Tag

Sebagai dosen, saya tergolong orang yang emosional. Tidak sabaran. Untung saya jadi dosen. Coba saya jadi guru TK atau SD, pasti saya sudah dipecat karena menyuruh anak-anak itu membuat essay 10 halaman. Tapi, selama 14 tahun saya menjadi dosen, banyak hal yang saya pelajari. Iya, 14 tahun itu ndak ada apa-apanya bagi dosen senior yang sudah puluhan tahun. Saya kan masih junior. Imut pula.

Satu hal yang saya pelajari adalah adaptasi. Dalam hal ini, dengan teknologi. Kecepatan teknologi tak akan pernah bias dikalahkan oleh kecepatan manusia paling ahli sekalipun. Saya masih ingat betul, jaman saya mahasiswa, punya hape Motorola segede ulekan hibah dari kakak saya sudah cukup membuat bangga. Sebelumnya, punya pager dengan bunyi… titit..titit..(Saya suka bunyi ini..terasa sensasional), juga seakan membuat kita berada pada kasta tertentu.

Tapi kini, mahasiswa ke kampus dengan membawa teknologi yang saya sendiri belum tahu kapan keluarnya. Saya masih ingat betul, saat baru keluarnya Ipad1, seorang mahasiswa membawa alat itu ke kampus. Dan saya hanya bias membayangkan kapan bisa memilikinya. Nah, sekarang saat saya mampu membeli Ipad1, mahasiswa saya sudah membawa ipad3. Yang mungkin sekarang, dia sudah membawa applewatch. Saya cukup mengutak-atik Ipad1 saya sambil membawa apel malang tiga biji. Lumayan, apel 3.

Tapi, yang mau saya bahas bukan itu. Ini soal teknologi yang lain. Social media dalam segala bentuknya. Segala variannya. Beberapa kali di timeline saya beredar makian atau keluhan dari beberapa kawan. Beberapa diantaranya, mempersoalkan penggunaan social media. Ada kawan yang mempertanyakan soal kemampuan sebenarnya dari pengguna social media. Misalnya Instagram. Keluh mereka, “Kini muncul banyak fotografer dadakan. Semua diposting di Instagram. Banyak-banyakan like. Padahal, mereka tak mengenal teknik fotografi. Sok”. Atau, di facebook. “Pamer melulu kerjanya. Kemana dipamerin. Foto dipajang. Be’ol dipamerin”. Atau foursquare, “kayak traveller beneran saja. Dikit-dikit check in, Dikit-dikit pamer foto,”. Banyak keluhan serupa. Saya adalah pengguna social media. Mungkin termasuk heavy user. Saya punya akun di banyak social media. Itu adalah media saya.

Iya, bagi saya, social media adalah alat. Seperti halnya televisi, radio atau koran. Kenapa harus memaki?. Bedanya adalah, media ini memberi saya kuasa penuh bagi saya sendiri. Itukan prinsip dasar social media. Saya menjadikan diri saya prosumer. Produsen dan Consumer. Instagram bagi saya bukan tempat saya menunjukkan ke-soktahuan saya soal fotografi, tapi lebih kepada media saya menuangkan perjalanan imajinasi visual saya. Bagaimana mata saya, melalui telepon genggam menangkap sebuah obyek. Facebook adalah “site of memory” dan “site of history”. Untuk berbagi dan berinteraksi. Tak lebih. Tentu, saya harus paham betul cara sehat bersocial media.

Itu semua media. Yang harus saya kuasai. Karena saya menyadari, media ini akan menjadi penting bagi kehidupan ini. Tentu jika diberdayakan dengan sehat dan wajar. Ini juga cara saya beradaptasi. Memaki tak akan membuat persoalan berhenti. Memaki akan membuat saya jadi pusing sendiri. Saya punya banyak kawan di instagram yang keahlian fotonya justru jadi makin tampak. Apalagi beberapa fotografer (yang beneran fotografer ahli) yang juga punya akun Instagram, memberi masukan dan penilaian buat dia. Itu dia. Proses belajar yang tak akan mudah didapatkan dari cara konvensional.

Tapi, jikapun anda masih mengeluh. Gampang. Social media memberi kuasa penuh bagi kita untuk memaksimalkannya. Anda punya pilihan, unfollow, unfriend, block, atau apapun itu. Lakukan itu. Kuasa ada di tangan anda.

Tapi jika anda masih belum puas. Tampaknya anda harus menutup semua akun social media anda dan mulai menulis diari. Mungkin itu lebih berarti.

Beradaptasi. Hentikan memaki.

Perth, 3 Juni 2015

See..

See..