Tag

, ,

Negeri ini sedang ramai (lagi) soal gelar. Ini bukan isu baru. Sebenarnya. Tapi, entahlah. Ini akan tetap terjadi jika orang masih mendewakan gelar.

Gelar hadir dalam beragam bentuk. Yang relevan maupun tidak relevan. Saya sejak lahir sudah ada embel-embel sederet kata yang katanya gelar. Nama lengkap saya I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa. (aslinya, I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa Manis Mempesona Menawan Hati. Cuman, demi kerendahan hati, saya singkat). Bagi saya itu bagian dari nama. Walau jadinya aneh. Bagi yang masih menyukai tradisi feodalistik, barangkali akan menyukainya. Saya risih sebenarnya. Menghormati kok karena nama. Ada yang bilang, saya keturunan bangsawan atau raja. Ah, sudahlah. Saya tak perduli itu. Saya cukup mengetahui orang tua, kakek nenek langsung, sudah sangat membanggakan. Tak perlu lagi embel keluarga raja. raja mana pula.

Nama saya memang panjang. Sangat. Sebetulnya, nama asli saya kan Satrya Wibawa. Yang kemudian saya temukan nama itu berasal dari kalender Bali. Hahaha. Padahal berat loh dengan nama itu. Saya kepenginnya nama yang sederhana dan ringan. Bradd Pitt misalnya. Atau George Clooney. (Sudah jangan protes!). Sementara huruf I menandakan saya pria. Sejati. Tulen. Jadi ndak ada hubungannya dengan saya anak keberapa. Karena ada yang sempat meributkan itu. “Berarti anaknya bapakmu banyak dong..sampai I” katanya. Ngawur. Memangnya keluarga saya keluarga alphabet? Yang menandakan saya anak keberapa, ya Ketut. KETUT. Yang menambahkan N saya tabok. Saya kutuk ndak bisa kentut setahun! Ketut artinya urutan ke.. hmm..ini juga masih perkara. Setahu saya urutan keempat, sekaligus menandakan “berakhirnya” dinasti keperanakan dalam keluarga saya. Analisis ngawur saya adalah, ini KB Kultural. Tapi gagal, karena setalah itu saya masih punya adik perempuan. Hehehehe. Nanti kalau punya waktu saya tanyakan. Kalau ingat.

Nama panjang ini di banyak kasus, malah merepotkan. Misalkan saja mengisi formulir. Untung di negeri ini kolom nama masih diberikan ruang yang cukup panjang. Tapi tetap saja merepotkan. Nama saya jarang lengkap. Jarang benar. Apalagi saat hidup di negeri lain. Membingungkan. Kadang saya dipanggil, Mr Wibawa. Kadang, Mr I. untung bukan Mr X. Mayat tak dikenal dong. Kadang kekacauan membawa berkah. Di Surabaya, orang memanggil saya IGAK. Singkatan semua. Tapi baguslah. Awalnya banyak yang menanyakan hubungan saya dengan penyanyi. IGA Mawarni. Jawaban saya ‘default’. Saudara beda nasib. Beda rupa juga. Dia rupawan. Saya menawan.

Nah, itu baru soal nama. Sekarang, gelar di depan dan di belakang nama dikejar-kejar. Tentu ini adalah apresiasi dari kerja keras seseorang menempuh pendidikan. Sebagai bagian dari penandaan. Tidak apa-apa sebenarnya. Wajar. Menjadi tidak wajar kalau dikejar sebagai yang utama. Bukan esensi keilmuannya. Akhirnya jadi tak wajar. Apalagi langsung dikaitkan dengan pakar dan kepakaran. Gelar menjadi relevan jika ditempatkan sesuai porsinya. Kepakaran, menurut saya tak otomatis dengan gelar yang melekat. Kecuali beberapa bidang keilmuan yang memang harus memerlukan untuk ditampilkan agar secara yuridis, sesuai dengan pekerjaannya. Misalkan, dokter, tentu harus memasang gelarnya. Dr,Anu, SpB apa misalnya. Tentu aneh kalau ada nama IGAK S.Sos. membuka praktek umum dan melayani suntik KB. Mau?

Secara pribadi, saya berusaha sebetulnya untuk mengurangi menampilkan gelar (akademis) yang saya punya pada tempat atau peristiwa yang tidak relevan. Misal papan nama. Atau kartu nama. Atau papan tulis. Apalagi, setelah menempuh master, saya memilih gelar yang tak lazim untuk lulusan media dan komunikasi. (so, prinsip “beda” ini saya terapkan juga). Saya beruntung karena waktu itu, universitas saya sedang melakukan beberapa perubahan akademik. Waktu lulus, saya ditanya, untuk bidang ilmumu, ada pilihan, MA, atau MCA. Saya pilih MCA. Unik dan lumayan asyik kalau dijadikan guyonan. Apalagi sudah ada terminology MCK – Mandi Cuci kakus (Ini aneh, mandi kok cuci kakus…). Nah, kalau saya MCA, mandi Cuci A…nah ini bisa An*s bisa juga Anu.. wiwkiwkiki. Keren kan?). Eh sudah, jangan diperpanjang soal ini. Kalau sudah lulus S3 ini kayaknya saya pilih gelar yang mirip. DCA. DiCuci A…)

Mendapatkan gelar ini memang penting. Sekali lagi sebagai penanda akhir. Saya tidak menyebutkan gelar tidak penting. Tapi beberapa orang melihat dari perspektif yang berbeda. Gelar mutlak menjadi ukuran kesuksesan atau malah ukuran pembanding dengan orang lain. Bagi saya, punya gelar tak selamanya membuat kita lebih pintar dari mereka yang tak bergelar. Punya gelar Master, doctor atau professor tak harus membuat kita lebih tinggi dari yang lain. Gelar itu penanda akhir pada bidang ilmu yang kita tekuni. Atau malah pada satu subyek riset yang kita lakoni. Gelar, seringkali saya posisikan sebagai bonus. Bonus dari kerja keras kita sekolah.

Yang celaka seringkali memang ada orang yang sudah bergelar lengkap. (dalam dunia akdemis ya tentu S1, S2, S3) lalu menganggap dirinya menguasai semua. Orang lain cuman tahu entut. Ini orang yang hidup dalam fatamorgana. Kalau ndak fata ya morgan. Mending dihindari. Daripada sakit hati.

Kehidupan nyata tak bergantung gelar yang kita punya. Apalagi dalam relasi kolegial dalam satu departemen atau unit kerja. Bagi saya, gelar master yang saya dapat tak otomatis membuat saya lebih pintar atau diatas kolega saya yang belum S2. Lalu membuat dunia hanya milik saya. lainnya hanya numpang beol misalnya. Bagi saya omong kosong kalau ada yang seperti itu. Itu menurut saya feodalisme akademik keparat. Dunia akademik yang menerapkan feodalisme berarti sudah pada posisi sekarat. Tinggal nunggu jadi mayat.

Saya memperlakukan gelar sewajarnya. Tidak terlalu silau zing..zing..dengan orang yang bergelar. Apalagi banyak. Tapi mengapresiasi, bahwa dia sudah melalui proses sekian lama untuk mendapatkan itu. Karena gelar bisa bikin kebakar. Kalau sudah kebakar, habis semua. Nama pun tak punya akhirnya. Semua orang bisa dapat gelar. Tapi tak semua orang benar-benar pintar. Karena kadang, orang pintar pun tak bergelar. (asyiikk..bisa nemu rima)

kebakar

Perth, 4 Juni 2015