Tag

,

Sebagaimana mahasiswa punya hal-hal yang mereka benci dari dosen mereka, saya sebagai dosen juga punya daftar yang saya benci dari mahasiswa saya. Bukan kenecian personal. Hanya hal-hal yang sebenarnya saya tidak suka, tapi kadangkala pasrah saja kalau itu terjadi. Apa sajakah itu?

  1. Jadwal kuliah sudah diundur 30 menit tapi mahasiswa tetap datang 30 menit lebih lambat dari jam yang sudah diundur

Saya bukan dosen rajin. Saya termasuk kategori dosen pemalas. Malas bangun pagi, malas bikin penelitian, malas mengajar pagi, malas ngajar banyak, malas cuci motor, malas bela Negara, malas bersihin jalan raya, malas ngejar copet. Iya. Malas lah pokoknya. Karena malas itulah saya mencoba memahami betapa sengsaranya kuliah jam 7 pagi, saat ayam jantan saja mungkin masih belum siap berkokok (kenapa yang berkokok selalu ayam jantan? Kenapa pagi hari? Adakah yang mau meneliti?). jadi, saya mencoba empati. Maka saya mengajak mahasiswa untuk masuk kuliah pukul 7.30. Asumsinya, semua senang dan riang. Asumsinya, semua datang dong. Ndak pake terlambat. Ternyata, asumsi saya salah sama sekali. Tetap saja ada dan banyak yang terlambat. Pelissssssss. Ini memang masalah jam berapapun mulai kuliahnya, datanglah 30 menit sesudahnya…

2. Datang terlambat, ketok pintu, nanya boleh masuk apa ndak.

Kesengsaraan saya berlanjut. Setelah makan hati – untung bukan makan beras plastic – menunggu agar mahasiswa di kelas penuh. (Saya paling males kalau kelas yang terdaftar 25 terus yang masuk dua orang. Mending saya ajak main monopoli atau sekalian main gaple). Selalu ada drama sesudahnya. Biasanya pas sedang semangat berceloteh, tiba-tiba pintu diketok. Sopan dong… Saya juga jadi berhenti (dan biasanya kalau sudah berhenti tiba-tiba, saya lupa kata terakhir saya apa). Terpaksa buka pintu. Berharap yang datang itu petugas administrasi yang membawa kabar, “Mas, kredit motor sampeyan dianggap lunas..”. ternyata, ada mahasiswa dengan sopan bertanya “Saya terlambat, saya boleh masuk ndak?”. Mau jawab apa coba. Dijawab tidak, nanti dibilang tidak aspiratif. Bagi saya, telat ya telat aja. Kalau mau masuk, ya masuk aja. Kalau ndak masuk ya silahkan. Bukan urusan. Tapi ini masih ndak apa-apa sih. Yang saya syerem tuh kalau pintu diketok tapi orangnya ndak ada, atau cuman lihat kepala orang doang… itu mah syerem…

  1. Angkat Tangan, Minta ijin ke WC.

Interupsi yang bikin keki itu juga antara lain karena ada mahasiswa yang angkat tangan. Mukanya serius. Saya berharap, mahasiswa ini akan berkata, “Saya tidak setuju dengan uraian tadi, mas. Menurut buku karya Anu dianu, teori ini menyebutkan..bla bla bla”. Sayang sekali, yang ada adalah, “Mas, saya ijin mau ke kamar mandi”. Nah, begini ini saya mau jawab apa? Masak saya larang. Nanti kalau ngompol atau berak di kelas piye? Atau saya jawab, “Kamu berani sendirian? Perlu diantar sekelas?”. Atau ada lagi, pertanyaan yang sopan, “Mas, saya boleh ke belakang?”. Lha, situ bukannya sudah duduk di kursi paling belakang? Mau jebol tembok?. Udah, ke WC ya ke WC aja, gak usah bilang-bilang minta ijin segala. Nanti saya gak kasih ijin, emang situ mau pake botol? Lain lagi kalau situ mau ke WC tapi sambal ngajak teman. Sekelas. Atau teman lain. “Mas, boleh ndak saya ke WC bareng teman saya yang ganteng ini,” Atau yang lebih parah. “Mas, mau ke WC sama saya ndak..?”

  1. Di kelas, ngobrol sama teman, kedengaran keras.

Ini kebangetan. Saya selalu menyampaikan di awal, silahkan bawa minuman, atau permen, buat menghilangkan kantuk. Tentu dalam bentuk dan jumlah wajar. Kalau situ bawa Baileys ke kelas, ya ikutan dong. Masak situ doang yang minum. Atau bawa nasi kuning, ya beda kasus. Prinsipnya, buat anda nyaman walau harus mendengar kuliah saya yang membosankan. Secara ekstrem, saya lebih suka mahasiswa saya tertidur sendiri daripada ngobrol. Nah, mahasiswa yang ngobrol inilah yang saya benci. Kalau ngobrol sendiri sih ndak masalah. Saya tinggal telepon orangtua anda dan bilang, “Pak/Bu, anak sampeyan kayaknya gila deh. Masak di kelas saya, ngobrol sendiri…”. Silahkan ngobrol dengan teman anda. Tapi jangan ganggu kelas dan situasi kelas. Karena, kalau perasaan saya sedang kejam, saya bisa memberikan hukuman yang akan membuat anda menyesal masuk kelas saya. Hahahahaha (pake echo…)

  1. Ditanya apapun, tidak ada yang menjawab.

Ini pernah saya bahas khusus di https://satryawibawa.com/2015/05/22/kenapa-dosen-suka-bertanya-ada-yang-tidak-paham-seri-dosen-juga-manusia-sepertinya Tapi memang menyebalkan kalau ditanya apapun, tidak ada yang memberikan respon. Saya jadi tak tahu apakah mahasiswa saya paham atau tidak. Tidak ada pertanyaan yang bodoh. Pertanyaan bodoh adalah pertanyaan juga. Ada dua asumsi ekstrim yang saya pakai, yaitu ada yang takut kalau bertanya itu dianggap bodoh, lalu ada yang takut dianggap sok pintar kalau bertanya. Dua-duanya bikin saya mati gaya. Kalau tidak, berikanlah respon atau sinyal bahwa anda masih hidup. Saya tidak mau kalau tiba-tiba anda semua berubah menjadi zombie dan menyerang saya…. Saya hanya menyukai zombie dalam film. Tidak dalam kehidupan nyata. Lagipula, biasanya kalau kelas bisu begitu, berarti memberikan peluang bagi saya memberikan tugas atau quiz. Lalu, apakah kalau mahasiswa bertanya itu berarti saya tak akan memberikan tugas? Wah, ya tidak dong. Pertanyaan macam apa pula itu? Tugas ya tetaplah… (sigh)

Nah itu baru lima yang saya tulis. Lainnya masih banyak sih. Misalnya saya ndak suka kalau mahasiswa saya menyebut saya ganteng. Itu fitnah soalnya. Atau menyebut saya manis, saat saya tahu dia dicekal ikut ujian karena absen 12 kali dari 14 pertemuan. Atau tiba-tiba menunjuk saya saat ada permintaan volunteer berenang di laut (saya ndak bisa berenang, tahu..!)

Perth, 10 Juni 2015