Tag

,

Tugas dosen itu lebih berat loh daripada mahasiswa. Jadi kalau mahasiswa mengeluh banyak tugas, mungkin karena belum berada di posisi dosen. Sueeerrr..biebeerrr.. Kenapa saya berani mengatakan seperti itu, ya karena saya dosen. Saya waktu mahasiswa juga pernah mencaci dosen saya (dalam hati tentunya), atau bergunjing dengan sesame teman penderitaan tentang salah satu dosen. Atau semua dosen. Sudahlah, saya tahu, bahan cacian, kutukan, dan segala sumpah serapah mahasiswa pasti ada nama dosen dalam salah satu list penerimanya. Atau mungkin satu-satunya. Apalagi bagi mereka yang ndak punya pacar.

Misalnya saja, mahasiswa, secara kepantasan saja, paling pol hanya mengingat dan mengenal nama 20 dosen saja. Minimal di prodi sendiri. Kalau sering bergaul beibeh, mungkin lebih. Atau kalau sering kesasar kelas, lebih banyak lagi. Dari dua puluh itu, yang paling diingat tentu dosen yang namanya paling sering terdengar. Jadi, berbahagialah anda dosen seleb. Berkat media, nama anda terkenal dimana-mana. Saya waktu mahasiswa dulu, sangat familiar dengan beberapa nama dosen. Nama mereka ada di mana-mana. Di buku. Di media. Tapi, kok ya saya ndak pernah diajar mereka. (oh, itu nama dosen teknik rupanya). Jadi, popularitas dosen itu, hanya bisa dikalahkan tukang sedot WC atau badut untuk pesta. (Tukang sedot WC dan badut Pesta itu lebih massif loh)

Hmmm….sepertinya strategi tukang sedot WC dan badut itu pantas ditiru. “Butuh Dosen? Telpon IGAK Satrya di 081234 5678”

Kembali lagi soal nama.

Mahasiswa hanya menghafal 20 nama. Lhah, dosennya, harus menghafal minimal 100 nama untuk satu angkatan. Belum selesai, sudah muncul 100 lagi. Kalau dihitung, dalam empat tahun harus menghafal nama 400 mahasiswa. Apalagi ketambahan mahasiswa tua yang ndak lulus-lulus. Apa ndak modyar? Jadi, kalau ada dosen mampu mengingat banyak nama, ada beberapa kemungkinan: satu: ingatannya luar biasa (jelas saya tidak masuk golongan ini), dua: anda mahasiswa tua yang ndak lulus-lulus, tiga: anda mahasiswa yang tiap kuliah hanya masuk hari pertama, setelah itu ngilang. Empat; dosen anda cuman spekulasi manggil nama secara acak.

Lalu, mahasiswa yang cuman menghafal 20 nama mengeluh? Ah…lemah kali kalian.

Nah, walau si dosen sudah punya nama, mahasiswa yang ingatannya lemah atau memang sengaja, selalu puny acara menamakan dosennya. Sudah tahu namanya Pak Anu atau Bu Anu, tetap saja menyebut “Pak agama, atau Bu teori”. Taua kalau lagi jengkel karena habis dikasih hukuman bikin paper 30 halaman, langsung nama dosennya diganti, Pak “Juanc*k”, atau “Bu Nggat*li”. Iya kan… Saya saja namanya sering diganti, “Mas manis” atau “Mas keren”. Saya ndak marah loh. Cuman kalau disebut “mas Ganteng”…itu fitnah.

Lalu dosennya bisa apa? Membalas dengan mengganti nama juga? Mana bisa? Lha wong 400 orang. Gimana mau ganti namanya? Paling cuman salah panggil, “Coba kamu, Anton namamu kan?”. Si mahasiswa menjawab, “Loh, bukan pak, nama saya wati”. Nah… paling apes, dosennya memanggil “nak..” atau kalau saya “masbrowww.. atau mbakbroooo”. Jadi kalau bicara sesame dosen, jadi lucu kalau ternyata nama mahasiswa yang dimaksud berbeda. Gimana ndak, lha nama Tini misalnya, bisa ada lima Tini di satu angkatan, dan total 12 Tini di seluruh 4 angkatan. Nyebutnya pun harus spesifik. Misalnya Tini yang kumisan, Tini yang cantik, Tini yang Bengal. Kalau nyebut pacar malah parah. Lah, sebagain besar jomblo semua. Itu loh, Adi yang jomblo. Lah, kan banyak Adi. Jomblo pula semua.

Tapi kekacauan soal nama itu sangat terasa saat saya menggunakan social media sebagai alat komunikasi. Setiap bimbingan pasti harus ekstra keras menebak. Iya menebak. Siapa ya yang akun facebooknya bernama “Indah CantiexChelalu” atau “Iwan RhuphawanMeNaNTIhaRAPAN” itu. Foto di akunnya juga sama semua. Kadang isinya foto jilbaaaab semua, maklum jualan online jilbab. Atau foto kakii…semua, hobi self-foot. Di twitter juga sama. Kadang saya bingung saat akun @perjakajahanam mention saya “mas @igaksatrya, nilai PIK saya kok E. Padahal essay saya itu dari copy paste jurnal terkenal”. Hoi, perjaka jahanam iku sopo cuk? Atau saya juga bingung dengan mahasiswa yang SKSD dengan mengirimkan pesan melalui WA “Mas, besok bisa bimbingan? Saya dibawakan bukunya Little Piggy dong untuk referensi”. Udah gitu aja. Adanya cuman nomer. Ndak ada namanya. Mbok pikir aku nyimpen nomer semua orang tha? Mending. Ada juga dikasih penutup, “Ditunggu besok ya. Muaaaaaaach”.

Jadi, maafkan saya kalau saya ndak bisa mengingat semua nama mahasiswa saya. Bukan saya sombong tapi karena ingatan saya memang lemah. Lah, kalau semua saya minta pake name-tag juga repot. Mata saya ndak cukup kuat membaca tulisan kecil dari jauh. Apalagi masangnya pas di dekat dada. Ya repot toh. Saya bisa kena tampar. Tapi kalau dipasang name-tag besar, juga repot. Emangnya ospek?

Tapi saya percaya, proses mengingat nama mahasiswa itu akan menjadi lebih baik dan cepat saat membuat relasi antara keduanya seperti teman. Teman yang baik ada level respek di sana. Bukan semata hormat atau takut. Tapi respek. Bukan karena posisi dosen dan mahasiswa, tapi karena relasi yang saling berkontribusi. Jadi, itulah kenapa, saya lebih suka dipanggil mas. Bukan Pak. Apalagi Mbak.

So, kalau ada orang terkenal berkata, “apalah arti sebuah nama?” Saya akan protes, “Akeh cuk. Mbok pikir gampang tha?”

Perth, 27 Mei 2015