Tag

, , ,

Saya teringat pertanyaan satu mahasiswa saya saat saya mengabarkan bahwa saya harus sekolah tahun berikutnya. Itu saat dia mengumpulkan bab 1 sementara deadline skripsi tinggal satu minggu lagi. Saat itu pertanyaan itu saya anggap pertanyaan palsu. Mahasiswa mana yang tak senang dosennya pergi? Apalagi dosen yang hobinya dan prinsip hidupnya: Tugas Or Die. Tapi, saat ini pertanyaan itu terngiang kembali. Saat saya bengong mematung di depan laptop, nanar menghadapi revisi supervisor saya.

Kenapa dosen harus sekolah?

Kenapa ya? Sebetulnya jawabannya banyak. Tapi saya ndak tahu mana yang cocok.

Mungkin karena dosen itu bosan dengan kehidupan dan rutinitasnya. Bayangkan, bangun pagi, berangkat ke kampus untuk mengajar jam 7, karena rumah jauh, harus berangkat jam 6. Bagi saya jam 6 itu, ayam pun masih ngorok. Ndak usah protes, saya tahu banyak yang berangkat lebih pagi. Makanya saya sebut, BAGI saya. Sampai di kampus jam 6.30, pesan sarapan di kantin. Jam 7 ke kelas, mahasiswa belum pada datang. Balik lagi ke kantor. Jam.7.15, balik ke kelas. Hanya ada dua mahasiswa, satunya perempuan yang menatap saya dengan pandangan jengkel, mungkin katanya “Dosen pemalas, jam 7.15 baru masuk kelas. Aku sudah di kelas jam 7.05”. Satunya lagi laki-laki, muka kusut, mata merah, tanpa tas dan buku apapun, menatap saya dengan jengkel “Cuk, dosen iki, wes dibelani mlayu, jam 7.15 tas teko, nggatelli!”. Dua orang di kelas dengan tanpa antusias akan membuat saya berkata, “Tunggu 15 menit lagi ya”. Tiktoktiktok…7.30 ketambahan dua orang lagi. Jam 8 lengkap 5 orang. Begitu seterusnya tiap hari.

Jadi, studi lanjut, bisa jadi eskapisme luar biasa.

Mungkin juga karena dosen itu bosan secara periodik harus berdebat dengan menyusun jadwal dan berkata pada istrinya, “Sayang, semester ini aku akan mendidik penerus bangsa ini dengan lebih sering,” (Cih..bahasaku). istrinya nanar menatap jadwal mengajar tiap hari pagi sore, kemudian membalas, “Suamiku, kamu itu dosen apa murid SD? Masuk kok tiap hari? Teman kamu ada yang ndak masuk terus kok. Dan tetap dapat gaji yang sama,”. Kemudian, secara berkala, dengan gagah berani, si dosen datang ke rumah membawa 20 skripsi. Iya, 20. Tebal semua. Kamus saja kalah. Dia berkata, “Istriku, malam ini aku ngelembur mengkoreksi 20 skripsi ini,”. Si istri membalas, “Okay, oh iya, itu tadi aku beli CSI baru, lengkap satu season.”. Akhirnya, malam itu, 20 skripsi itu, tergeletak di pojok ruangan menemani sang dosen menonton CSI satu season.

Jadi, studi lanjut bisa berarti sederhana. Tak lagi mengkoreksi skripsi.

Mungkin juga karena dosen itu bosan rutinitas jawaban mahasiswanya. “Smester depan saya lulus mas”. “Minggu depan saya kumpulkan bab satunya mas”. “Saya janji tak akan mengulangi copy paste ini mas”. Janji yang sama yang berulang setiap kali. Perlu sebaiknya mahasiswa mengubah struktur kalimat. Misalnya “Semester depan saya lulus” diganti menjadi “Semester depan saya mungkin lulus” atau “Semester depan saya ingin lulus”. Jadi dosa-nya tak banyak. Ada. Tapi tak banyak.

Jadi, studi lanjut bisa berarti mengurangi dosa atas janji. (tapi loohhh..yang berjanji siapa nih?)

Mungkin juga karena si dosen bosan menghadapi pandangan bosan mahasiswanya. Pandangan si mahasiswa yang bertemu si dosen sejak pagi sampai sore di empat mata kuliah yang berbeda, dan akan berulang setiap hari selama seminggu. Mungkin si mahasiswa akan berkata pada pacarnya, “Dik, mimpi-mimpiku setiap hari ini dipenuhi dosenku. Wajahnya menggantikan wajahmu. Aku..aku..sedih,”. Si mahasiswa menangis di pelukan pacarnya. Pacarnya hanya menepuk-nepuk punggungnya. Katanya, “Tenang, mas. Penderitaanmu akan berakhir saat dia pergi nanti,”

Jadi, studi lanjut bisa berarti mengurangi kemungkinan mahasiswa bunuh diri karena bosan.

Perth, 8 Juni 2015