sangat terkesima dengan dosennya. Tapi, seringkali, di dunia nyata, banyak kali hal-hal aneh terjadi. Ini berkaitan dengan “salah” itu tadi. Bukan soal setan.

Dosen sangat boleh salah. Tentu dalam konteks tidak sengaja. Dosen bukan Tuhan. (Eh, kita sejak lahir memang didoktrin bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak bisa salah loh. Jadi, kalau berbeda dengan asumsi ini ya berarti kalimat saya diabaikan saja). Lah, lihat saja saat lebaran, atau hari besar agama lain, kan pada minta maaf. Pada kesalahan yang dilakukan. Yang saya asumsikan, harusnya tidak disengaja dong. Kalau sengaja bikin salah ya dikeplak dulu, kok enak, sengaja bikin salah terus minta maaf. Hehehe. Orang nyolong aja sering dibakar ampe mati. Loh kok minta maaf bilangnya atas kesalahan yang sengaja dilakukan.

Bagi saya, dosen itu medium penyampai ilmu. Dia akan tergantung bagaimana dia mendapatkannya, dimana dia mendapatkannya atau apa yang dia dapatkan. Bisa jadi dan sangat mungkin jadi, dosen membaca buku yang sama dengan mahasiswa. Sumber yang sama. Yang beda bisa jadi kapan dan bagaimana dia mengolah sumber itu. Lha, buku aja bisa diralat, masak dosen ndak bisa salah.

Mahasiswa atau dosen sendiri seringkali menempatkan posisi dosen sebagai untouchable. Ndak tersentuh. Apalagi dijemek-jemek atau digrepe-grepe. Tambah ora oleh. Ndasmu. Mungkin memang, ada masa sial saat mahasiswa berhadapan dengan dosen yang tak mau disalahkan, walau sebetulnya dia salah. Ada beberapa alasan kenapa ada dosen seperti itu:

Satu, dia lagi kurang piknik. Pikiran mumet. Otak njelimet. Hutang makin banyak. Gaji gak naik-naik. Proyekan diembat orang. Jadinya tidak bisa berpikir jernih. Emosian. Bisa juga karena dia lagi M. Mumet. Kalau sudah begini, ya cari cara meyakinkan dia dengan tepat. Jangan langsung asal tembak. Kayak main layangan lah. Ulur Tarik, ulur Tarik. Kalau mahasiswanya sama ngototnya ya percuma.

Kedua, mungkin memang mahasiswanya yang salah. Tanpa didukung argumentasi yang bagus pula. Dosennya punya argumentasi dan alasan yang kuat. Sesabar apapun dosennya, kalau mahasiswanya sudah salah dan ngeyelan ya biasanya memang berakhir tragis pada mahasiswa dan dosen. Si mahasiswa diskak di kelas, dosen dicelatu di luar kelas. Untung dosen mahasiswa ndak boleh bawa celurit di kelas. Kalau kayak begini, dosennya juga musti sabar. Mahasiswanya musti nyadar. Tapi kalau masih lanjut, ya sudah, musti ada yang kasih celurit ke masing-masing pihak. *eh

Ketiga, mungkin dosennya memang punya pikiran kayak tembok. Atos. Ndak mau disalahkan. Ini seringkali berkaitan dengan reputasi. Atau lebih parah, gengsi. Ini adalah dosen yang punya prinsip “Dosen tak pernah Salah. Kalau dosen Salah, kembali pada kalimat pertama”. Berhadapan dengan dosen begini ya, saya sih menyarankan mahasiswanya ngalah. Karena dalam situasi dan budaya di kelas di negeri ini, saya kok tidak yakin kalau dosen tersebut akan mau menerima. Mengalah, bukan berarti kalah kan? Mengalah kan bisa berarti tidak menang. Eh, lak podho wae. Yang saya takutkan adalah collateral damage-nya. Yang kena imbasnya teman anda yang lain. Atau hal-hal yang ndak ada hubungannya dengan akademis. Ndak, ndak bakal anda diancam “Awas, lu.. Kalo macem-macem, gua tunggu lu di enggok-enggokan. Awas lu..Gua Telen, garuk-garuk lu..!”. Tapi kalau anda merasa cukup mampu menampung konsekuensi ajaib yang akan terjadi, ya ndak apa-apa. Bantahlah terus. Ini memang sulit. Kayak penyakit. Harusnya dosen kayak begini ya diamputasi. Tapi, selamat datang di dunia nyata.

Iya, mungkin anda akan merasa kenapa harus mahasiswa yang mengalah. Sulit menjelaskan. Tapi kondisi saat ini, menurut saya lo lah, agak sulit dan kurang memberikan peluang anda untuk berbantahan dengan keras. Kita sejak awal didoktrin untuk taat, manut. Debat konstruktif tak diajarkan.

Tapi, jangan menyerah, lalu kemudian anda ngambek, banting tas, masuk kamar, banting pintu sambal melengos, buang poni. Jangan. Itu nanti mirip sinetron picisan. Apalagi sambil teriak membelalak, “Apaaaaaa? Kecelakaaaaan?” Lalu telpon dibanting, meja dibuang sambal nangis kayak matanya diculek bawang merah sekilo.

Tapi ada juga mahasiswa yang sangat terkesima dengan dosennya. Mungkin kalo dosennya bilang, dalam hitungan ketiga anda akan tertidur, langsung ngorok deh. Atau “begitu anda mendengar tepukan tangan saya maka isi kepala anda akan hilang.” Emangnya zombie?. Saking terkesimanya, semua penjelasan dosennya dimakan mentah-mentah. Kayak kambing. Ndak dicerna atau tidak dipertanyakan. Tidak semua penjelasan dosen itu benar begitu saja. Ilmu pengetahuan itu dinamis. Buku yang dibaca sama. Bisa jadi interpretasi berbeda. Itulah dialektika terjadi. Untuk belajar sama-sama. Sebagai sebuah proses.

Lihat sekitar anda. Lihat mata kuliah yang anda ambil. Akan selalu ada dosen yang dengan sewajarnya berkata, “Iya, maaf, saya salah. Pendapat kamu benar. Buku itu memang tidak menjelaskan .. blab la bla”. Pasti akan ada selalu dosen yang dengan senang hati berkata, “Wah, maaf. Saya belum tahu masalah itu. Mungkin kamu bisa membantu menjelaskan apa yang dimaksud… blab la bla”. Pasti ada. Dunia tak melulu hitam.

Persoalannya, sering juga terjadi, dosennya siap diskusi, mahasiswanya cuman bisa mantuk-mantuk. Entah tak mengerti atau tak perduli. Sama saja hasilnya. kalau sudah begini,

Jadi, mulailah liat dosen-dosen anda. Seperti apakah dia….

Perth, 12 juni 2015