Tag

, ,

Sebetulnya, kalau soal alasan, dosen pasti tak akan sulit mendapatkannya. Kadang saya merasa, dosen memang dibayar untuk memberikan alasan. Termasuk jika ditanya soal “Kenapa Dosen Harus sekolah?”.

Mungkin dosen itu perlu liburan. Sungguh. Bagi dosen tak berpunya seperti saya, sekolah lagi sebetulnya adalah sebuah liburan panjang. Dibiayai pula. Menyenangkan bukan? Otak saya yang pas-pasan tak meyakinkan orang jika menjawab tujuan sekolah lgi itu untuk bertambah pintar. Dibiayai orang, apalagi dibiayai pemerintah negara lain, dengan kompensasi saya harus melakukan penelitian. Tidak memakan anggaran negara sendiri pula. Jadi, saat saya sibuk memlih uni dan negara untuk tujuan sekolah, sebetulnya saya sedang memilih tujuan berlibur. Tinggal mencari mana negara yang mau membiayai liburan saya.

Jadi, dosen harus sekolah, karena mau berlibur. Dibiayai. Horeee… Libur telah tiba..libur telah tiba (Nyanyi-nyanyi, kibas poni)

Mungkin dosen itu perlu alasan yang terdengar akademis. Dosen kalau ditanya, kadang sulit menjawab. Misalnya, “Kamu lagi ngapain sekarang?”. Kalau dijawab, “Oh lagi sibuk ngajar”. Bisa-bisa dijawab, “Yo pancen tugasmu iku. Mosok sibuk umbah-umbah”. Atau menjawab, “Lagi sibuk mroyek”. Yang ada, dicerca,”Ooo..mroyek thok. Duit thok diuber. Mahasiswa dilalekno, kuliahe ditelantarno,”. Gak enak bukan? Atau menjawab, “Lagi di mall”. Pasti dicela lagi, “Heh, nge-mall thok. Gaji buta ya”. Salah maneh. Atau, “Lagi penelitian..” Dijawab, “opo maneh sing diteliti? Kurang gawean tha?’. Nah, kalau jawab, “lagi sekolah..”. Biasanya susah dibantah. Itulah juga saya menduga kenapa mahasiswa jomblo betah kuliah. Pasti alasannya kurang lebih serupa.

Jadi, sekolah lagi adalah sebuah alasan akademis. Walau, saya punya teman di Bali, yang selalu akan punya jawaban terhadap semua alasan. Dia akan berkata, “Ngudiang sekolah buin. Suba liu gati ada nak dueg. Nyen kel ganti? Presiden suba ada, menteri liyu” (ngapain sekolah lagi. Sudah banyak orang pinter. Siapa yang mau kamu ganti? Presiden sudah ada. Menteri sudah banyak). Haha..

Mungkin dosen itu perlu tempat bulan madu gratis. Iya, saat diterima sekolah S2 dulu, saya menelpon pacar saya dan bertanya, atau mungkin menodong, “Aku mau sekolah lagi. Kamu mau kawin sama aku ndak?” Pertanyaan langsung dengan variable kalimat yang sebetulnya tak punya hubungan sebab akibat. Anehnya, pacar saya itu langsung mau. Hihihihi. Akhirnya, semua jadi serba agak mendadak. Sampai seorang kawan jauh, saat resepsi pernikahan, berbisik, “Sudah jadi berapa bulan? Kapan lahiran?’. Huahahahahaha. Jadi, saya berbulan madu di negeri orang. Biar kere, bulan madu tetap di luar negeri. Akhirnya, jadi tempat bikin anak. Jadi, sekolah biar bisa bikin anak. Hahahaha. (maaf, kalimat terakhir hanya ditujukan kepada anda yang sudah dewasa. Jomblo tidak disarankan baca. Ketimbang perih di hati)

Jadi, sekolah lagi adalah sarana bulan madu…Gratis lagi.

Mungkin dosen itu perlu cara untuk menguruskan badan. Well, jalan tiap hari, rutin dua kilo. Makan diirit biar hemat. Makan buah yang banyak, bukan karena biar sehat, tapi karena buah yang pling murah. Susu rutin tiap pagi, terutama kalau sudah nemu obralan sedolar. Secara berkala tiap bulan jalan kaki keliling perumahan orang lain buat ambil barang bekas yang sudah dibuang pemiliknya.Sehat dan menyegarkan. Tetap dibayar. (tapi, saya sendiri masih mempertanyakan alasan ini, karena sampai saat ini, saya masih belum bisa membuktikan bahwa badan saya bisa mengurus. Yang ada tambah seksi, semlohi dan curvi)

Jadi, perlu alasan apa lagi? Itulah jawaban kenapa dosen harus sekolah lagi.

Perth, 9 Juni 2015