Tag

, ,

Saya palinng benci mengajar pagi. Apalagi kalau pagi sekali. Atau amat sangat pagi sekali. Pernah teman memberi nasehat begini, “Kalau mau mendapat banyak rejeki, ya bangun dan berangkat kerjalah pagi-pagi. Jika perlu, sebelum ayam berkokok,”. Wow. Untuk apa saya bangun dan pergi sebelum ayam berkokok? Apa ayamnya mau saya bangunkan begitu? “Ayaaaam..ayo bangun, segeralah berkokok,”. Apa jadinya dunia ini jika semua orang bangun pagi sebelum ayam berkokok? Bisa-bisa si ayam akan mendatangi warung sate dan menyerahkan diri, “Hidupku tak berguna lagi. Semua bangun pagi. Sebelum aku berkokok, lagi. Hidupku tak berarti.”. Kasihan ayamnya. Saya membayangkan melihat pemandangan tiap pagi, semua orang berjalan mengendap-ngendap ke kandang ayam, dan berteriak, “Baaaaa” mengagetkan si ayam yang sudah bersiap untuk berkokok. Rusak jagad per-ayaman.

Jadi, saat rapat membagi jadwal, saya selalu berusaha menghindari jadwal mengajar pagi. Tapi entah kenapa, konspirasi macam apa yang terjadi, seringkali saya mendapat jadwal mengajar pagi. Seharusnya saya menolak. Seperti yang banyak dilakukan orang lain. Lah, orang lain aja milih hari ngajar, masak saya ndak boleh milih jam mengajar. Malah ada yang ndak ngajar tapi tetap dapat gaji. Enak sekali. Tapi sudahlah, ndak usah iri hati. Akhirnya saya terima, walau dengan hati sakit. Sakit sekali… Mengajar pagi? Azab macam apa pula ini? Saya lebih baik disuruh nonton film berkali-kali daripada disuruh ngajar pagi.

Mengajar pagi berarti membuat saya memutar jam kerja sehari sebelumnya untuk mempersiapkan semua. Iya, persiapan. Dosen kalau mengajar ya perlu persiapan, dul. Namanya orang pentas, manggung, ya butuh persiapan. Orang mau karaoke-an aja perlu persiapan. Jangan disamakan dengan mahasiswa yang bangunnya 15 menit sebelum jam kuliah, kirim pesan kepada teman, nanya ini jadwal kuliah apa, baru berangkat. Malah ada yang lebih parah, sampai kelas baru nanya temannya, ini kuliah apaan. Nah, persiapan. Kalau mengajar pagi, saya otomatis melakukan persiapan sehari sebelumnya, di kampus. Bikin power point, bikin materi, umbah-umbah. Saya tidak pernah percaya diri saya untuk membawa dan menyiapkan semua itu di rumah. Tidak akan berhasil. Yang ada saya bakal tidur atau nonton film. Saya pernah bersombong-sombong membawa materi ke rumah. Besoknya, semua ketinggalan. Kalau sudah ketinggalan, saya males balik lagi ke rumah.

Rumah saya jauh. Iya banget. Kata teman, rumah saya dekat Italia atau Paris gitu. Saking jauhnya. Dan saya lebih sering naik motor. (dulu sempat bawa kendaraan kantor, yang hasilnya membuat saya lebih siang sampai kantor karena macet). Rumah saya di sidoarjo. Iya, kota yang trotoar sebelah kirinya berwarna merah dan sebelah kanannya berwarna hijau. (Eh, udah dibenerin belon ya, kekonyolan itu?). bagi yang belum tahu, Sidoarjo itu kota penyangga-nya Surabaya. Tiap pagi dan sore kita akan melihat seperti segerombolan lebah keluar dan kembali ke sarang. Okay lupakan itu. Paling tidak kota ini sudah punya bioskop. Dua bioskop. Haha..bagi saya itu bagian dari peradaban.

Rumah jauh ini akan membuat saya bangun pagi itu setara dengan mahasiswa yang harus mengerjakan tiga essay sepuluh halaman dalam waktu 2 hari. Beraaaaaat banget. Jika sudah berhasil bangun pagi, saya harus menenangkan tiga elemen penting tubuh saya. Satu, otak. Saya harus bikin kopi. Demi pagi yang berarti. Kemudian, kopi bereaksi, saya harus menenangkan elemen kedua; perut. Saatnya mengunci diri sambal mengambil koran pagi di WC. Setelah perut tenang, elemen ketiga: perut lagi. Saatnya sarapan. Makan pagi. Jika tak sempat masak, tinggal panggil para peragawan dan peragawati yang tiap pagi keliling depan rumah sambal menyemburkan beragam bunyi. Mau roti, mau mie…, bahkan kalua mau makan sapu lidi ya ada. Tiga ritual itu wajib setiap pagi. Bayangkan apa yang terjadi kalau saya mengajar pagi. Buyar semua. Paling hanya sempat kopi. Boker dilakukan di kampus. (atau di kelas?). tak nyaman buat saya. Ritual ini harus dilakukan secara seksama dan dalam tempo waktu senyaman-nyamannya. Serius. Situ mau, pas situ boker, pintu digedor-gedor mahasiswa disuruh masuk kelas?

Dan, sebetulnya, setelah melalui semua tahapan ini, yang bikin saya sebal sekali adalah, saat sudah masuk kelas, saya menemui mahasiswa yang duduk dengan tatapan lesu, kuyu. Karena, saya yakin, sebagian besar dari mereka juga menganggap kuliah pagi itu menyebalkan sekali. Saya bisa bayangkan betapa jengkelnya mereka saat sudah datang pagi, dosennya tak datang. Begitu juga perasaan dosen, sudah berjuang datang pagi, di kelas hanya ada sebiji.

Jadi, saatnya mungkin membuat tagar #berhentikuliahpagi #demipagiyangberkualitas.

Perth, 11 Juni 2015